50-an Hotel di DIY Kini Mati Suri

Ilustrasi. - Freepik
03 Februari 2021 20:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY menyatakan sejumlah hotel dan restoran yang ada di DIY terdampak atas diberlakukannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tahap kedua.

Ketua DPD PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan tidak menampik soal hotel maupun restoran yang terkena dampak atas diberlakukannya PPKM tahap kedua yang diberlakukan oleh pemerintah. Sekitar 50-an hotel maupun restoran yang ada di DIY terkena dampak.

"Jadi, kalau dianggap gulung tikar ya monggo. Tapi, sebenarnya dengan ada pembatasan kedua ini, yang pertama ada 30 [hotel dan restoran] yang mati belum beroperasi lagi karena belum bisa menerima tamu. Bahkan, cash flow mereka habis. Yang kedua ini tambah 20, jadi total 50 hotel dan restoran. Bukan bintang ya tapi non bintang dan restoran kecil. Memang ada satu dua yang bintang," ujar Deddy saat dikonfirmasi pada Rabu (3/2/2021).

Ia menampik soal kabar ratusan hotel di DIY gulung tikar. Menurutnya, tingkat hunian yang berada di bawah angka 10 persen yang membuat ratusan hotel maupun restoran yang ada di DIY terangah-engah untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19.

BACA JUGA: GeNose Resmi Digunakan di Stasiun Tugu Jogja

"Saya meluruskan berita yang ratusan itu tidak benar. Kalau puluhan benar. Yang ratusan itu yang saya sampaikan 171 itu terengah-engah. Karena tingkat hunian saat ini di bawah 10 persen. Gitu lho. Nah, itu tidak berimbang dengan biaya operasional kita," imbuhnya.

Hampir satu tahun pandemi Covid-19 membuat hotel maupun restoran di DIY menanggung rugi. Dari 400 anggota di bawah payung PHRI DIY, sebanyak 171 anggota berjalan dengan kondisi terangah-engah.

"Ini kan hampir 1 tahun pandemi Covid-19. Nah 10 bulan ini sudah tombok terus kita. Kekuatan kita ada 5 jenis yang sering saya sebutkan masih kuat, setengah kuat, pingsan, hampir mati, dan mati. Dari 400 anggota,171 masih beroperasi terengah-engah. Yang 100-an memang memutuskan tidak beroperasi tapi menunggu pandemi Covid-19. Yang 50 menyatakan mati," jelasnya.