Prameks Bubar, Khawatir Paseduluran Pudar

Petugas Pengatur Kereta Api Stasiun Maguwo memberikan tanda jalan kepada masinis Kereta Api Prambanan Ekspres (Prameks) relasi Jogja-Solo, Jumat (5/2/2021) - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
10 Februari 2021 12:47 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Kereta Api Prambanan Ekspres atau Prameks relasi Jogja-Solo berhenti beroperasi hari ini, 10 Februari 2021. Gantinya adalah Kereta Rel Listrik atau KRL. Namun di balik hilangnya Prameks dari lintasan rel, seketika membuat para pecinta kereta disel jarak pendek itu merasa kehilangan sekaligus khawatir. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Bernadheta Dian Saraswati.

Aku sing nggowo peyek. Kowe nggowo opo?” [aku yang bawa peyek, kamu bawa apa]

Aku sega” [Aku bawa nasi].

Aku sayurane yo” [Aku sayurannya ya].

Aku sambel pecele wae” [Aku sambal pecelnya].

Begitulah Tri Yuni Iswati, 49, menggambarkan keseruan para penumpang Prameks yang berencana membawa sarapan pecel untuk esok hari. Makanan itu akan disantap bersama di atas sepur sembari menikmati perjalanan Jogja-Solo.

Bawa bekal makanan di atas kereta Prameks adalah hal biasa. Maklum, rata-rata pelaju ini harus berangkat pagi dan belum sempat sarapan. Mereka pun membawa bekalnya ke dalam gerbong, menyantapnya, dan membagikan kepada penumpang lain.

Dosen Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS) yang tinggal di Gowok, Depok, Sleman itu bercerita, di dalam gerbong Prameks, ada keseruan yang tak terlupakan. “Kita bisa bawa makanan dan makan bersama. Kita bisa duduk lesehan. Bisa kenal banyak orang,” tutur Yuni yang jadi pelanggan Prameks sejak 20 tahun lalu itu kepada Harian Jogja, Jumat (5/2/2021).

Baca juga: Ini Jadwal Lengkap KRL Jogja-Solo yang Gantikan Prameks Mulai Besok

Rasa solidaritas bahkan tumbuh berkat Prameks. Misalnya dari penumpang yang menawarkan diri untuk membantu membelikan tiket. “Ada yang mau dititipin untuk beli tiket jadwal paling pagi. Itu sangat membantu kami sekali,” kata Yuni.

Rasa kehilangan akan keseruan di atas gerbong Prameks itu pun muncul menjelang masa akhir kejayaan kereta yang beroperasi sejak 20 Mei 1994 itu. Terlebih peraturan di KRL yang melarang penumpang berbicara, apalagi makan dan minum, akan membuat keseruan makan bersama seperti di Prameks tak akan bisa dirasakan.

“Yang menjadi tidak enaknya [dari adanya KRL] adalah habit ngerumpi ramai-ramai kami [Pramekers] yang akan hilang. Kami kehilangan. Bukan badan keretanya, tetapi lebih ke aspek sosialnya,” tutur perempuan yang bergabung di komunitas Prameks Lovers itu.

Elis, pengguna Prameks dari Klaten, juga mengatakan bahwa penumpang Prameks yang hangat, ramah, dan rela menolong, akan selalu ia rindukan. “Saya ingat. Waktu saya hamil, saya diberi tempat duduk sama penumpang lain. Saya dibantu duduk waktu itu,” ungkapnya saat ditemui Harian Jogja di Stasiun Maguwo.

Sama halnya dengan Yuni dan Elis, Ketua Paguyuban Pramekers, Noor Harsya Aryo Samudro, 45 juga merasa kehilangan. Bagi dia, Prameks telah menciptakan kehidupan saka sepur dadi sedulur. Dari kereta menjadi saudara.

Pada satu sisi, pria yang menjadi staf pendidik di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu merespon baik hadirnya KRL di Jogja. “Adanya KRL sebenarnya sudah dijanjikan pemerintah sejak 2012. Kami menunggu delapan tahun lebih sehingga saat ini benar-benar ada. Seperti mimpi di siang bolong,” ungkapnya.

Baca juga: KRL Jogja-Solo Dinilai Memberi Nilai Tambah Ekonomi bagi Warga

Sudah sejak lama ia memimpikan adanya kereta cepat seperti di Jabodetabek, yang setia mengantarkan penumpangnya untuk bekerja di kota tetangga. Namun kekecewaan menghampiri mana kala ia tahu jadwal KRL yang tidak sepadat di Jabodetabek. “Kalau di Jabodetabek itu hampir lima menit ada. Kalau ini [KRL Jogja-Solo] waktu tunggunya masih signifikan. Harapannya sih paling tidak per jam ada [KRL],” kata pria yang saat ini menjadi Komisioner Bawaslu DIY ini.

Menggunakan KRL, penumpang memang mendapatkan kepastian tentang waktu tempuh serta risiko kemacetan sedikit. Selain itu lebih aman, nyaman, dan pembelian tiket yang terstruktur karena menggunakan kartu elektronik Kartu Multi Trip (KMT) dari KAI Commuter maupun uang elektronik seperti Brizzi.

Namun hal itu mengundang perubahan perilaku penumpang. Kekhawatiran adanya penumpang yang individualis pun muncul. “Kalau Prameks dulu, kita pesan tiketnya bisa dipesankan sama teman. Ada aksi tolong-menolong di situ. Kalau KRL, setiap penumpang sudah punya kartu tiket sendiri-sendiri,” katanya.

Prameks adalah Indonesia

Bagi dia, Prameks adalah Indonesia. Segala perbedaan ada tetapi antar satu penumpang dengan penumpang lain bisa saling menjaga, membantu, dan merawat armada yang ditumpangi. Namun ia tetap bersyukur ada kereta yang lebih baik. Ia hanya berharap jiwa solidaritas di atas Prameks tak akan pernah pudar dan bisa berpindah di KRL yang sekarang.

KRL Jogja-Solo akan beroperasi penuh mulai hari ini, Rabu, 10 Februari 2021 dengan harga tiket Rp8.000, sama dengan harga tiket Prameks. Akan ada 20 jadwal perjalanan setiap harinya dan melayani penumpang di 11 stasiun dari Stasiun Tugu Jogja sampai Solo Balapan. Sementara KA Prameks yang digerakkan tenaga diesel akan dialihkan untuk melayani perjalanan Jogja-Kutoarjo.