Mengimplementasikan Pemikiran Soekarno Lewat Karya Seni di Jogja

Seniman Butet Kertaradjasa menandatangani kerja sama. - Ist.
11 Februari 2021 14:57 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Gagasan dan cita-cita Soekarno, pendiri bangsa sekaligus proklamator, belum sepenuhya terwujud. Hal ini menginspirasi puluhan seniman di Yogyakarta untuk berkarya menampilkan lukisan mereka dalam pameran bertajuk AKARA.

Pameran ini akan digelar di Kantor DPD PDI Perjuangan DIY pada 1 sampai 21 Juni 2021. Bukan tanpa alasan pameran ini diadakan pada bulan Juni.

Juni menjadi salah satu bulan bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Pada 6 Juni 1901 tercatat sebagai hari lahir Soekarno. Pada 1 Juni 1945 Soekarno menyampaikan gagasannya dalam sidang BPUPKI (Dokuritzu Zyubi Tyoosakai) tentang dasar (Philosophische Grondslag), arah,  tujuan (Leitstar) sekaligus pandangan hidup (Weltanschauung) berbangsa dan bernegara.  Pada bulan Juni juga, tepatnya 21 Juni 1970, Soekarno meninggal dunia dalam usia 69 tahun.

Ada 78 perupa di Yogyakarta yang terlibat dalam perhelatan seni ini. Sederet nama seniman kondang juga akan ikut memamerkan karyanya di kantor DPD PDI Perjuangan DIY, antara lain, Butet Kertaradjasa, Ong Hari Wahyu, Bambang Herras, Budi Ubrux, Bunga Jeruk, Agung Pekik, Laksmi Shitaresmi, Nasirun, Ugo Untoro, dan Putu Sutawijaya.

“Kantor DPD PDI Perjuangan DIY dibangun bukan sekadar kantor administrasi tetapi sekaligus adalah rumah rakyat dan rumah budaya,” ujar Sekretaris DPD PDI Perjuangan DIY, GM Totok Hedi Santosa, Kamis (11/2/2021).

Oleh karena itu, ia pun mengajak para seniman atau perupa di Yogyakarta untuk berpartisipasi dalam pameran lukisan AKARA. Judul ini diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti wujud atau rupa.

Sebagai rumah budaya, PDIP DIY juga sudah melakukan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum Of Understanding (MOU) dengan antara 78 seniman yang akan berpartisipasi di dalam pameran ini dengan Balai Kesenian dan Kebudayaan DPD PDI Perjuangan DIY pada 10 Februari 2021.

Menurut Toto, banyak hal yang bisa dipetik dari pemikrian Soekarno. Pendiri bangsa itu menyaksikan penderitaan rakyat karena kolonialisme dan ancaman imperialisme bangsa asing maupun bangsa sendiri. Belum lagi persoalan buruh yang tersingkir karena modernisasi, rakyat marhaen dengan lahan sempit, rakyat buta huruf sehingga mudah dibohongi, serta fragmentasi masyarakat karena pandangan yang berbeda.

“Namun, pada saat yang sama ia juga melihat modal besar bangsa Indonesia, baik dari alam dan sifat gotong royong,” ucapnya.

Ia percaya seniman yang akan berpartisipasi dalam pameran ini bisa melahirkan kembali gagasan-gagasan Soekarno di atas kanvas sesuai dengan cara pandang masing-masing. Seniman tidak harus menghasilkan karya yang berupa gambar Soekarno, Megawati, atau banteng karena semakin beragam akan semakin indah.