Menjadi Produktif di Ruang Ekonomi Kreatif Pasar Prawirotaman

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (kiri kedua); Kepala Bank BPD DIY Senopati, Sumarno (kanan kedua) dan Kepala Dinas Perdagangan, Yunianto Dwisutono (kanan) saat Talk Show Online: Mewujudkan Pasar Prawirotaman sebagai Pasar Digital Pertama di DIY yang dipandu oleh Redaktur Harianjogja.com, Bhekti Suryani di lantai empat Pasar Prawirotaman, Jogja, Rabu (17 - 2).
19 Februari 2021 11:07 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, MERGANGSAN–Melihat pola kebiasaan masyarakat yang terus berkembang, Unit Pelaksana Teknis Pusat Bisnis Dinas Perdagangan (UPT Pusat Bisnis Disdag) Kota Jogja terus berinovasi. Kali ini, inovasi berupa ruang ekonomi kreatif (ekraf) yang berada di lantai empat Pasar Prawirotaman.

Banyak fasilitas penunjang yang tersedia baik indoor maupun outdoor. Fasilitas indoor berupa working space, studio musik, podcast, foto, mengedit, ruang pertemuan, ruang kerja pribadi dan lainnya. Menurut Kepala UPT Pusat Bisnis Disperindag Kota Jogja Agung Dini Wahyudi Soelistyo, penyediaan fasilitas ini untuk menangkap fenomena tumbuhnya pelaku ekraf di Jogja. Sayangnya, belum semua dari mereka memiliki sarana-prasarana penunjang produktivitas.

“Kami juga membuka layanan virtual office. Bagi pelaku ekraf yang terkendala dengan lokasi usaha, kami sediakan virtual office. Ada yang menangani email sendiri, ada sekretarisnya juga. Bukan fisik, tapi ini virtualnya,” kata Agung saat ditemui di Pasar Prawirotaman lantai empat pada Rabu (17/2).

Apabila pelaku ekraf lebih membutuhkan kantor pribadi di wilayah Kota Jogja yang representatif, ruang ekraf juga menyediakan. Fasilitas yang terintegrasi ini untuk memudahkan penggunanya dalam bekerja. Misal sewaktu-waktu butuh ruang pertemuan atau seminar, hanya perlu menyeberang antar ruang saja. “All in. Harapannya membangun ruang ekraf dari level start-up sampai expert bisa terakomodir semua,” kata Agung.

Dari fasilitas berbasis banyak keahlian tersebut, Agung juga berharap ruang ekraf ini bisa menjadi ruang kolaborasi. Dengan menyatukan berbagai keahlian dari benyak bidang, akan muncul ide-ide kreatif yang bisa dikerjakan bersama. “Bisa ngobrol bareng, buat konten bareng, produktivitas bisa naik,” kata Agung.

Sementara untuk ruang outdoor terdapat food court, panggung dan rooftop untuk melihat pemandangan Kota Jogja. Untuk para seniman yang membutuhkan ruang berekspresi tetapi terkendala dengan batasan orang, maka ruang outdoor bisa menjadi salah satu solusinya. Mereka bisa melakukan kegiatan seperti pentas seni, seminar, coaching clinic dan lainnya.

Di awal pengembangan, Agung mengenalkan ruang ekraf ini pada para komunitas. Dengan para komunitas mengadakan acara dan menyebarkan semangat keluar, masyarakat umum bisa tahu ada ruang ekraf di Pasar Prawirotaman.

Ke depan, Agung berharap ruang ekraf ini bisa membantu masyarakat dalam berkarya, terutama bagi yang belum memiliki sarana-prasarana. “Membantu para kreator muda, yang terbatas sarana-prasarana kami fasilitasi. Silahkan berekspresi, berinovasi sehingga muncul produk kreatif yang bisa mengangkat Kota Jogja,” kata Agung.

Pemilihan ruang ekraf di wilayah Prawirotaman juga bukan tanpa alasan. Menurut Wakil Walikota Jogja Heroe Purwadi, selain banyak pelaku ekraf di sekitarnya, wilayah Prawirotaman juga terkenal dengan kampung internasional. Banyak turis asing yang tinggal atau menginap di sekitar Prawirotaman.

“Membuat hal yang mempertemukan ekonomi kreatif bagi digital nomad,” kata Heroe.

Digital nomad merupakan orang yang bekerja dari berbagai tempat, tidak harus di kantor tertentu. Untuk menyasar kalangan yang mulai besar tersebut, ruang ekraf Pasar Prawirotaman bisa menyediakan kebutuhan mereka. Digital nomad kebanyakan menginap lebih dari sehari dua hari, bisa sebulan atau bahkan setahun di suatu daerah. “[Mereka datang] tanpa perlu membawa alat karena kami telah menyediakan,” kata Heroe. (adv)