Kemarau Tiba, Bagaimana Dampaknya di Gunungkidul?

Ilustrasi - Freepik
19 Mei 2021 16:27 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul menyebut belum ada lahan yang terdampak kekeringan.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan musim kemarau akan berdampak di sektor pertanian. Meski demikian, hingga sekarang belum ada laporan kerusakan atau lahan kering yang diakibatkan kemarau.

BACA JUGA: Tarik Parkir Rp5.000 untuk Motor, Dua Tukang Parkir di Jogja Didenda Rp500.000

“Saya sudah cek bersama-sama dengan Pak Kadis [Kepala Dinas Pertanian dan Pangan] hasilnya tanaman padi masih dapat tumbuh meski pasokan air mulai berkurang,” katanya, Rabu (19/5/2021).

Menurut dia, upaya mitigasi dilakukan dengan membuat surat edaran yang dibagikan ke kelompok-kelompok tani. Isi edaran ini berisi tentang upaya pemelihraan tanaman dengan memanfaatkan sumber-sumber air yang ada mulai dari sumur air dalam, embung maupun aliran sungai. “Ada bantuan alat mesin pompa. Ini bisa dimaksimalkan untuk pengairan dengan memanfatkan sungai, embung atau sumur bor,” ujarnya.

Selain itu, petani juga diminta segera memanen padi yang sudah memasuki masa panen. “Untuk masa tanam ketiga, kami juga meminta menanam tanaman yang memiliki usia lebih pendek seperti kacang atau kedelai,” katanya.

Jawatannya juga akan terus melakukan pendataan terhadap lahan pertanian yang terkena dampak dari musim kemarau. “Petugas penyuluh lapangan sudah kami instruksikan dan apabila ada kerusakan, petani juga harus segera melaporkannya,” katanya.

Musim kemarau saat ini sudah mulai berdampak terhadap pertanian di masyarakat. Salah satunya terlihat di Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen. Petani menyedot air sungai untuk pengairan tanaman padi yang dimiliki.

BACA JUGA: Kekerasan Jalanan di Sleman Libatkan Ormas, Satu Orang Tewas

“Tanahnya sudah mulai merekah. Sedangkan usia padi baru sekitar dua bulan sehingga belum bisa dipanen,” kata Talip, salah seorang petani di Kalurahan Kampung.

Menurut dia, apabila kondisi ini terus dibiarkan, tanaman padi akan mati. Oleh karenanya, ia memanfaatkan air sungai untuk mempertahankan agar tanaman padi bisa hidup hingga masa panen tiba. “Kami terpaksa karena memang air sudah sulit didapatkan sehingga air sungai disedot untuk mengaliri sawah,” katanya.