ASPD Jadi Persiapan Pertemuan Tatap Muka

Sejumlah siswa di SDN Rejodani, Ngaglik, Sleman mengikuti ASPD, Senin (24/5/2021). - Harian Jogja/Lugas Subarkah.
24 Mei 2021 11:57 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sebanyak 16.962 siswa tingkat SD sederajat di Sleman mengikuti Asesment Pendidikan Stabdar Daerah (ASPD) hari pertama pada Senin (24/5/2021). Ujian berlangsung lancar dengan penerapan protokol kesehatan.

Kepala SDN Rejodani, mengatakan di sekolahnya ASPD diikuti 31 siswa yang dibagi dalam tiga kelas, sehingga dalam satu kelas terdapat 10-11 siswa saja.

"Untuk persiapan kami ada simulasinya, kami siapkan untuk perlengkapannya terutama untuk protokoler kesehatan. Jadi kami siapkan semuanya dari sabun, tempat cuci tangan, handsanitizer. Tempatnya sebelum ASPD itu kita semprot dulu, nanti setelah ASPD hari pertama siangnya kita semprot lagi. Kemudian seterusnya seperti itu," katanya.

BACA JUGA : Cegah Kebocoran Soal ASPD, Bantul Perketat Pengawasan

SDN Rejodani sebelumnya juga telah menyiaplan pelatihan materi ujian kepada para siswa secara virtual. Bagi siswa yang membutuhkan bantuan, siswa secara terbatas konsultasi datang ke sekolah.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, meninjau sejunlah sekolah yang melaksanakan ASPD. "Bisa dilaksanakan dengan baik dengan protokol kesehatan. Tadi di Pandowoharjo itu ada 29 anak, sedangkan di sini [SD Rejodani] ada 31 jadi ada tiga kelas," ujarnya.

Pelaksanaan ASPD dengan menghadirkan siswa ke sekolah ini kata dia, menjadi bagian dari persiapan pembelaharan tatap muka yang akan dimulai pada tahun ajaran baru, Juli mendatang.

"Ini sukses dalam arti sudah siap semua baik dari anak-anak maupu guru kelas yang ada. Rncananya nanti InsyaAllah bulan Juli ajaran yang baru kita membuka semua. Tapi dengan 50 persen dan pembatasan, satu minggu dua kali, awal pertama seperti itu," kata dia.

BACA JUGA : Dimulai Besok, Begini Gambaran ASPD Tingkat SD di Sleman

Kepala Dinas Pendidikan Sleman, Ery Widaryana, menuturkan ASPD dilaksanakan di 510 SD, 24 madrasah dan 10 kejar paket A. "Kami menerjunkan sebanyak 1.318 pengawas," ungkapnya.

Ia menegaskan ASPD tidak menentukan kelulusan, melainkan untuk mengevaluasi pembelajaran jarak jauh yang sudah berjalan selama ini. "Kami juga ingin mengetahui sejauh mana mutu pendidikan selama Pembelajaran Jarak Jauh ini," katanya.

Di samping itu ASPD digunakan sebagai salah satu perhitungan masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Sedangkan penentuan kelulusan dari ujian yang dilaksanakan oleh sekolah, yang kemudian hasilnya digabung dengan nilai rapor.

Terkait pembelajaran tatap muka, ia menjelaskan akan dilaksanakan secara serentak di semua sekolah yang siap dan memang di daerah yang bukan zona merah.

BACA JUGA : Besok, Siswa Kelas Enam SD di Kulonprogo Jalani ASPD

Tatap muka dilaksanakan ter masuk seminggu itu hanya dua kali dengan sistem shift bergiliran separuh-separuh. Pembelajaran maksimal dua jam pelajaran untuk tingkat SD dan tiga jam untuk tingkat SMP.

"Untuk zona merah Itu lihat keberadaan sekolahnya ada dimana kalau sekolah itu tidak memungkinkan untuk tatap muka ya sekolah itu belum dulu. Kalau SD [zonasi] di dusun kalau SMP kalurahan," ungkapnya.