Satu-satunya di Dunia, Sumbu Filosofi Jogja Syarat Nilai Universal Kehidupan

Tugu Jogja, Oktober 2020. - Harian Jogja/Desi Suryanto
26 Juni 2021 20:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kota Jogja memiliki tata kota, tata letak yang tidak hanya menarik dari sisi fisik, tetapi juga menyimpan nilai universal kehidupan yaitu sumbu filosofi. Tata kota penuh makna ini merupakan karya Sri Sultan HB I. Saat ini sumbu tersebut sedang diajukan menjadi warisan budaya dunia ke UNESCO. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Sunartono.

Pendiri sekaligus raja pertama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang memerintah pada 1755–1792, Sri Sultan HB I memiliki pemikiran yang visioner. Tata kota yang diciptakannya masih relevan hingga hingga saat ini. Selain itu menjadi satu-satunya tata kota di dunia yang memiliki nilai universal kehidupan.

“HB I menciptakan tata kelola, tata letak, tata kota yang sangat luar biasa yang kita kenal dengan sumbu filosofi. Ini sangat luar biasa karena pada masa itu tata letak kota sudah dipikirkan dan sampai saat ini karya itu masih layak untuk dipertahankan,” kata Plt Kepala Dinas Kebudayaan DIY Aris Eko Nugroho, Rabu (16/6/2021).

Berkaitan dengan nilai universal yang sudah dikaji oleh Disbud DIY, ada empat hal yang membuat DIY percaya diri bisa masuk menjadi warisan budaya dunia. Pertama, representasi dari karya jenius kreativitas manusia. Kedua, pertukaran nilai kemanusiaan yang penting dari waktu ke waktu. Ketiga, memberikan kesaksian yang unik dan luar biasa terhadap tradisi atau peradaban. Keempat, peristiwa tradisi yang hidup dengan ide atau keyakinan dengan karya seni dan sastra memiliki universal luar biasa.

“Empat kriteria ini yang menjadi dasar kami menyiapkan Jogja sebagai warisan budaya dunia. Kebetulan tahun ini sudah ada UPT yang menangani secara khusus terhadap semua kegiatan baik itu benda maupun tak benda di Jogja,” ujarnya.

Perjalanan nilai universal kehidupan itu bisa dimulai dari ujung sumbu filosofi, Panggung Krapyak yang menjadi penanda pertama dari isi warisan dunia yang diajukan ke Unesco. Panggung Krapyak dengan segala keberadaan dan nilai pentingnya akan menjadi bagian informasi penting yang akan disosialisasikan kepada masyarakat. Tidak hanya bangunan fisiknya tetapi nilai makna serta refleksi dan urgensinya untuk masyarakat.

“Konsep-konsep sumbu filosofi yang sarat dengan nilai kehidupan ini tidak ditemui di negara mana pun. Kami di tim sudah melakukan studi komparasi di hampir 50 negara, tidak menemukan. Negara seperti Prancis, China memang memiliki tema dan sumbu-sumbu tetapi yang bertema seperti siklus kehidupan, baru ada di Jogja,” ujar Kepala Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi, Dian Lakshmi Pratiwi.

Sumbu filosofi merupakan arus jalan yang menghubungkan antara Panggung Krapyak sampai Tugu Kota Jogja. Selain itu ada sumbu filosofi sisi selatan dan utara. Akses jalan inilah yang dinilai Unesco secara keletakan bernilai autentik, baik keaslian, kesatuan nilai dan makna masih tampak meski pun saat ini seperti jalan sudah beraspal dengan berbagai aktivitasnya. “HB I meletakkan pemikiran bahwa ada satu sumbu itu adalah autentik,” kata Aris.

Simbol-simbol sumbu filosofi selanjutnya adalah kompleks Kraton, terdiri dari benteng, Alun-Alun Kidul dan Alun-Alun Utara. Kawasan ini memiliki nilai penting dengan berbagai proses kehidupan, mengingat banyak filosofi kehidupan diambil dari berbagai istilah dan nama di area Kraton. Kemudian ada Tamansari dan Masjid Gede.

Atribut penanda tersebut dipilih dan diberikan datanya ke Unesco sesuai dengan konteks makna nilai yang diciptakan HB I. Mewujudkan simbol nilai dalam bentuk bangunan yang ada sejak HB I, karena tidak semua bangunan yang ada di Kraton dibangun di era HB I. Terdiri atas Bangsal Srimanganti, Kencono, Proboyekso, Museum Kereta dan Kraton Kilen yang dibikin di era HB I.

Kemudian untuk sumbu filosofi sisi utara menggambarkan godaan hidup manusia. Mulai dari Pasar Beringharjo sebagai simbol godaan materi, kompleks Kepatihan menunjukkan godaan terhadap takhta dan kuasa. Sedangkan simbol nama Jalan seperti Jalan Margautama, Margamulya merupakan dua arah berbeda antara penguasa dengan masyarakat. “Kalau versi raja arahnya dari utara ke selatan, tetapi kalau rakyat dari utara ke Kraton,” kata Aris lagi.

Saat kehidupan manusia di jalan-jalan menuju ke arah kebaikan, maka Tugu di utara, keberadaan Jalan Margautoma menggambarkan orang harus berpikir untuk selalu menuju ke keutamaan. Untuk menggapai keutamaan tidak lepas dari berbagai godaan mulai dari harta dan takhta sebagaimana digambarkan keberadaannya di sepanjang Jalan Malioboro. “Setelah bisa melewatinya, maka sampailah jalan kemuliaan atau kita sebut dengan Jalan Margamulya. Jalan ini coba dikembalikan seperti semula,” ujar Dian Lakshmi.

Di Kraton sendiri ada tujuh regol yang menjadi penanda untuk menuju ke kesucian, maka orang harus melepas hawa nafsu yang ditunjukkan dengan adanya Jalan Pangurakan atau menghalau berbagai hal yang negatif.

Selain itu masih ada satu atribut satu lagi yaitu kompleks Makam Raja-Raja Imogiri yang juga masuk dalam sumbu filosofi yang diajukan ke Unesco. Secara geografis memang terkesan terlepas dari sumbu filosofi tetapi secara nilai dan makna sakral justru sangat terpaut dengan sumbu.

“Makam Imogiri ini sebagai bukti akhir perjalanan hidup manusia yang diwakili oleh para raja, tradisi pengelolaan manajemen tradisionalnya masih berjalan sampai sekarang,” ujar Aris.