Iduladha di Tengah Pandemi, Shohibul Bisa Minta Jagal Negatif Antigen Hingga Daging Dikemas Kiloan

Pedagang hewan kurban di Padokan Lor, Tirtonirmolo, Kasihan, Ahmad Suwardi menerima kunjungan dari Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DPPKP Bantul, Joko Waluyo dan tim dalam rangka pemeriksaan hewan kurban pada Selasa (29/6/2021). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
29 Juni 2021 16:47 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Perayaan Iduladha 2021 tiba di tengah pandemi Covid-19. Bagaimana upaya menjalankan ibadah dengan tetap menaati protokol kesehatan?

Lewat strategi beli sapi tinggal bagi, penjualan hewan kurban pedagang di Kasihan justru naik. Bahkan, pedagang hewan kurban juga layani jasa jagal yang haru negatif tes antigen.

Pedagang hewan kurban di Padokan Lor, Tirtonirmolo, Kasihan, Ahmad Suwardi mulai kebanjiran order jelang hari raya kurban. Meski Iduladha jatuh sekitar 20 hari lagi, puluhan ekor sapi di kandang Ahmad sudah laku diborong para shohibul. "Sudah 80 ekor habis. Rencananya masih mau nambah [kulakan sapi], makanya itu buat kandang baru di dekat rumah," tuturnya Selasa (29/6/2021).

Pembuatan kandang baru harus dilakukan Ahmad. Pasalnya kandang yang ada saat ini telah penuh puluhan sapi, sedangkan Ahmad memprediksi peningkatan pembelian hewan kurban bakal terus meningkat.

Baca juga: Kemenkes Belum Tetapkan Sertifikat Vaksin Covid-19 Jadi Syarat Administrasi

"Antusiasme malah justru terjadi peningkatan. Metode tinggal ngirim ke masjid udah bentuk packing. Sehingga, satu mungkin masjid mengurangi kerumunan. Yang kedua [takmir] tinggal mengirimkan daging ke masyarakat dalam bentuk pak-pakan," ujarnya.

Ahmad memang melayani jasa penyembelihan hewan kurban sampai tuntas dalam bentuk daging pak-pakan. Shohibul cukup membayar biaya tambahan jasa penyembelihan hingga pengepakan. Bobot daging yang akan dikemas pun bisa diatur sesuai permintaan pembeli.

"Kita layani sampai daging pak-pakan kiloan. Konsumen yang datang ke sini jadi layanan mempermudah. Takmir masjid enggak butuh tenaga, tahu-tahu udah dikemas satu kiloan lalu takmir tinggal ngirim ke masyarakat," tandasnya.

Penyembelihan hingga pengemasan daging dalam bentuk kiloan bakal dikenai tarif tambahan kurang lebih Rp800.000 per ekornya. Sehingga shohibul cukup membayar harga pokok sapi plus biaya tambahan, maka daging sapi siap diantar ke warga tanpa kerumunan. Hemat tenaga dan waktu. Harga sapi di kandang Ahmad mulai dari terendah Rp17,5 juta sampai paling tinggi Rp23 juta per ekor.

Baca juga: Sejumlah RS di Solo Buka Lowongan Relawan Covid-19

"Ada yang minta bentuk packing satu kiloan, sesuai permintaan masjid atau minta dipisah dagingnya, nanti takmir masjid tinggal ngiloni. Dari takmir bisa request. Ada yang minta dikemas 1,5 kilogram. Ada juga yang beli lima ekor, satu ekor untuk simbolis disembelih di masjid yang empat disembelih dan packing tempat saya," tambahnya.

Di samping itu, Ahmad juga menyediakan jasa jagal bagi takmir masjid yang membutuhkan. Malahan, ada takmir masjid yang meminta jagal di tempat Ahmad dengan syarat negatif antigen. "Ada konsumen yang minta jagalnya antigen, ya kita layani," tambahnya.

Tahun ini Ahmad telah menyiapkan 75-100 jagal untuk hari raya Idul Adha. Para jagal disiapkan baik menyembelih di masjid shohibul maupun di kandang milik Ahmad untuk mengemas jadi daging pak-pak kiloan. "Tenaga jagal 75-100 orang. Lokasi di sini sama di rumah. Sejak dulu persiapan 75 100, nanti tersebar. Misalnya Di masjid yag minta disembelih di masjid, saya sudah menyiapkan jagal di tempat saya," tuturnya.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DPPKP Bantul, Joko Waluyo menyebutkan panduan tentang pelaksanaan Idul Adha di tengah pandemi masih diproses. Penyembelihan akan dilayani di Rumah Potong Hewan (RPH) di Bantul. Sementara penyembelihan mandiri oleh warga diperketat dan diawasi tim Satgas.

Joko yang melakukan pemeriksaan kesehatan sapi milik Ahmad menuturkan sampai saat ini animo masyarakat dalam berkurban masih tinggi. Puluhan hewan kurban di penampungan pedagang mulai terjual satu per satu.

Dari segi kesehatannya, sampai saat ini belum ditemukan sapi dengan penyakit zoonosis. Sapi yang masuk ke Bantul harus mengantongi dokumen Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). "Bila ditemukan sapi yang tidak sehat maka tidak boleh diperjualbelikan, harus mendapat perawatan," tandasnya.