Advertisement
Masa Tanam Kedua di GK, Komoditas Pangan yang Ditanam Lebih Variatif
Petani di Kalurahan Rejosari, Semin saat melakukan penanaman padi di masa tanam kedua, Senin (9/3).Harian Jogja - David Kurniawan
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Luas lahan padi di Kabupaten Gunungkidul pada masa tanam kedua mulai berkurang dibandingkan musim tanam pertama. Sejumlah petani tetap menanam padi karena ketersediaan air masih mencukupi, sementara sebagian lainnya memilih beralih ke komoditas pangan lain yang lebih variatif.
Petani di sejumlah wilayah Gunungkidul mulai memasuki masa tanam kedua setelah panen pertama selesai. Perubahan pola tanam mulai terlihat karena tidak semua petani kembali menanam padi seperti pada awal musim penghujan.
Advertisement
Salah seorang petani di Kalurahan Rejosari, Semin, Giyanto mengatakan masa tanam padi pertama berjalan cukup baik dengan hasil yang memuaskan. Setelah proses panen selesai, ia bersama petani lain langsung mempersiapkan lahan untuk musim tanam berikutnya dengan melakukan pengolahan tanah.
“Lahan sudah diolah dan sekarang sudah mulai menanam untuk masa tanam kedua. Mudah-mudahan hasilnya bagus juga,” kata Giyanto, Rabu (11/3/2026).
BACA JUGA
Menurut Giyanto, keputusan kembali menanam padi dipengaruhi oleh kondisi air yang masih tersedia. Curah hujan yang masih turun serta lokasi sawah yang berada dekat aliran Kali Oya membuat petani tidak terlalu khawatir terhadap kebutuhan air selama masa perawatan tanaman.
“Masih ada hujan dan lokasi lahan juga dekat aliran Kali Oya sehingga tidak khawatir kekurangan air untuk pemeliharaan,” katanya.
Namun kondisi berbeda terjadi di wilayah lain. Petani asal Pampang, Paliyan, Kismaya mengaku hanya menanam padi satu kali pada awal musim hujan. Setelah panen, lahan pertanian miliknya digunakan untuk menanam komoditas lain yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi musim berikutnya.
“Hanya sekali menanam padi di awal penghujan. Hasilnya juga bagus karena bisa memeroleh tiga ton gabah,” kata Kismaya.
Ia menjelaskan bahwa pada masa tanam kedua biasanya petani di wilayahnya memilih komoditas lain seperti ketela pohon, jagung, atau kacang-kacangan. Pola tersebut sudah lama menjadi kebiasaan karena tanaman tersebut dinilai lebih cocok ditanam setelah panen padi.
“Sudah jadi kebiasaan di masa tanam kedua, tanaman pangan yang ditanam lebih bervariatif karena tidak hanya padi. Tapi, ada komoditas lain seperti jagung, kedelai hingga singkong,” katanya.
Terpisah, Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan pada masa tanam kedua masih terdapat petani yang menanam padi, namun luasannya tidak sebesar musim tanam pertama.
Ia mencatat pada masa tanam pertama luas lahan padi di Gunungkidul mencapai sekitar 43.743 hektare. Sementara pada masa tanam kedua diperkirakan luas lahan padi menurun drastis menjadi sekitar 10.000 hektare.
“Nanti di masa tanam ketiga atau saat kemarau, juga makin menyusut karena hanya di kisaran 1.000-an hektare saja. Lokasi ini biasa di area sawah yang dekat dengan sumber-sumber air sehingga bisa panen tiga kali dalam setahun,” katanya.
Raharjo menjelaskan penurunan luas tanam padi pada musim kedua merupakan pola yang sudah berlangsung lama. Banyak lahan terutama yang berupa ladang hanya ditanami padi pada awal musim hujan, kemudian beralih ke komoditas pangan lain setelah panen.
“Kalau lahan yang berupa ladang, padi hanya ditanam di awal musim hujan. Setelah dipanen akan beralih ke komoditas lain seperti kacang tanah, kedelai hingga ketela pohon,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
KMP Portlink VII Terbakar di Pelabuhan Ketapang, Diduga Korsleting
Advertisement
Wisata Gunung Bromo Siap Sambut Wisatawan saat Libur Lebaran 2026
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 11 Maret 2026, Tiket Rp8.000
- Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 11 Maret 2026, Tarif Rp8.000
- Jadwal Imsakiyah Jogja Rabu 11 Maret 2026: Waktu Sahur dan Buka Puasa
- RS Sardjito Siap Buka Prodi Kedokteran Nuklir, Cetak Dokter Spesialis
- Dana Desa Dipotong, DPRD DIY Sebut BLT dan Program Kalurahan Terdampak
Advertisement
Advertisement







