Tabrak Pembatas, Pemotor Tewas di Jalan Perbatasan Semin-Sukoharjo
Jajaran Polsek Semin mengimbau kepada pengendara terus berhati-hati saat berkendara. Hal ini tak lepas adanya kecelakaan maut di perbatasan dengan sukoharjo.
Petani mencabut benih untuk ditanam. - ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul mencatat sebanyak 42.743 hektare lahan ditanami padi pada musim tanam (MT) pertama di awal musim penghujan. Penanaman masif ini diharapkan mampu menjaga sekaligus memperkuat status Gunungkidul sebagai daerah surplus beras.
Sekretaris Dinas Pertanian Gunungkidul, Raharjo Yuwono, menjelaskan bahwa padi masih menjadi komoditas utama pilihan petani. Meski begitu, tidak seluruh kapanewon memiliki lahan sawah. Hanya 14 kapanewon yang tercatat memiliki hamparan sawah produktif.
“Sementara lima kapanewon lainnya—Tepus, Tanjungsari, Girisubo, Rongkop, dan Saptosari—lebih banyak mengandalkan padi ladang atau lahan kering karena tidak memiliki sawah,” ujar Raharjo, Jumat (16/1/2026).
Menurut dia, musim hujan memungkinkan hampir seluruh lahan pangan ditanami padi. Untuk wilayah lahan kering, jenis padi gogo menjadi pilihan utama petani.
Ia menambahkan, masa tanam pertama merupakan periode paling ideal bagi komoditas padi. Pada masa tanam kedua dan ketiga, luas tanam biasanya menyusut karena pasokan air tidak lagi memadai.
“Harapannya, dengan luas tanam yang besar di awal musim ini, ketahanan pangan tetap kuat dan predikat daerah surplus beras bisa terus dipertahankan,” jelasnya.
Raharjo memaparkan bahwa pada 2024, luas tanam mencapai 54.499 hektare dengan produksi 269.841 ton gabah kering giling (GKG). Pada tahun sebelumnya, luas tanam mencapai 55.576 hektare dengan hasil 299.624 ton GKG.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat jumlah penduduk Gunungkidul sebanyak 804.842 jiwa. Dengan kebutuhan konsumsi beras sekitar 79 kilogram per orang per tahun, total kebutuhan beras mencapai 63.582,5 ton.
“Produksi gabah 2025 yang mencapai 299.624 ton jika dikonversi menjadi sekitar 179.774,4 ton beras. Jumlah ini jauh di atas kebutuhan konsumsi masyarakat Gunungkidul selama satu tahun,” terang Raharjo.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, menambahkan pihaknya akan terus meningkatkan produktivitas gabah melalui pendampingan petani dan penyediaan sarana produksi.
“Mulai dari benih, pupuk, hingga mitigasi risiko cuaca ekstrem, semua kami siapkan agar produksi tetap optimal,” kata Rismiyadi.
Untuk mendukung musim tanam pertama tahun ini, pemerintah juga menyalurkan bantuan benih padi sebanyak 108,3 ton. “Stok ini bisa ditanam di lahan seluas 4.332 hektare,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jajaran Polsek Semin mengimbau kepada pengendara terus berhati-hati saat berkendara. Hal ini tak lepas adanya kecelakaan maut di perbatasan dengan sukoharjo.
Sensus Ekonomi 2026 di Sleman resmi dimulai. Data usaha jadi dasar kebijakan dan arah pembangunan ekonomi daerah.
Kirab perpisahan 514 taruna Akmil di Magelang berlangsung meriah. Tradisi ini jadi simbol kedekatan taruna dan masyarakat.
Stasiun Gambir akan melayani KRL dan kereta jarak jauh. Transformasi ini menjadikannya hub transportasi terintegrasi di Jakarta.
SPMB SMP Gunungkidul 2026 buka jalur domisili 29 Juni. Aturan diperketat untuk cegah kecurangan KK tempel.
BNN, TNI, dan Polri bongkar 59 jaringan narkoba. Lebih dari 200 ton barang bukti diamankan senilai Rp29 triliun.