Uang Masjid di Semin Hilang Saat Pembangunan Belum Rampung
Dana pembangunan masjid di Semin, Gunungkidul, sebesar Rp13 juta raib dicuri saat pembangunan belum rampung.
Petani melon di Padukuhan Tembesi, Ponjong, Ponjong, Anang Sutrisno saat menunjukan melon yang siap dipanen. Kamis (22/1/2026)/Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Petani melon Padukuhan Tembesi, Ponjong, Gunungkidul, hadapi penurunan panen signifikan akibat serangan jamur embun tepung (Powdery Mildew).
Tanaman melon yang diserang jamur ini akan punya ciri khas bercak putih tepung pada daun sehingga hambat fotosintesis dan pertumbuhan buah.
Kondisi ini diperparah cuaca ekstrem berubah-ubah, meski greenhouse selamatkan sebagian panen sementara lahan terbuka banyak gagal total.
Salah seorang petani melon, Anang Sutrisno, mengungkapkan dampak serangan jamur sangat terasa pada produktivitas tanaman yang dibudidayakan di dalam greenhouse.
“Panennya jadi kurang optimal alias turun jauh dibanding dengan panen sebelumnya,” kata Anang, Kamis (22/1/2026).
Anang menjelaskan, serangan jamur embun tepung ditandai dengan munculnya bercak putih menyerupai tepung pada daun tanaman melon. Kondisi tersebut menghambat proses pertumbuhan sehingga memengaruhi hasil panen secara keseluruhan.
“Pertumbuhannya lambat. Hasil buahnya juga tidak sebesar dengan panen sebelumnya,” ungkapnya.
Dalam satu lahan greenhouse, Anang menanam sekitar 500 batang melon jenis dalmation. Namun, akibat serangan jamur, hanya sekitar 250 batang yang mampu berbuah.
“Setelah berbuah juga tidak bagus semuanya. Sebab, dari 250 batang, yang benar-benar menghasilkan buah melon dengan kualitas A hanya seratusan batang,” katanya.
Menurut Anang, serangan jamur embun tepung dipengaruhi oleh kualitas tanah sebagai media tanam alami. Berdasarkan pengetahuan yang ia pelajari, salah satu cara mengurangi risiko serangan adalah dengan melakukan pola tanam sela agar tidak menanam melon secara terus-menerus pada lahan yang sama.
“Tapi berhubung ingin tanam melon terus, maka harus dilakukan pemeliharaan yang lebih intens melalui penyemprotan pupuk,” katanya.
Selain itu, cuaca ekstrem yang kerap berubah-ubah turut memperburuk kondisi pertumbuhan tanaman melon. Meski demikian, penggunaan greenhouse masih membantu petani untuk tetap panen.
“Beruntung saya pakai greenhouse sehingga bisa tetap panen. Untuk yang budidaya di lahan terbuka ada yang gagal panen karena terpengaruh cuaca,” katanya.
Terpisah, Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengaku belum menerima laporan resmi terkait serangan jamur embun tepung pada tanaman melon di wilayah Gunungkidul.
“Untuk detailnya saya konfirmasi ke bidang teknis yang menangani. Tapi, budidaya melon sekarang sudah banyak di Gunungkidul,” katanya.
Menurut Raharjo, minat petani terhadap budidaya melon terus meningkat karena prospek bisnisnya yang menjanjikan. Metode budidaya pun beragam, mulai dari lahan terbuka hingga pemanfaatan teknologi greenhouse.
“Masing-masing ada keunggulannya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dana pembangunan masjid di Semin, Gunungkidul, sebesar Rp13 juta raib dicuri saat pembangunan belum rampung.
Amerika Serikat disebut telah menghabiskan Rp507 triliun untuk operasi militer melawan Iran sejak konflik pecah Februari 2026.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur, tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Festival Dalang Cilik Kulonprogo menjadi ajang regenerasi dalang muda dan pelestarian budaya wayang di kalangan pelajar.
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta dengan tarif Rp8.000 sekali perjalanan
Kelurahan Patangpuluhan Jogja memperkuat literasi gizi keluarga lewat pelatihan B2SA untuk mempertahankan nol kasus stunting.