Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Kismaya, warga Pampang di Kapanewon Paliyan sedang membolakblikan gabah yang dijemur didalam rumah agar cepat kering, Jumat (27/2/2026) Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Cuaca hujan yang masih sering terjadi dalam beberapa hari terakhir menjadi tantangan bagi petani di Gunungkidul. Kondisi ini membuat proses penjemuran gabah hasil panen terhambat dan berpotensi memengaruhi kualitas beras.
Salah seorang petani di Kalurahan Bleberan, Rini Iswandari, mengatakan hasil panen pada musim tanam pertama tahun ini tergolong baik. Produksi gabah cukup optimal karena serangan hama relatif minim dan proses panen berjalan lancar.
Namun, persoalan muncul setelah panen. Gabah yang seharusnya segera dijemur agar cepat kering justru sulit ditangani akibat hujan yang turun hampir setiap hari.
“Gabah tidak mungkin dijemur di tempat terbuka. Kalau dipaksakan, malah bisa semakin basah karena hujan,” kata Rini, Jumat (27/2/2026).
Sebagai solusi sementara, Rini memanfaatkan lantai rumah untuk menjemur gabah. Meski tanpa sinar matahari langsung, cara tersebut dinilai paling aman untuk mencegah gabah membusuk.
“Kami jemur di dalam rumah. Supaya cepat kering, gabah sering dibolak-balik dan dibantu kipas angin,” ujarnya.
Kondisi serupa dialami Kismaya, petani asal Kalurahan Pampang. Pada musim panen pertama ini, ia berhasil memanen hampir tiga ton gabah. Namun, cuaca hujan membuat proses pengeringan menjadi tidak optimal.
“Kalau dijemur di luar repot, harus bolak-balik mengemas karena hujan. Akhirnya kami pilih jemur di lantai rumah,” katanya.
Menurut Kismaya, gabah yang disimpan dalam kondisi basah berisiko membusuk atau bahkan tumbuh menjadi benih padi baru. Oleh karena itu, pengeringan tetap harus dilakukan meski dengan cara sederhana.
Ia mengakui teknologi pengering gabah sebenarnya sudah tersedia. Namun, harga alat yang relatif mahal membuat petani kecil belum mampu memilikinya.
“Daripada gabah rusak, lebih aman diangin-anginkan di dalam rumah pakai kipas. Memang lebih lama, tapi kualitas gabah bisa tetap terjaga,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
KY memastikan seleksi hakim agung dan hakim ad hoc MA 2026 transparan. Publik bisa memantau proses dan memberi informasi rekam jejak calon.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 12 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Kereta pertama berangkat 05.05 WIB, tarif tetap Rp8.000.
PSEL Piyungan ditargetkan groundbreaking Desember 2026. Proyek senilai Rp2,5 triliun-Rp3 triliun ini mulai dibangun Januari 2027.
Polisi menyiagakan puluhan personel setelah massa membakar sejumlah kantor pemerintah di Ilaga, Puncak, Papua Tengah.
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 12 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Yogyakarta. Tarif tetap Rp8.000.