Pilur Gunungkidul Digelar 26 September, Pemkab Minta Logistik Tuntas H-2
Pilur serentak di 31 kalurahan Gunungkidul digelar 26 September 2026. Pemkab meminta seluruh logistik, terutama surat suara, siap H-2.
Kismaya, warga Pampang di Kapanewon Paliyan sedang membolakblikan gabah yang dijemur didalam rumah agar cepat kering, Jumat (27/2/2026) Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Cuaca hujan yang masih sering terjadi dalam beberapa hari terakhir menjadi tantangan bagi petani di Gunungkidul. Kondisi ini membuat proses penjemuran gabah hasil panen terhambat dan berpotensi memengaruhi kualitas beras.
Salah seorang petani di Kalurahan Bleberan, Rini Iswandari, mengatakan hasil panen pada musim tanam pertama tahun ini tergolong baik. Produksi gabah cukup optimal karena serangan hama relatif minim dan proses panen berjalan lancar.
Namun, persoalan muncul setelah panen. Gabah yang seharusnya segera dijemur agar cepat kering justru sulit ditangani akibat hujan yang turun hampir setiap hari.
“Gabah tidak mungkin dijemur di tempat terbuka. Kalau dipaksakan, malah bisa semakin basah karena hujan,” kata Rini, Jumat (27/2/2026).
Sebagai solusi sementara, Rini memanfaatkan lantai rumah untuk menjemur gabah. Meski tanpa sinar matahari langsung, cara tersebut dinilai paling aman untuk mencegah gabah membusuk.
“Kami jemur di dalam rumah. Supaya cepat kering, gabah sering dibolak-balik dan dibantu kipas angin,” ujarnya.
Kondisi serupa dialami Kismaya, petani asal Kalurahan Pampang. Pada musim panen pertama ini, ia berhasil memanen hampir tiga ton gabah. Namun, cuaca hujan membuat proses pengeringan menjadi tidak optimal.
“Kalau dijemur di luar repot, harus bolak-balik mengemas karena hujan. Akhirnya kami pilih jemur di lantai rumah,” katanya.
Menurut Kismaya, gabah yang disimpan dalam kondisi basah berisiko membusuk atau bahkan tumbuh menjadi benih padi baru. Oleh karena itu, pengeringan tetap harus dilakukan meski dengan cara sederhana.
Ia mengakui teknologi pengering gabah sebenarnya sudah tersedia. Namun, harga alat yang relatif mahal membuat petani kecil belum mampu memilikinya.
“Daripada gabah rusak, lebih aman diangin-anginkan di dalam rumah pakai kipas. Memang lebih lama, tapi kualitas gabah bisa tetap terjaga,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur serentak di 31 kalurahan Gunungkidul digelar 26 September 2026. Pemkab meminta seluruh logistik, terutama surat suara, siap H-2.
Bulog memastikan Beras Kita Premium dapat digunakan untuk kebutuhan MBG sesuai arahan pemerintah, sementara beras fortifikasi bukan pengganti beras premium.
Penempatan lintas daerah manajer KDKMP dilakukan untuk pemerataan SDM. Status tetap berlaku dan lokasi bisa disesuaikan dengan domisili.
Indonesia baru memiliki 66 dokter aritmia untuk sekitar 280 juta penduduk. Akses deteksi dini dan terapi gangguan irama jantung perlu diperluas.
Jadwal PSIM Jogja vs Persija pada 10 Oktober 2026 dimajukan ke pukul 15.30 WIB di Stadion Sultan Agung karena pertimbangan keamanan.
SPP-TDLN mulai memungut PPN transaksi digital luar negeri sejak 25 September 2026 dengan melibatkan perbankan dan fintech.