Kuota Transmigrasi Belum Jelas, Gunungkidul Masih Menunggu Pusat
Pemkab Gunungkidul masih menunggu kepastian kuota transmigrasi 2026 dari pemerintah pusat untuk 15 keluarga calon transmigran.
Kismaya, warga Pampang di Kapanewon Paliyan sedang membolakblikan gabah yang dijemur didalam rumah agar cepat kering, Jumat (27/2/2026) Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Cuaca hujan yang masih sering terjadi dalam beberapa hari terakhir menjadi tantangan bagi petani di Gunungkidul. Kondisi ini membuat proses penjemuran gabah hasil panen terhambat dan berpotensi memengaruhi kualitas beras.
Salah seorang petani di Kalurahan Bleberan, Rini Iswandari, mengatakan hasil panen pada musim tanam pertama tahun ini tergolong baik. Produksi gabah cukup optimal karena serangan hama relatif minim dan proses panen berjalan lancar.
Namun, persoalan muncul setelah panen. Gabah yang seharusnya segera dijemur agar cepat kering justru sulit ditangani akibat hujan yang turun hampir setiap hari.
“Gabah tidak mungkin dijemur di tempat terbuka. Kalau dipaksakan, malah bisa semakin basah karena hujan,” kata Rini, Jumat (27/2/2026).
Sebagai solusi sementara, Rini memanfaatkan lantai rumah untuk menjemur gabah. Meski tanpa sinar matahari langsung, cara tersebut dinilai paling aman untuk mencegah gabah membusuk.
“Kami jemur di dalam rumah. Supaya cepat kering, gabah sering dibolak-balik dan dibantu kipas angin,” ujarnya.
Kondisi serupa dialami Kismaya, petani asal Kalurahan Pampang. Pada musim panen pertama ini, ia berhasil memanen hampir tiga ton gabah. Namun, cuaca hujan membuat proses pengeringan menjadi tidak optimal.
“Kalau dijemur di luar repot, harus bolak-balik mengemas karena hujan. Akhirnya kami pilih jemur di lantai rumah,” katanya.
Menurut Kismaya, gabah yang disimpan dalam kondisi basah berisiko membusuk atau bahkan tumbuh menjadi benih padi baru. Oleh karena itu, pengeringan tetap harus dilakukan meski dengan cara sederhana.
Ia mengakui teknologi pengering gabah sebenarnya sudah tersedia. Namun, harga alat yang relatif mahal membuat petani kecil belum mampu memilikinya.
“Daripada gabah rusak, lebih aman diangin-anginkan di dalam rumah pakai kipas. Memang lebih lama, tapi kualitas gabah bisa tetap terjaga,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul masih menunggu kepastian kuota transmigrasi 2026 dari pemerintah pusat untuk 15 keluarga calon transmigran.
Registrasi SIM card baru mulai 1 Juli 2026 wajib menggunakan verifikasi biometrik wajah sesuai Permen Komdigi Nomor 7 Tahun 2026.
Institut Kemandirian Dompet Dhuafa memperluas peluang kerja hingga Jepang melalui pelatihan vokasi, kemitraan industri, dan sertifikasi kompetensi.
DJP menetapkan pemungutan pajak marketplace mulai 1 Agustus 2026. Berlaku bagi seller beromzet di atas Rp500 juta per tahun.
Kemenkes menyebut putusan MK yang menolak uji materi UU Kesehatan memperkuat dasar hukum penanganan KLB dan wabah di Indonesia.
Kemenhut mencatat 12,3 juta hektare lahan kritis di Indonesia membutuhkan rehabilitasi di tengah ancaman El Nino dan meningkatnya risiko karhutla.