Varietas Padi Bridantara 8 di Bantul Capai 11,3 Ton GPK Per Hektare

Yosef Leon
Yosef Leon Sabtu, 30 Mei 2026 13:37 WIB
Varietas Padi Bridantara 8 di Bantul Capai 11,3 Ton GPK Per Hektare

Jajaran pengurus Yayasan Swantantra Pangan Nusantara (YSPN) bersama Forkopimda Bantul dan Gapoktan Sari Kismo saat melaksanakan panen bersama demplot varietas Bridantara 8 di Padukuhan Krajan, Poncosari, Srandakan, Bantul, Sabtu (30/5/2026)

Harianjogja.com, BANTUL - Petani di Padukuhan Krajan, Poncosari, Srandakan, Kabupaten Bantul menghasilkan rata-rata 11,3-11,6 ton Gabah Kering Panen (GPK) per hektare dari demonstrasi plot (demplot) varietas Bridantara 8. Produktivitas ini disebut menjadi pemecah rekor hasil panen padi di wilayah ini yang sebelumnya hanya menghasilkan delapan ton GKP per hektare. 

Inovasi ini merupakan kerja sama antara Yayasan Swantantra Pangan Nusantara (YSPN) dengan Gapoktan Sari Kismo, Poncosari. Yayasan yang bergerak di bidang ketahanan pangan itu sebelumnya sudah berkolaborasi dengan petani di wilayah Klaten, Sukoharjo, Karanganyar dan Boyolali. 

Ketua Umum YSPN Marsekal Madya TNI (Purn) Daryatmo mengatakan, dari hasil pengukuran yang dilaksanakan rata-rata hasil panen varietas itu bisa mencapai 11,3-11,6 ton GPK per hektare di Bantul. Adapun jumlah malai atau tandan buahnya bisa sebanyak 383 bulir jauh lebih banyak dengan padi jenis lain yang di angka 280 an bulir. 

"Menurut kami bibit ini memiliki potensi untuk dikembangkan lagi. Tidak hanya 11,6 ton tapi ke depan barangkali bisa 12 ton, atau idealnya memang kalau Brenggolo 8 itu bisa menghasilkan 13 ton per hektare," katanya saat panen bersama yang digelar Sabtu (30/5/2026) di Poncosari, Srandakan, Bantul. 

Daryatmo menambahkan, pihaknya berharap hasil panen demplot itu tidak hanya jadi agenda seremonial belaka melainkan bisa dikembangkan lebih lanjut ke wilayah lain guna mewujudkan ketahanan pangan. Pihaknya pun memastikan bahwa ketersediaan bibit siap untuk disebarluaskan ke petani wilayah lain. 

"Sekarang kan bibitnya masih ada di kami. Nanti pada saatnya apabila ini memang masyarakat memerlukan, ya kami siap," ujarnya.

Dia juga mengklaim bahwa keunggulan lain dari padi varietas ini adalah tahan terhadap serangan hama. Selain itu Bridantara 8 disebutnya tahan terhadap rendaman air lantaran areal lahan di selatan Bantul punya riwayat banjir yang cukup sering. 

"Jadi, ini memang bandel. Usianya 75 sampai 83 hari sudah panen. Itu menurut saya usia tidak terlalu soal, tapi yang penting ini tahan hama dan juga tahan di air," jelasnya. 

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih mengapresiasi upaya dari YSPN dalam meningkatkan produktivitas pertanian wilayah ini. Halim menyebut meskipun Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) wilayahnya sekarang hanya tinggal 14.000 hektare saja, tapi produktivitasnya lebih besar dibandingkan dulu. 

"Ini baru demplot, setelah dievaluasi hasilnya baik, kami harap YSPN bisa mengembangkan di tempat lain," kata Halim. 

Ketua Gapoktan Sari Kismo, Sarjiyo menyampaikan, demplot padi Bridantara 8 berumur 80 hari. Dengan perawatan yang maksimal, kata dia sekarang petani bisa menghasilkan rata-rata 11,3-11,6 ton GPK per hektare. 

"Kami sudah mengubin atau mengambil sampel dari 2 x 2,5 meter lahan, jumlah rumpun rata-rata 124. Lalu jumlah tonase rata-rata 11,3 ton per hektar dan ada juga yang 11,6 ton. Lalu jumlah bulir dalam satu malai padi biasa itu 289 bulir rata-rata. Kalau padi Bridantara 8 ini 383 bulir," jelasnya. 

Sarjiyo menambahkan, pihaknya juga telah menimbang bobot per malai dengan hasil sekitar 25 gram per dua malai atau lebih baik dari padi biasanya yang rata-rata hanya 15 gram. "Potensi untuk dinaikkan produktivitasnya masih sangat besar, karena kami kemarin agak terlambat sedikit untuk menanam. Bibit kami terlalu tua. Jadi potensi untuk menaikkan dari 11,3 ton per hektar sampai dengan ke 13 ton itu masih sangat mungkin," pungkasnya. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online