Advertisement
BPPTKG Teliti Tanah Ambles di Panggang, Warga Diminta Waspada
BPPTKG DIY meneliti tanah ambles di Panggang Gunungkidul menggunakan geolistrik dan drone lidar sebagai dasar penanganan dan mitigasi bencana. - Istimewa.
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIY melakukan kajian geologi atas peristiwa tanah ambles yang terjadi di rumah warga Padukuhan Bolang, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Selasa (20/1/2026). Hasil penelitian tersebut akan menjadi dasar penanganan dan mitigasi kebencanaan di lokasi terdampak.
Peneliti Ahli Pratama BPPTKG DIY Ilham Nurdin mengatakan, tim melakukan pemetaan kondisi tanah di rumah milik Sujanto dengan memadukan teknologi bawah permukaan dan pemotretan udara. Metode tersebut digunakan untuk memperoleh gambaran utuh mengenai struktur tanah dan potensi risiko lanjutan.
Advertisement
Menurut Ilham, pemetaan bawah permukaan dilakukan menggunakan teknologi geolistrik guna mengetahui ukuran lubang serta kondisi rongga tanah di lokasi amblesan. Analisis ini penting untuk mengidentifikasi kemungkinan perluasan rongga yang masih tersembunyi di bawah bangunan.
“Pemetaan geolistrik dilakukan untuk mengetahui seberapa besar rongga tanah dan potensi perkembangan amblesan di sekitar lokasi kejadian,” ujar Ilham kepada wartawan, Selasa (20/1/2026).
BACA JUGA
Selain itu, tim BPPTKG juga melakukan pemotretan dari udara menggunakan drone berbasis teknologi lidar. Ilham menjelaskan, teknologi ini memungkinkan pemetaan kondisi geografis secara detail tanpa terhalang vegetasi di sekitar lokasi.
“Data dari pemetaan bawah tanah dan udara akan kami gabungkan. Hasil kajian tersebut akan menjadi rujukan dalam penanganan tanah ambles di lokasi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di sekitar rumah yang mengalami amblesan. Ia menyebut pihaknya masih menunggu hasil kajian BPPTKG sebelum menentukan langkah penanganan lanjutan.
“Sebelum hasil kajian selesai, kami meminta warga tetap berhati-hati ketika beraktivitas di sekitar lokasi tanah ambles,” ujarnya.
Dukuh Bolang Sukirjo mengatakan, tidak ada yang mengetahui secara pasti waktu terjadinya tanah ambles di dalam rumah Sujanto. Peristiwa tersebut baru diketahui pada Rabu (7/1/2026) sekitar pukul 08.00 WIB saat pemilik rumah membersihkan area bangunan.
Ia menduga kejadian tersebut berkaitan dengan hujan deras yang mengguyur wilayah setempat beberapa waktu sebelumnya. Dari hasil pengecekan, ditemukan rongga besar di bawah pondasi rumah hingga area dapur.
“Dari pondasi terlihat ada lubang dan rongga cukup besar. Setelah dicek, lebarnya sekitar enam meter dengan panjang empat meter dan kedalaman kurang lebih tiga meter,” kata Sukirjo kepada wartawan, Jumat (9/1/2026).
Akibat kejadian tersebut, Sujanto bersama empat anggota keluarganya memilih mengungsi sementara ke rumah orang tua yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi. Langkah ini diambil karena kekhawatiran adanya amblesan susulan yang berpotensi membahayakan keselamatan.
“Risikonya masih tinggi jika terjadi amblesan lanjutan, sehingga pemilik rumah memilih untuk mengungsi sementara,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Jaksa Agung Pastikan Perkara Guru Honorer Muaro Jambi Dihentikan
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- TPA Piyungan Ditutup, Pemkot Jogja Dorong Warga Olah Sampah dari Rumah
- Sleman Siapkan Embung di Wonokerto Jadi Penyangga Air Lereng Merapi
- Dispar Kulonprogo Andalkan Digitalisasi Retribusi Kejar Target PAD
- Halaman SDN Kokap Longsor Dini Hari, Bangunan di Bawahnya Rusak Parah
- Ganti Rugi Tol Jogja-Kulonprogo Cair Rp12,56 Miliar di Argosari
Advertisement
Advertisement



