Festival Dalang Cilik Kulonprogo Jadi Ajang Regenerasi Seniman Wayang

Khairul Ma'arif
Khairul Ma'arif Rabu, 13 Mei 2026 01:17 WIB
Festival Dalang Cilik Kulonprogo Jadi Ajang Regenerasi Seniman Wayang

Harian Jogja/Khairul Ma'arif - Salah satu penampil dalam Festival Dalang Cilik di Auditorium Taman Budaya Kulonprogo yang sedang menunjukan kebolehannya, Minggu (10/5/2026)

Harianjogja.com, KULONPROGO—Suasana backstage Auditorium Taman Budaya Kulonprogo (TBK) dipenuhi ketegangan sekaligus antusiasme para peserta Festival Dalang Cilik 2026, Minggu (10/5/2026). Anak-anak hingga remaja yang masih berstatus pelajar tampak bersiap menunggu giliran tampil untuk menunjukkan kemampuan memainkan wayang di hadapan dewan juri dan penonton.

Sebagian peserta terlihat serius memperhatikan penampilan rival mereka di atas panggung, sementara lainnya sibuk mempersiapkan diri sebelum tampil. Festival Dalang Cilik yang digelar Dinas Kebudayaan (Disbud) Kulonprogo tersebut menjadi salah satu upaya menjaga regenerasi dalang muda di setiap kapanewon di wilayah Kulonprogo.

Setiap peserta mewakili kapanewon tempat tinggal masing-masing. Disbud Kulonprogo menetapkan aturan bahwa peserta tidak diperbolehkan mewakili wilayah lain demi memastikan potensi dalang muda tumbuh merata di seluruh kapanewon.

"Nah, ini kita paksa untuk satu kapanewon menampilkan potensi dalang anak dan dalang remaja sendiri-sendiri. Karena apa? Justru ketika belum tumbuh minat anak-anak, ini menjadi media yang sangat bagus," ujar Kepala Disbud Kulonprogo, Joko Mursito kepada wartawan, Senin (11/5/2026).

Festival tersebut menghadirkan dewan juri yang kompeten di bidang pewayangan. Penampilan para dalang cilik juga semakin semarak dengan iringan para pengrawit yang memainkan gamelan selama pertunjukan berlangsung.

Menurut Joko, festival tersebut tidak hanya menjadi ruang bagi anak-anak dari keluarga dalang, tetapi juga membuka kesempatan bagi peserta yang tidak berasal dari trah seniman wayang.

"Biasanya yang namanya dalang itu ada unsur gen atau keturunan. Nah, ini kita mencoba untuk memberikan ruang kesempatan bagi anak-anak yang memang tidak di lingkup atau di trah dalang. Kemudian kita juga untuk pemerataan pengrawit atau pengiring, ini memang tidak boleh double, tidak boleh rangkap dari kapanewon satu dan kapanewon yang lain gitu. Agar apa? Agar seniman kita, pengrawit kita seluruh Kulonprogo semuanya diberdayakan untuk menyemarakkan, meramaikan, dan menyukseskan festival tahun ini," lanjut Joko.

Meski masih berusia anak-anak dan remaja, para peserta mampu memainkan wayang dengan luwes dan penuh penghayatan. Di bawah sorot lampu panggung, mereka menggerakkan tokoh pewayangan dengan iringan tabuhan gamelan yang membuat pertunjukan terasa seperti dimainkan dalang profesional.

Disbud Kulonprogo mencatat kuota peserta tahun ini terpenuhi, terdiri atas 12 dalang kategori anak dan 12 dalang kategori remaja. Bahkan, beberapa kapanewon disebut lebih dulu menggelar seleksi internal untuk menentukan wakil terbaiknya.

"Kuota 12 anak, 12 remaja ini terpenuhi. Bahkan di kapanewon semacam ada seleksi atau audisi sehingga ini menjadi bukti bahwa semua kapanewon punya jago dalang anak dan dalang remaja yang terbaik di kapanewon masing-masing," ucap Joko.

Dalam kompetisi tersebut, dewan juri menilai lima aspek utama, yakni sabet atau kemampuan memainkan wayang dan vokal dalang, catur atau penguasaan lagu dan sulukan, sanggit atau kreativitas menyusun cerita, keselarasan iringan gamelan, serta kualitas penyajian pertunjukan secara keseluruhan.

Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyediakan uang pembinaan senilai puluhan juta rupiah bagi para pemenang. Untuk kategori anak, hadiah berkisar Rp5 juta hingga Rp7 juta, sedangkan kategori remaja memperoleh hadiah Rp6 juta hingga Rp8 juta. Selain uang pembinaan, para juara juga mendapatkan piagam dan plakat penghargaan.

"Kategori hadiahnya mulai dari Rp6 juta hingga Rp8 juta. Selain uang pembinaan, para juara juga berhak mendapatkan piagam dan plakat," ungkap Joko.

Festival Dalang Cilik 2026 terselenggara berkat dukungan Dana Keistimewaan DIY melalui Dinas Kebudayaan Kulonprogo Tahun Anggaran 2026. Nantinya, peserta terbaik akan dipilih mewakili Kulonprogo dalam kompetisi tingkat DIY.

Ajang tersebut juga terbuka bagi peserta laki-laki maupun perempuan. Salah satu peserta perempuan yang ikut tampil yakni Marsera Desti dari Kapanewon Galur. Siswi SMK tersebut mengaku mulai belajar menjadi dalang sejak duduk di bangku kelas VI SD.

"Sekarang kan budayanya sudah mulai punah makanya saya ingin melestarikannya dengan menjadi dalang," ungkapnya.

Marsera mengaku perjuangannya menekuni dunia pedalangan tidak mudah. Dari rumahnya di Galur, ia harus rutin berlatih di Kapanewon Kokap yang jaraknya cukup jauh demi mengasah kemampuan menjadi dalang muda.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online