Petani Gunungkidul Dapat Bantuan Program Mina Padi Rp1 Miliar
Sawah seluas sepuluh hektare di Kapanewon Ponjong akan mendapat bantuan pengembangan mina padi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan senilai Rp1 miliar.
Panen padi - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Panen padi Gunungkidul tahun 2025 meningkat signifikan hingga mencapai 299.624 ton gabah kering giling atau naik hampir 30.000 ton dibanding tahun sebelumnya.
Kenaikan produksi tidak lepas dari bertambahnya luas tanam menjadi 55.576 hektare yang tersebar di 18 kapanewon. Hasil pengubinan menunjukkan produktivitas mencapai 5,6 ton per hektare, mendorong capaian melampaui target 291.000 ton.
Faktor pendukung lainnya meliputi kemarau basah yang memperluas peluang tanam serta penggunaan varietas unggul. Dinas Pertanian menyebut keberhasilan ini menjadi modal penting menjaga ketahanan pangan daerah, seiring upaya menyediakan benih, pupuk, dan penguatan mitigasi cuaca.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, total luas panen padi di tahun ini mencapai 55.576 hektare yang tersebar di 18 kapanewon di Bumi Handayani. Hasil pengubinan yang dilakukan, rata-rata panen mencapai 5,6 ton per hektarenya.
“Kalau ditotal sudah bisa menghasilkan 299.624 ton gabah kering giling,” katanya, Kamis (11/12/2025).
Menurut Raharjo, hasil panen tersebut sangat bagus karena dapat melampaui target produktivitas di 2025. Pasalnya, tahun ini hanya mematok hasil panen seberat 291.000 ton. “Hasil panen bisa melampaui target,” ungkapnya.
Dibandingkan dengan hasil panen di 2024 juga mengalami kenaikan yang signifikan. Tahun lalu, kata Raharjo, panen padi hanya tercatat seberat 269.841 ton gabah kering giling.
“Ada peningkatan hampir 30.000 ton gabah kering giling. Kenaikan juga tidak lepas dari luas tanam yang meningkat karena tahun lalu hanya 54.499 hektare,” katanya.
Raharjo menambahkan, peningkatan produktivitas juga tidak lepas dari adanya kemarau basah yang terjadi di tahun ini. fenomena itu memberikan dampak positif terhadap luas tanam yang berujung pada peningkatan produksi gabah di Bumi Handayani.
Keberhasilan ini juga tidak lepas dari beberapa faktor, seperti pola tanam yang lebih tertata, penggunaan varietas unggul, serta intensifikasi pendampingan oleh para penyuluh pertanian. “Dengan capaian ini, kami optimistis produksi padi Gunungkidul tetap terjaga dan mampu mendukung ketahanan pangan daerah,” ujar Raharjo.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi menambahkan, terus berupaya meningkatkan produktivitas gabah di Kabupaten Gunungkidul. Capaian produksi padi tahun ini menjadi bukti konsistensi kerja petani dan aparatur pertanian di lapangan untuk memperkuat ketahanan pangan di masyarakat.
“Kami ingin memastikan program ketahanan pangan tetap berjalan baik, mulai dari penyediaan benih, pupuk, hingga mitigasi risiko cuaca ekstrem. Jadi, hasilnya bisa dilihat dengan hasil panen yang lebih optimal,” kata Rismiyadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sawah seluas sepuluh hektare di Kapanewon Ponjong akan mendapat bantuan pengembangan mina padi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan senilai Rp1 miliar.
Gempa DIY membuat perjalanan kereta sempat dihentikan sementara. KAI Daop 6 memastikan seluruh operasional kereta kini kembali normal dan aman.
Jadwal KRL Solo-Jogja hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Alumni FHUI 1991 menggelar reuni di Bantul dengan menanam pohon bersama lansia dan ABK sebagai legacy bagi lingkungan dan masyarakat.
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Jadwal KRL Jogja-Solo hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.