DPRD Gunungkidul Minta Proyek Infrastruktur 2026 Berkualitas dan Tepat Waktu
Komisi C DPRD Gunungkidul meminta proyek infrastruktur 2026 selesai tepat waktu dan berkualitas agar tak mengganggu penyerapan anggaran.
Wisata Pantai Krakal Gunungkidul. - ist/Visiting Jogja
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pertanian dan Pangan terus memperkuat program budidaya kelapa sebagai langkah strategis untuk mendukung sektor kepariwisataan di wilayah Bumi Handayani.
Program ini ditandai dengan komitmen penyaluran puluhan ribu bibit kelapa kepada petani, yang diharapkan mampu meningkatkan produksi sekaligus memenuhi kebutuhan wisata, khususnya di kawasan pantai yang menjadi destinasi unggulan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, menyebut bahwa kelapa merupakan komoditas yang sangat potensial karena memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan wisatawan.
“Buahnya bisa untuk memasok kebutuhan minum bagi para pelancong, khususnya di kawasan pantai,” kata Raharjo, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, program bantuan kelapa genjah telah berjalan sejak beberapa tahun terakhir dengan jumlah yang terus meningkat dari ratusan batang menjadi belasan ribu bibit.
Pada tahun sebelumnya, pemerintah telah menyalurkan sekitar 11.000 batang bibit kelapa genjah ke sejumlah kapanewon seperti Tanjungsari, Girisubo, Saptosari, Ngawen, Nglipar, Ponjong, Karangmojo, Patuk, Panggang, Purwosari, Tepus, dan Semin.
“Tahun ini masih ada bantuan lagi dengan jumlah yang lebih banyak karena mencapai 21.000 batang,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa bantuan bibit tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan produktivitas kelapa, tetapi juga mendorong regenerasi pohon kelapa yang sudah tua agar hasil panen tetap optimal dan berkelanjutan.
Raharjo menegaskan bahwa potensi kelapa di Gunungkidul sangat besar, terutama untuk mendukung kebutuhan sektor pariwisata yang terus berkembang di wilayah pesisir selatan.
Sementara itu, salah satu pelaku usaha kuliner di Pantai Kukup, Kalurahan Kemadang, Tanjungsari, Mujiyanto, mengungkapkan bahwa kebutuhan kelapa muda di kawasan wisata cukup tinggi, namun pasokan lokal masih terbatas.
Ia menyebut sebagian besar kebutuhan kelapa masih dipasok dari luar daerah, seperti Kulonprogo dan Kebumen, Jawa Tengah, karena produksi lokal belum mencukupi permintaan pasar wisata.
“Untuk pasokan lokal tidak bisa memenuhi karena hasilnya sedikit. Makanya, banyak pedagang di pantai yang mengambil pengepul dari Kulonprogo atau Kebumen,” kata Mujiyanto.
Ia mendukung program pemerintah dalam pengembangan budidaya kelapa karena dinilai penting untuk memperkuat rantai pasok di sektor pariwisata.
Namun demikian, ia menilai perlu adanya sosialisasi kepada petani mengingat tanaman kelapa membutuhkan waktu relatif lama untuk berbuah, yakni sekitar lima tahun, sehingga tidak bisa memberikan hasil secara instan.
“Banyak yang pengen instan alias cepat meraih hasil. Sedangkan pohon kelapa berbuah minimal lima tahun, makanya harus ada sosialisasi agar budidaya bisa berhasil,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Komisi C DPRD Gunungkidul meminta proyek infrastruktur 2026 selesai tepat waktu dan berkualitas agar tak mengganggu penyerapan anggaran.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Rabu 23 September 2026 tersedia 10 perjalanan, lengkap dengan jam keberangkatan kedua arah.
Jadwal KA Bandara YIA Rabu 23 September 2026 tersedia 24 perjalanan YIA-Tugu dan sebaliknya, mulai dini hari hingga malam.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 23 September 2026 lengkap dengan 15 perjalanan, waktu keberangkatan, stasiun, dan tarif Rp8.000.
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 23 September 2026 dari Palur menuju Jogja lengkap dengan waktu keberangkatan di setiap stasiun.
Dana pendidikan gratis Rp93,7 triliun masih berupa hitungan awal. Mendiktisaintek akan membahasnya bersama Kemenkeu dan Danantara.