Geopark Gunungsewu Akan Dinilai Lagi UNESCO, Ini Persiapan Gunungkidul
Gunungkidul bersiap menghadapi revalidasi Geopark Gunungsewu sebagai UNESCO Global Geopark pada 2027 dengan membenahi sejumlah catatan UNESCO.
Seorang pengendara motor sedang melintas di lokasi longsor di Tanjakan Clongop di Kalurahan Watugajah, Gedangsari yang belum ditangani sampai sekarang, Senin (3/8). /Harian Jogja-David Kurniawan.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Titik longsor di kawasan Tanjakan Clongop, Kalurahan Watugajah, Kapanewon Gedangsari, hingga kini belum mendapatkan penanganan meski sudah terjadi beberapa waktu lalu. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran pengguna jalan karena material longsoran masih berada di badan jalan dan berpotensi memicu longsor susulan, terutama saat musim hujan kembali datang.
Sejumlah pengguna jalan berharap Pemerintah DIY segera melakukan perbaikan agar jalur provinsi tersebut kembali aman dilalui. Selain membersihkan material longsoran, masyarakat juga meminta dilakukan penguatan tebing untuk mengurangi risiko longsor di kemudian hari.
Jalur Lebih Landai, Ancaman Longsor Masih Mengintai
Salah seorang pengendara motor, Eko Mardiono, mengatakan normalisasi akses di Tanjakan Clongop membuat kondisi jalan jauh lebih landai dibandingkan jalur lama. Perubahan tersebut dinilai berhasil mengurangi risiko kecelakaan karena tanjakan ekstrem sudah tidak ada lagi.
Namun, menurutnya, potensi bahaya belum sepenuhnya hilang karena masih terdapat tebing longsor yang belum diperbaiki.
"Saya sering lewat di jalur Clongop, kondisi jalannya bagus dan tidak lagi ada tanjakan yang curam," kata Eko, Senin (3/8/2026).
Ia mengungkapkan material longsoran masih terlihat berada di badan jalan meskipun rambu-rambu peringatan telah dipasang.
"Meman gada rambu-rambu peringatan, tapi longsoran belum ditangani," katanya.
Eko berharap material longsor segera dibersihkan sekaligus dilakukan upaya memperkuat tebing agar tidak kembali longsor.
"Saya lihat tebing lain dilakukan pemlesteran. Mungkin bisa dilakukan hal yang sama, tapi dengan kualitas yang diperkuat," kata warga asal Pandes, Kecamatan Wedi, tersebut.
Perbaikan Dinilai Tepat Dilakukan Saat Musim Kemarau
Harapan serupa disampaikan Wartini, warga Padukuhan Plasan, Kalurahan Watugajah. Menurutnya, musim kemarau menjadi waktu yang tepat untuk melakukan penanganan karena potensi longsor relatif lebih rendah dibandingkan musim penghujan.
Ia menilai pekerjaan perbaikan sebaiknya segera diselesaikan sehingga ketika hujan kembali turun, kondisi tebing sudah lebih aman.
"Di sepanjang jalur Clongop memang rawan karena didominasi terbing perbukitan. Makanya saat ada yang longsor segera ditangani dan jangan sampai berlarut-larut," katanya.
Pemkab Sebut Perbaikan Terkendala Status Lahan
Panewu Gedangsari, Eko Krisdiyanto, membenarkan masih ada titik longsor di jalur Clongop yang belum mendapatkan penanganan. Menurutnya, longsor tersebut sudah terjadi cukup lama.
"Kalau tidak salah saat terjadi hujan terakhir. Kemungkinan longsor di awal April, tapi hingga sekarang kondisinya belum tertangani dengan baik," kata Eko.
Ia menjelaskan jalur Clongop merupakan jalan provinsi sehingga kewenangan perbaikannya berada di Pemerintah DIY. Meski demikian, koordinasi untuk percepatan penanganan terus dilakukan.
Menurut informasi yang diterimanya, proses pengerukan terkendala status kepemilikan tebing yang merupakan milik warga sehingga membutuhkan mekanisme ganti rugi sebelum pekerjaan dapat dilakukan.
"Informasi yang saya terima, pengerukan terkendala status tebing, milik warga sehingga saat dikeruk harus ada proses ganti rugi. Mudah-mudahan ada solusi sehingga bisa segera dilakukan penanganan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gunungkidul bersiap menghadapi revalidasi Geopark Gunungsewu sebagai UNESCO Global Geopark pada 2027 dengan membenahi sejumlah catatan UNESCO.
Cukup Rp8.000, Ini Jadwal Lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo Hari Ini.
Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 20 September 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur. Simak jadwal tiap stasiun hingga Jogja.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 20 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarif KRL Rp8.000.
MilkLife Soccer Challenge Yogyakarta 2026 diikuti 1.294 atlet. Satoru Mochizuki melihat peluang lahirnya bibit timnas dari turnamen usia dini.
Veda Ega Pratama gagal lolos ke Q2 dan akan start dari posisi ke-19 Moto3 Austria 2026. Brian Uriarte merebut pole position dari David Almansa.