Dihantam Pandemi, Pengusaha Kafe di Sleman Tetap Buka meski Ngos-ngosan

Asep Sutrisna, owner Es Bang Joe Seturan. - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
03 Juli 2021 18:07 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Kehidupan Asep Sutrisna, owner Es Bang Joe Seturan berubah sejak badai pandemi Covid-19 melanda DIY. Ia tetap menjalankan usahanya untuk bisa bertahan hidup. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Abdul Hamid Razak.

Lima blender berwarna putih, yang biasa digunakan Asep meramu minuman milkshake masih terata rapi di hadapannya. Biasanya, Asep sering menyalakan dinamo dan mendengarkan pisau-pisau blender berputar-putar. Kemudian, milkshake yang sudah diramu dihidangkan kepada pelanggan.

"Ya sebelum Covid-19, rata-rata 100 cup bisa terjual. Tapi semuanya berubah total sejak pandemi Maret 2020 lalu. Saya masih buka sampai saat ini ya benar-benar untuk bertahan hidup," kata Asep kepada Harian Jogja, Minggu (27/6/2021).

Meja kursi yang sedari pagi dia tata rapi, belum tersentuh pelanggan. Sementara seorang karyawan Asep hanya sibuk bermain ponsel, karena tak ada gawean yang harus dilakukan.

Sebelum pandemi, Asep punya lima karyawan. Begitu pandemi melanda, empat karyawan terpaksa dirumahkan dan hanya satu orang dipertahankan.

Ini terpaksa dilakukan Asep karena kebanyakan pelanggannya berasal dari kalangan mahasiswa dari berbagai kampus. Lokasi kafe yang strategis di pinggir Selokan Mataram, Kledokan, Caturtunggal, Kapanewon Depok, membuat kafenya (sebelum pandemi) selalu ramai, dari siang sampai larut malam.

"Kalau sekarang, pelanggan [mahasiswa] sudah pada pulang semua. Kadang ada, kadang enggak ada [yang datang]. Ya paling banyak bisa terjual 17 cup," ujarnya.

Asep menyebut omzetnya menurun hingga 90%. Meskipun pandemi, ia mengaku tak pernah tutup. Ibarat pepatah, tak kerja tak makan, itulah yang dialami Asep saat ini.

Selain dihadapkan pada beban sewa lahan, Asep harus memikirkan nasib keluarganya yang masih tinggal di Tajem, Maguwoharjo, Sleman.

Meski tanggungan cukup berat, Asep tak patah semangat. Ia tetap membuka usahanya, teguh mengais rezeki. "Mau bagaimana lagi? Cari modal saat ini susah, susah bayarnya. Sudah gunakan sistem online, ya belum menjanjikan. Padahal saya masih punya tanggungan keluarga," kata suami Ika Mahardika ini.

Kisah perih yang cukup menampar Asep saat Lebaran Mei lalu. Ia begitu sedih, karena tak mampu memberikan baju Lebaran kepada kedua anaknya, Muhammad Adiyansyah, 11 dan Muhammad Ferdiansyah, 5. "Saya sampai minta maaf sama mereka [anak-anak]. Maaf tahun ini ayah tidak bisa membelikan baju baru [Lebaran]," katanya.

Mata Asep kemudian berkaca-kaca. Ia teringat seusai meminta maaf saat malam gema takbir berkumandang itu, anaknya Ferdansyah kemudian menggandeng tangannya sambil berucap. "Ya sudah yah, tidak apa-apa. Sekarang ayah tutup kafenya, beliin sandalnya dulu. Besok-besok kalau ada rezeki baru belikan baju lebaran," ujar Asep menirukan jawaban anak keduanya.

Asep sudah ber-KTP Sleman. Ibu dan keluarganya masih tinggal di Majalengka, Jawa Barat. Sudah tiga tahun ia tak pulang kampung mengingat kondisi pandemi ini. Selain secara ekonomi masih sulit, ia khawatir ibunya yang sudah sepuh terpapar Covid-19. "Ya suatu saat pasti saya pulang," ujar Asep.

Keterpurukan ekonomi akibat pandemi sebenarnya tidak hanya dialami Asep. Di sekitar Babarsari dan Seturan, banyak tempat usaha seperti kafe dan tempat tongkrongan lainnya yang memilih tutup. Sebelum masa pandemi wilayah itu bak kota satelit di pinggir Kota Jogja yang ramai diserbu mahasiswa.

Ini tak lepas karena kawasan Babarsari dan Seturan tidak jauh dari kampus-kampus ternama dan indekos yang menjamur. Sayangnya, saat pandemi sebagian besar mahasiswanya memilih pulang kampung.

Kehilangan pelanggan, banyak pengelola kafe tak kuat untuk beroperasi. Tidak sedikit juga bangunan yang sebelumnya dijadikan kafe saat ini ditawarkan ke publik untuk dikontrak. "Kalau kami masih beroperasi, meskipun jumlah pelanggan turun. Sekitar 50 persen," kata Vivin, salah seorang karyawan Kafe Kopi Lain Hati Babarsari.

Di kafe itu, terlihat hanya dua pelanggan yang datang. Sembari menikmati hidangan, keduanya juga sibuk berselancar di dunia maya menggunakan ponelnya masing-masing. "Ya kami mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Soal jarak tempat duduk diatur, termasuk kewajiban memakai masker," ujar Vivin.

Para pengelola kafe berharap pandemi segera berakhir agar perekonomian kembali berjalan normal. PPKM berbasis mikro yang diterapkan pemerintah, dinilai tak banyak membantu perputaran ekonomi karena pandemi sampai saat ini terus berlanjut.

"Tetap patuhi protokol kesehatan. Mudah-mudahan pandemi segera sirna, itu harapan kami semua," kata Vivin.