Ada Banyak Bed Kosong, RS Darurat Covid-19 di Sleman Baru Diisi 5 Pasien

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo melihat kesiapan operasional RS Darurat Khusus Covid-19 Respati di Jalan Tajem, Senin (19/7 - 2021)/ist
20 Juli 2021 18:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN– Rumah Sakit Darurat Khusus Covid 19 (RS-DKC) Respati yang diresmikan, pada Senin (19/7/2021), beroperasi di tengah keterbatasan SDM Kesehatan dan oksigen. Dari 50 bed yang disiapkan, ada sekitar lima pasien yang dirawat.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengatakan di RS-DKC ini sudah tersedia 100 bed untuk merawat pasien Covid-19 bergejala sedang. Hanya saja, untuk tahap awal yang diaktivasi baru 50 bed menyesuaikan dengan jumlah SDM Kesehatan yang ada.

"Kami tidak menunggu sampai SDM Kesehatan lengkap. Ini dalam kondisi darurat, yang penting bisa jalan dulu. Termasuk oksigen, masih terus berproses. Sampai siang ini laporannya baru lima pasien yang dirawat," jelasnya, usai peresmian RS DKC Respati, Senin (19/7/2021).

Saat ini, lanjut Joko, RS DKC Respati memiliki SDM Kesehatan yang masih terbatas. Dokter spesialis penyakit dalam dan Dokter spesialis paru masing-masing satu orang. Untuk dokter umum lima orang, apoteker satu orang dan perawat dan bidan sebanyak 14 orang. Lainnya merupakan tenaga penunjang.

BACA JUGA: Kumpulan Meme Kocak Iduladha, Ada Sapi Disindir sama Babi

"Saat ini infonya baru digunakan lima pasien. Meski sudah tersedia 100 bed tapi oksigen baru ada 17 tabung. RSDKC ini melayani gejala ringan dan sedang, tidak ada perawatan ICU (untuk perawatan gejala berat). Ini dulu yang kami aktifkan sembil terus berproses," katanya.

Joko mengatakan persiapan operasional RS DKC ini dilakukan dalam empat pekan. Operasional RS Darurat Khusus Covid-19 ini untuk mengatasi kondisi Bed Occupancy Ratio (BOR) yang tinggi di rumah-rumah sakit rujukan. Tingginya BOR atau kapasitas tempat tidur berdampak pada kekurangan bed bagi pasien.

"RS ini disiapkan sejak sebulan yang lalu saat terjadi krisis bed untuk merawat pasien-pasien Covid-19. Dioperasikannya RS ini merupakan bagian dari penanganan masalah kekurangan Bed bagi pasien," kata Joko.

Kepala RS DKC Respati Tunggul Birowo mengatakan rumah sakit ini melayani pasien bergejala ringan-sedang setelah mendapat rujukan dari fasilitas kesehatan (Faskes) pertama. RS DKC belum bisa melayani pasien dengan gejala berat.

"Sebenarnya yang menghubungi RS sejak kemarin rata-rata kondisi pasien agak berat. Jadi dokter yang menangani belum sanggup karena RS ini tidak memiliki fasilitas ICU," katanya.

Kepala Seksi Registrasi, Lisensi, Dan Mutu Pelayanan Dinkes Sleman ini menjelaskan pasien yang masuk ke RS DKC Respati ini harus melalui mekanisme rujukan dari Puskesmas di wilah Sleman. Dengan saturasi oksigen pasien minimal 94. "Pasien harus positif covid terbukti dengan hasil swab PCR atau antigen positif. Ini dilakukan supaya tidak chaos di UGD," katanya.

Adapun Bupati Sleman Kustini menjelaskan, RS Darurat tersebut didukung oleh tenaga perawat, apoteker, rekam medis, dan tenaga pendukung lainnya. Selain layanan tempat rawat inap, tersedia pula instalasi gawat darurat khusus Covid-19 untuk menetapkan status pasien masuk kategori sedang atau berat.

"RS ini mulai beroperasi sejak diresmikan. Teknisnya, bagi pasien yang mendapat rujukan dari fasilitas kesehatan pertama (Puskesmas) masuk ke dalam kategori sedang, maka pasien dapat diterima untuk melakukan perawatan di RS Darurat Covid 19," katanya.

Untuk pasien bergelaja berat yang membutuhkan penanganan lanjutan, kata Kustini, maka akan dirujuk segera ke rumah sakit rujukan Covid-19. Sebagai dukungan dalam pelayanan, Rumah Sakit darurat Covid-19 ini juga menyediakan 1 unit ambulans.