Target RPJMD DIY Dikejar di Tahun Terakhir, Kemiskinan Jadi Tantangan
RPJMD DIY 2022-2027 masuk tahun terakhir. Pemda optimistis capai target meski kemiskinan dan ketimpangan masih jadi tantangan.
Ilustrasi warga memerhatikan ikan di kolam /Harian Jogja-Bernadheta Dian Saraswati
Harianjogja.com, SLEMAN-Memasuki puncak musim kemarau, pembudidaya ikan mulai merasakan dampak bediding.
Bediding adalah istilah yang digunakan masyarakat Jawa untuk menamai fenomena suhu udara dingin di malam hari saat musim kemarau.
Salah satu pembudidaya ikan Minaraya, Kaliwaru, Kalurahan Selomartani, Kapanewon Kalasan, Sri Hartono, menjelaskan bediding menurunkan suhu air sehingga mempengaruhi kondisi kesehatan pada jenis ikan tertentu. “Yang paling banyak kena ikan Koi, ikan Mas. Ikan Nila juga kena tapi tidak seberapa,” ujarnya, Kamis (5/8/2021).
Ia menuturkan kondisi ikan koi miliknya selama terdampak fenomena ini menunjukkan gejala sakit dengan nafsu makan berkurang, berenang di pinggiran kolam dan akhirnya mati. Fenomena ini kata dia, sering terjadi pada bulan Juli hingga awal September.
Untuk mengatasinya, ia melakukan beberapa hal, seperti mengganti sebagian air kolam agar suhu tidak berubah drastis. Kemudian karena nafsu makan juga berkurang, maka pemberian pakan pun dikurangi. “Dibuat stabil pokoknya kolam, jangan ada perubahan drastis,” ungkapnya.
Meski demikian beberapa jenis ikan tidak terpengaruh adanya fenomena ini. Salah satunya lele yang justru berkembang bagus pada bulan ini. Kondisi akan berlangsung membaik pada bulan September, dimana suhu air sudah kembali lebih hangat.
Fenomena suhu udara dingin sebetulnya merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau yakni sekitar Juli hingga September.
Baca juga: Masih 25%, Penurunan Kasus Covid Indonesia Belum Capai Rekomendasi WHO
Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Peternakan Sleman, Suparmono, menjelaskan pada sektor perikanan, suhu rendah di air akan menyebabkan laju metabolisme tubuh ikan berjalan lambat dan nafsu makan ikan menurun, efeknya pertumbuhan akan lambat. Suhu dingin memicu pertumbuhan parasit, bakteri patogen dan virus di air.
“Pada kondisi ini, serangan bakteri maupun virus lebih sering terjadi. Biasanya banyak ditemukan kasus serangan parasit white spot [bintik putih], Aeromonas [bakteri] dan KHV [virus]. KHV menyerang ikan koi dan ikan mas, White spot dan aeromonas seringkali menyerang benih lele, ikan nila dan ikan hias,” katanya.
Keadaan saat ini sampai dengan awal September memicu goncangan suhu udara dan air, suhu malam hari dingin dan suhu siang hari panas. Perubahan suhu mendadak lebih dari 3° celcius menyebabkan ikan stres.
Dampaknya ikan akan berkurang nafsu makannya dan mudah terserang penyakit. Pada kolam yang dalam, goncangan atau perubahan suhu berjalan lebih lambat, sebalikan pada kolam dangkal perubahan lebih cepat.
Sejumlah upaya yang bisa dilakukan pembudidaya ikan antara lain pemberian imunostimulan pada ikan, pengendalian kualitas air, pengurangan padat tebar ikan dan pemberian pakan yang selektif. Perangsangan Imunostimulan dilakukan dengan pemberian vitamin dan pemanfaatan probiotik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RPJMD DIY 2022-2027 masuk tahun terakhir. Pemda optimistis capai target meski kemiskinan dan ketimpangan masih jadi tantangan.
Katedral Jakarta gelar 4 misa Kenaikan Yesus 2026, 2.300 umat hadir. Polisi amankan 860 gereja selama libur panjang.
Xi Jinping dan Donald Trump sepakat bangun hubungan baru China-AS, tapi isu Taiwan jadi ancaman serius konflik global.
Leo/Daniel melaju ke perempat final Thailand Open 2026 usai kalahkan wakil China. Siap hadapi tuan rumah dengan permainan agresif.
Gunungkidul ajukan pembangunan 9 jembatan senilai Rp27 miliar. Gantikan crossway rawan banjir demi kelancaran akses warga.
Disbud Bantul angkat sejarah Tan Djin Sing dan Madukismo. Generasi muda diajak memahami jejak Tionghoa di Jogja.