Pandemi Harus Jaga Jarak, tapi Bukan Jarak Kebersamaan

Doa dan Refleksi Komunitas Antar Agama yang diselenggarakan Yayasan dan Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa via Zoom, Senin (16/8 - 2021).
17 Agustus 2021 00:37 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Pemerintah meminta masyarakat mematuhi protokol kesehatan (prokes), salah satunya menjaga jarak agar terhindar dari Covid-19. Meski demikian, rasa persaudaraan dan kebersamaan harus tetap dijaga.

Ustaz Beny Susanto sebagai salah satu pemuka agama Islam di Jogja mengatakan konteks mengunjungi saudara atau teman di masa pandemi Covid-19 memang berbeda. Jika biasanya dilakukan dengan tatap muka, tetapi saat ini dilakukan secara virtual. “[Pertemuan virtual] Demi menjaga kebersamaan,” katanya dalam Doa dan Refleksi Komunitas Antar Agama yang diselenggarakan Yayasan dan Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa via Zoom, Senin (16/8/2021).

Menurutnya dalam peringatan HUT RI ke-76 ini, kebersamaan dibutuhkan untuk memerangi hoaks dan kebencian. Mengingat di masa pandemi ini berita bohong banyak ditemukan di masyarakat.

Sementara itu mewakili umat Kristen Protestan, Pendeta Indrianto Adiatmo mengakui pandemi membuat relasi menjadi terbatasi baik karena prokes maupun kekhawatiran akan terpapar Covid-19.

Bhikkhu Badrapalo mewakili umat Hindu mengingatkan masyarakat untuk eling lan waspada. Eling atau ingat untuk saling menjaga satu sama lain demi kemakmuran dan kedamaian hidup. “Kita sebagai generasi muda yang diwarisi untuk mengenyam kemerdekaan tidak serta merta menikmati saja tetapi juga mencurahkan perhatian dalam pendidikan dan membangun kerukunan,” tutur Bhikkhu.

Romo A.R. Yudono Suwondo Pr yang mewakili umat Katolik menuturkan bahwa bangsa Indonesia yang diwarisi kemerdekaan perlu memiliki semangat nguri-uri persaudaraan, toleransi, tradisi, dan hal baik lainnya di masyarakat. Setelah nguri-uri kemudian nggemateni dengan menyayangi dan memperhatikan saudara tanpa membedakan.

“Kita optimistis Indonesia akan bangkit [dari pandemi Covid-19]. Kita punya 76 tahun sejarah yang harus kita rawat,” kata pastor yang memimpin area Kevikepan Jogja Barat tersebut.

Dari pemuka agama Budha, PMd. Totok Tejamano menilai pandemi Covid-19 sebagai ujian ketangguhan tetapi di sisi lain justru melahirkan nilai positif masyarakat untuk bersatu padu. “Kalau dulu berjuang melawan bangsa asing tapi sekarang penjajah adalah pandemi. Penderitaan ini sarana kita bersatu saling menguatkan,” kata dia.