Air Berbuih di Bantaran Sungai Gajahwong Cemari Lingkungan Giwangan

Tangkapan layar kondisi air yang berbuih di bantaran Sungai Gajahwong, Kelurahan Giwangan yang diambil Kamis (19/8/2021). - Istimewa
25 Agustus 2021 17:27 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Warga di bantaran Sungai Gajahwong, Kelurahan Giwangan, Kota Jogja, mengeluh soal kondisi air yang terlihat berbuih dan tercemar sejak beberapa pekan terakhir. 

Fenomena itu disebut warga bukan terjadi di tahun ini saja, melainkan sudah sejak lama dan dinilai cukup mengganggu terlebih bagi kelompok yang menggunakan air sungai untuk daya tarik wisata serta budidaya ikan.

BACA JUGA: Ratusan Anak di Gunungkidul Kehilangan Orang Tua karena Corona

"Kami belum bisa memastikan busa yang terlihat di Sungai Gajahwong itu mengandung apa. Dulu pernah juga, air sungai itu bau dan berminyak seperti oli, kalau seperti itu tentu sangat memengaruhi ikan atau habitat lain yang ada di sungai," kata Andi Nur Wijanarko, salah satu pengurus Komunitas Bendung Lepen, Rabu (25/8/2021).

Bendung Lepen merupakan wahana wisata alternatif yang beberapa waktu lalu sempat ramai dikunjungi warga. Destinasi yang mengandalkan wisata air dan spot selfie menarik ini sangat bergantung pada kualitas air pada Sungai Gajahwong. 

Menurut Andi, secara visual buih-buih yang muncul di permukaan air itu jelas sangat mengganggu pandangan mata.

Dia menyebut buih yang muncul itu juga tidak kerap kali muncul. Kadang kala air berbuih saat sore hari dan tidak bisa dipastikan kapan waktu munculnya. 

"Kalau sejak kapan memang sudah lama kejadiannya seperti itu. Namun informasi dari warga juga belum tahu itu asalnya dari limbah atau bukan," katanya.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja mengungkapkan air berbuih yang ada di Sungai Gajahwong tersebut telah muncul sejak tahun lalu. September 2020 lalu, DLH juga mendapati kondisi air serupa dan muncul karena debit air yang menurun karena musim kemarau. Selain itu, buih pada permukaan air juga hanya tampak pada aliran yang terdapat terjunan dan kondisi dasar yang dangkal, sehingga memungkinkan air menimbulkan buih.

"Pada saat musim kemarau konsentrasi fosfat detergen kan tinggi dan itu memang merata di semua sungai, tahun lalu kami juga sudah ambil sampel dan memang rata-rata kualitas airnya dari hulu sampai hilir itu sama jadi tidak ada indikasi di titik tertentu terjadi seperti itu atau tinggi," kata Kepala Seksi Pengawasan Lingkungan Hidup DLH Kota Jogja, Intan Dewani.

Intan menambahkan air berbuih juga tidak ditemukan pada aliran air yang datar saat pengambilan sampel di tahun lalu. Jawatannya juga belum menemukan asal muasal yang spesifik terkait dengan kemunculan buih pada permukaan air terjunan itu. 

"Kami juga belum tahu itu dari mana, jadi kalau dilihat dari sampel yang diambil itu tren dan kondisi air hampir sama di lima titik sungai yang ada di Kota Jogja, jadi bukan satu titik saja," katanya.

BACA JUGA: Sultan Tak Ingin Sekolah & Kampus DIY Buru-Buru Dibuka karena Risikonya Besar

Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Lingkungan Hidup DLH Kota Jogja, Very Tri Jatmiko, menyebut biasanya fosfat detergen muncul dari sampah rumah tangga. Penggunaan kandungan itu pada industri juga sudah jarang ditemui. "Tapi kami tidak juga menuduh rumah tangga yang mencemari, tapi memang salah satu sumbernya itu dari sabun dan bekas cucian," ujarnya.

Di sisi lain, Very mengatakan hampir seluruh sungai di Kota Jogja telah tercemar dan airnya tidak dianjurkan untuk penggunaan rumah tangga. Selain kandungan bakteri e-coli yang tinggi, musim kemarau dan letak aliran sungai yang berada di sisi hilir juga kian memperparah kualitas air di Kota Jogja.