Menuju Zero Carbon lewat SPBU Ramah Lingkungan

SPBU COCO Pertamina 41.551.01, di Jalan Kompol Suprapto Lempuyangan, Jumat (1/10/2021). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
09 Oktober 2021 19:37 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Energi ramah lingkungan saat ini menjadi perhatian banyak pihak, tidak terkecuali Pertamina. Badan Usaha Milik Negara ini mencoba menghadirkan kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan (go sustainable). Salah satunya diwujudkan dengan menghadirkan green energy station (GES), yang merupakan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dengan konsep ramah lingkungan dan modern. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Herlambang Jati Kusumo.

Kendaraan roda dua dan roda empat silih berganti datang mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM), di SPBU COCO Pertamina 41.551.01, di Jalan Kompol Suprapto Lempuyangan, Jumat (1/10/2021). Secara sepintas aktivitas di tempat itutidak banyak berbeda dengan SPBU lainnya. Para pelanggan mengantre, petugas SPBU memberi pelayanan.

Namun, ada sejumlah perbedaan di SPBU ini, jika memperhatikan totem di bagian depan SPBU. Tulisan Green Energy Station (GES) dengan kombinasi warna hijau dan putih terpampang di totem SPBU. Di sisi lainnya, di bagian atas kantor, panel surya dua baris memanjang telah terpasang, dan terhubung dengan inverter di dalam ruang kantor. Penggunaan Solar Photo Voltaic (PV) atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) tersebut sebagai salah satu sumber energi mandiri dalam operasional SPBU.

Area Manager Communication, Relations, & Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah Subholding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero), Brasto Galih Nugroho, menjelaskan Solar PV memberikan dampak yang cukup signifikan untuk mengurangi polusi, efek rumah kaca, dan efisiensi biaya operasional SPBU. Untuk SPBU dengan kapasitas Solar PV 6.3 Kwp, rata-rata penghematan per bulannya sekitar 12,5% dari total penggunaan listrik untuk operasional. “GES menghadirkan konsep ramah lingkungan dan modern. Menjadi salah satu wujud komitmen Pertamina dalam mengimplementasikan aspek Environmental, Social, Governance [ESG] dalam kegiatan usaha,” ujar Brasto, Jumat.

Brasto mengungkapkan selain penggunaan sumber energi baru dan terbarukan dalam GES, juga mengedepankan digitalisasi. Digitalisasi diterapkan baik untuk pemantauan stok BBM, sehingga dapat memonitor kebutuhan dan pasokan BBM agar ketersediaannya selalu terjaga. Digitalisasi juga diterapkan untuk memberikan layanan pada konsumen, melalui aplikasi MyPertamina, sehingga lebih praktis, mudah, dan memberikan banyak keuntungan kepada konsumen

Di wilayah DIY sendiri, selain SPBU COCO Pertamina 41.551.01; ada SPBU Pertamina Tegalrejo 41.552.02 di Jalan HOS. Cokroaminoto, Tegalrejo, Kota Jogja; dan di Sleman ada SPBU COCO Pertamina 41.552.01 Laksda Adisutjipto. Brasto mengatakan ke depan diharapkan sejumlah SPBU lain dapat menerapkan GES.

Selain itu, stasiun pengisian untuk kendaraan listrik yang telah ada di SPBU di Jakarta dapat diterapkan juga di wilayah Jateng maupun DIY.  Brasto juga mengajak konsumen untuk menggunakan produk BBM ramah lingkungan, yaitu Pertamax Research Octane Number (RON) 92 dan Pertamax Turbo RON 98 untuk jenis gasoline, serta Dexlite Cetane Number (CN) 51 dan Pertamina Dex CN 53 untuk jenis gasoil.

Ramah Lingkungan

Pengamat Ekonomi Energi UGM, Fahmy Radhi, mengatakan sudah terbukti pencemaran membahayakan bagi manusia. Penyebab pencemaran lingkungan dapat dari berbagai hal, seperti penggunaan energi dari fosil. Dampak pencemaran tidak hanya secara langsung, tetapi juga bisa dalam perubahan iklim secara ekstrem.

“Indonesia termasuk negara yang meratifikasi Paris Agreement, di mana setiap negara berkewajiban mencapai zero carbon pada 2050. Sehingga ada kewajiban untuk mengubah energi fosil yang tidak ramah lingkungan menjadi green energy. Apa yang dilakukan oleh Pertamina [dengan GES], mendukung komitmen Pemerintah,” ucap Fahmy.

Menurut Fahmy, untuk mencapai zero carbon tidak bisa hanya pemerintah yang bergerak, tetapi harus semua stakeholder, dan melibatkan semua orang, termasuk swasta, maupun BUMN, seperti Pertamina. Kepentingan yang lebih besar untuk menjaga lingkungan yang lebih baik dan berkelanjutan ini harus diutamakan.

Menyinggung pencemaran lingkungan, Fahmy mengatakan dapat terjadi dari kendaraan ataupun bahan bakarnya. “Jadi menggunakan bahan bakar standar Euro 4 atau Pertamax ke atas,” ujar Fahmy.

Kepala UPT Laboratorium Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja, Sutomo mengatakan kondisi lingkungan kaitannya dengan udara di Kota Jogja, dengan pemantauan menggunakan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) terbilang dalam kondisi masih baik. “Sejauh ini 2019-2021 relatif secara umum kategori baik. Hanya beberapa kadang kategori sedang. Sedang itu juga tidak berbahaya lingkungan,” ujar Sutomo.

Meski masih dalam kondisi baik, Sutomo mengatakan antisipasi dampak pencemaran lingkungan harus tetap dilakukan. Ia mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh SPBU Pertamina yang mulai menggunakan energi ramah lingkungan tenaga surya, untuk dukungan operasional SPBU. “Terobosan yang positif dari Pertamina dalam mengendalikan lingkungan. Sekarang mungkin kondisi masih baik, tetapi jika tidak ada antisipasi juga riskan. Dengan adanya PLTS bisa bergerak mengurangi emisi karbon,” ucapnya.

Senada dengan Fahmy, Sutomo juga mendorong penggunaan BBM yang lebih ramah lingkungan. “Cukup signifikan lagi, bisa tidak bahan bakar yang digunakan masyarakat itu didorong ke yang lebih bersih. Pertamax ya minimal,” ujarnya.