Sukarelawan Covid-19: Dulu Kubur Jenazah, Kini Berdayakan Ekonomi Warga

Satgas Covid-19 Kalurahan Tamanmartani, Kalasan mengisi waktu luang dengan bersih-bersih di sekitar selter. - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
09 Oktober 2021 18:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Penurunan kasus Covid-19 di DIY khususnya Sleman menjadi angin segar bagi masyarakat. Tak terkecuali tim dekontaminasi, pemulasaraan dan pemakaman jenazah Covid-19. Lantas apakah tugas para Satgas ini selesai? Berikut laporan Wartawan Harian Jogja Abdul Hamid Razak.

Tomi Nugraha bisa bernapas lega setelah kasus Covid-19 di Tamanmartani, Kalasan turun. Apalagi di kalurahan tersebut pada awal September masih termasuk kalurahan zona merah.

Tomi ingat betul betapa Satgas disibukkan menangani pasien Covid-19 pada kurun Juni hingga Agustus lalu akibat amukan Covid-19 varian Delta. Di tengah banyaknya warga yang terpapar Covid-19 dan selter yang terbatas serta rumah sakit rujukan yang penuh, Satgas kalurahan bekerja dengan penuh tanggung jawab.

"Ya waktu itu [Juni-Agustus] memang benar-benar sibuk, tapi alhamdulillah saat ini kasus Covid-19 sudah turun drastis," kata Tomi saat berbincang-bincang dengan Harian Jogja, belum lama ini.

Sebagai salah seorang perangkat desa, ia ikut berjibaku bersama Satgas dan sukarelawan lainnya untuk menanggulangi penyebaran Covid-19 di desanya.

Carik Kalurahan Tamanmartani ini menjadi salah seorang koordinator di garda depan penanggulangan Covid-19 bersama perangkat lainnya. Mulai dari urusan mengantar pasien ke selter, rumah sakit, hingga pemakaman jenazah.

"Ketua Satgas Covid-19 tetap Pak Lurah [Gandang Hardjanata]. Kami juga sudah membentuk 13 Kelompok Jaga Warga dari 22 padukuhan," katanya.

Kelompok Jaga Warga di 13 padukuhan ini, lanjut Tomi, terdapat selter dan juga tim pemakaman. Mereka juga dilengkapi dengan tabung oksigen, oximeter, dan hazmat. Karena kasus Covid-19 saat ini melandai, sukarelawan ini pun dialihkan untuk kegiatan lainnya. Namun, tetap fokus pada penanggulangan pandemi Covid-19.

Kegiatan para satgas saat ini, ujar Tomi, dialihkan ke sektor pemberdayaan ekonomi agar warga kembali bangkit setelah sekian lama diamuk virus Corona. Ada juga sebagian tim yang diperbantukan untuk kegiatan vaksinasi selebihnya mereka terjun untuk terus memberikan edukasi protokol kesehatan kepada warga. "Jadi Satgas bukan tidak ada kegiatan lagi. Mereka kami alihkan untuk kegiatan lainnya. Mereka menjadi agen perubahan perilaku masyarakat di tengah pandemi Covid-19," katanya.

Ia menunjuk tujuh kamar di Selter Kalurahan yang kosong tanpa pasien. Keberadaan selter tersebut juga belum sepenuhnya ditutup. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi munculnya gelombang ketiga dan keempat virus Corona yang diprediksi oleh para ahli. "Jadi saat muncul kasus seperti gelombang kedua kemarin, kami sudah siap. Peralatan dan sumber daya juga siap. Tim tinggal on call saja," kata Tomi.

Angka Kematian

Hal senada disampaikan Koordinator Posko Dekontaminasi Covid-19 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Vincentius Lilik Resmiyanto. "Alhamdulillah, kasusnya mulai turun, sukarelawan juga sudah bisa beristirahat dengan nyeyak untuk sementara," katanya sambil bercanda.

Sejak akhir Agustus lalu, katanya, memang terjadi penurunan angka kematian akibat Covid-19. Tren angka kematian pasien Covid-19 juga terus menurun selama September. Berdasarkan data Posko Dekontaminasi Satgas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Sleman layanan pemakaman dan dekontaminasi hingga 30 September hanya 90 kasus.

Bandingkan saja, tim menguburkan jenazah sesuai protokol kesehatan (prokes) selama Juli sebanyak 1.390 kasus di mana 400 kasus merupakan pasien Isoman. Sementara selama Agustus, tim menguburkan sebanyak 573 jenazah. "Dari 90 kasus kematian selama September sebanyak 83 kasus meninggal di rumah sakit dan hanya tujuh kasus yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri," katanya.

Lilik mengatakan sejak banyaknya pembentukan tim-tim sukarelawan pemakaman di tingkat kalurahan hingga padukuhan dan lainnya, beban tim pemakaman BPBD Sleman terus berkurang. "Saat ini kasus pemakaman sudah di-handle masing-masing kalurahan. Hanya beberapa saja yang kami tangani," katanya.

Pengurangan beban tersebut, lanjut Lilik, bukan berarti sukarelawan berpangku tangan. Mereka tetap diterjunkan ke masyarakat untuk tetap melakukan pendampingan dan juga edukasi kepada masyarakat. "Terutama terkait dengan protokol kesehatan. Jadi edukasi terus kami lakukan," katanya.

Meskipun begitu, lanjut Lilik, para tim sukarelawan selalu disiapsiagakan. Mereka selalu standby jika sewaktu-waktu dipanggil. Oleh karenanya, keberadaan posko tersebut hingga kini masih belum ditutup. Apalagi, kata Lilik, masih ada potensi gelombang ketiga dan keempat yang diprediksi terjadi di masa depan.

"Kami tidak berharap itu terjadi. Tetapi kalaupun muncul gelombang ketiga semua sukarelawan sudah siap," ujarnya.

Keberadaan modal sosial untuk mengantisipasi gelombang ketiga, kata Lilik, dinilai lebih siap dibandingkan sebelumnya saat menghadapi gelombang kedua. "Rumah-rumah sakit juga lebih siap, sukarelawan juga siap digerakan. Selter-selter juga bisa kembali diaktivasi. Ini berbeda ketika mengadapi gelombang sebelumnya," katanya.