Kualitas Pendidikan di Pelosok & Perkotaan Didorong Agar Setara

Dari kiri ke kanan. Susana, Ivan, Afrizqi, dan Arifah dalam acara diskusi dari SMSG bertema Temu Jaringan Jogja 2021: Makarya Sesarengan Kaliyan Pamong Pendidikan di Nutrihub, Jogja, Rabu (20/10). Harian Jogja - Sirojul Khafid
21 Oktober 2021 07:57 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, GONDOKUSUMAN--Perlu kerja bersama dari berbagai pihak agar masalah pendidikan bisa teratasi, salah satunya kesenjangan. Para murid yang berada di kota memiliki akses yang berbeda dengan di pelosok. Bukan hanya pada murid, penyetaraan akses juga diperlukan bagi guru.

Ketua Jaringan Semua Murid Semua Guru (SMSG), Ivan Ahda mengatakan kesetaraan akses bisa menunjang kualitas pendidikan di suatu wilayah. Bagi wilayah yang akses informasi mudah, berbagai pelatihan untuk murid maupun guru secara gratis mudah didapatkan. Namun berbeda dengan daerah-daerah di pelosok.

"Tidak jarang teman-teman komunitas membutuhkan informasi tentang penggalangan dana atau pengelolaan sosial media untuk menunjang kegiatannya," kata Ivan dalam acara diskusi dari SMSG bertema Temu Jaringan Jogja 2021: Makarya Sesarengan Kaliyan Pamong Pendidikan di Nutrihub, Jogja, Rabu (20/10).

"SMSG mencoba membantu komunitas, salah satunya melalui dana hibah dan pelatihan."

SMSG juga memfasilitasi komunitas dalam mendukung program kampus merdeka. Sudah ada 300 mahasiswa dan mahasiswi yang magang di komunitas-komunitas. Kini komunitas diakui menjadi tempat magang.

Gerakan komunitas pendidikan menjadi alternatif untuk pemenuhan kebutuhan anak termasuk yang kekurangan dari sisi ekonomi dan lainnya. Ketua Komunitas Sekolah Marjinal, M. Wahyudin Afrizqi melihat ini masih terjadi di DIY, khususnya bagi anak-anak di perkampungan pemulung yang dia dampingi proses belajarnya.

Lantaran kendala ekonomi, administrasi, sampai norma sosial, mereka sulit mengjangkau sekolah formal. "Ternyata masalah akses pendidikan bukan hanya ekonomi, tapi juga lingkungan yang terbentuk," kata Afrizqi.

Sementara dari sisi guru, kendala terkadang muncul dari sisi inovasi dan skill tertentu. Founder Ketikata, Arifah Suryaningsih, mengatakan perlu beberapa skill seperti menulis agar kegiatan pendidikan bisa lebih maksimal. Skill menulis bisa digunakan untuk mengajukan berbagai program atau setidaknya untuk publikasi kegiatan.

Sebagai pengisi ruang itu, Arifah dan teman-temannya membentuk komunitas belajar menulis bagi para guru. "Kumpul bersama guru-guru, bikin tulisan bareng-bareng. Ada yang ingin meraih dana hibah untuk pendidikan, ada juga yang pengen bikin tulisan esai," kata Arifah yang juga guru SMK di Sewon.

Selain komunitas, peran korporasi juga bisa semakin memperkuat peningkatan kualitas pendidikan. Humas Capital Management PT. Paragon Technology and Innovation, Susana Nur Kusumaningsih mengatakan dana CSR mereka salah satunya fokus untuk pendidikan. Termasuk juga mereka terlibat dalam program merdeka belajar serta pelatihan bagi para dosen.

"Kami korporasi saat ini sedang didorong untuk melakukan lokal inisiatif. Biasanya CSR terpusat, sekarang Paragon ada program Paragon Paradesa Inspirasi, didorong membuat CSR di wilayah-wilayah," kata Susana.

Berbagai kolaborasi ini, menurut Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY, Didik Wardaya diharapkan menghasilkan tiga output. Pertama terkait administrasi tentang akses pendidikan.

"Adapula dari sisi psikologis, lulusan memiliki kemampuan seperti yang diharapkan. Dari sisi ekonomi, lulusan mampu terserap di dunia kerja atau megembangkan kemampuan sendiri," kata Didik.