Baru 10 Persen Industri Wisata di DIY Kantongi PeduliLindungi

Wisatawan dipandu petugas saat melakukan check in aplikasi PeduliLindungi di objek wisata Candi Borobudur, Jawa Tengah, Jumat (17/9/2021). - Harian Jogja/Nina Atmasari
29 Oktober 2021 12:07 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pemda DIY menyebut baru sekitar 10 persen industri wisata dan tempat publik di provinsi ini yang mengantongi sistem pemindaian melalui aplikasi PeduliLindungi. Padahal, syarat tersebut menjadi aturan umum yang diberlakukan bagi tempat wisata maupun fasilitas publik saat beroperasi di masa PPKM Level 2.

"PeduliLindungi masih 10 persen dan baru sedikit QR Code yang turun dari kementerian. Masih banyak memang yang belum turun. Saat ini pengawasan masih dilakukan," kata Kepala Satpol PP DIY, Noviar Rohmad, Jumat (29/10/2021).

BACA JUGA: Facebook Resmi Ganti Nama Jadi Meta

Noviar menjelaskan minimnya kawasan wisata dan tempat publik yang mengantongi skema pemindaian lewat PeduliLindungi dikarenakan aturan Pemerintah Pusat yang mensyaratkan layanan pengurusan hanya akan ditindaklanjuti bila pemohon berasal dari anggota asosiasi.

"Awalnya perorangan boleh meminta izin untuk penerbitan PeduliLindungi, sekarang kementerian hanya memperbolehkan perorangan harus berasal dari asosiasi, misalnya asosiasi rumah makan, hotel, dan tempat wisata," kata Noviar.

Kondisi ini jelas membuat pengawasan terhadap pelaksanaan protokol kesehatan baik kartu vaksin dan riwayat kesehatan pengunjung belum berjalan optimal. Petugas berharap agar penegakan protokol kesehatan dari pengelola wisata yang belum mengantongi aplikasi PeduliLindungi lebih ketat. "Kendalanya tidak dari mereka, tapi dari pemerintah sendiri yang belum siap menurunkan QR Code," katanya.

Sementara, sejumlah kawasan wisata yang sebelumnya tutup di masa PPKM Level 3 lalu sudah mulai beroperasi seiring dengan turunnya PKKM di DIY menjadi level 2. Wisata Kraton telah mulai buka sejak 20 Oktober lalu. Pengelola masih melakukan pembatasan 25 persen bagi pengunjung dibanding waktu normal.

 Wisatawan juga harus sudah vaksin minimal satu kali, untuk anak di bawah 12 tahun harus didampingi orang tua yang juga mesti sudah divaksin," kata Carik Tepas Museum Wedono, Nur Sundari.

Dia menyebut tingkat kunjungan ke kawasan itu belum sepenuhnya membaik. Wisatawan yang datang per hari hanya berkisar di angka 50-100 orang. Selain itu, pengelola juga memberlakukan aturan kunjungan dengan kelompok lewat pendampingan pemandu dengan jarak antara kelompok minimal lima menit.

"Masih sangat jauh dibandingkan dengan waktu normal. Kalau kondisi normal per hari biasa sampai 100 atau 200 kunjungan dan kalau akhir pekan itu sampai dua kali lipat, apalagi peak season kadang mencapai 1.000," ujarnya.

BACA JUGA: Megawati: Masa Jabatan Presiden Memang 2 Kali, tapi Partai Boleh Menang Terus

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Budaya Jogja Retno Yuliani mengatakan wisata edukasi Taman Pintar sudah buka sejak 10 hari yang lalu. Sejak mendapat aplikasi PeduliLindungi pada pekan sebelumnya, pengelola memutuskan untuk beroperasi karena sudah mengantongi persyaratan lengkap berupa PeduliLindungi dan juga CHSE.

"Tidak ada kendala, semua pada pakai. Kadang ada antrean tapi tidak terlalu panjang, sejauh ini masih lancar. Rombongan pernah sekali dan juga turut terbantu dengan skema one gate sistem screening bus wisata. Itu juga rombongan dalam jumlah kecil hanya 38 tidak seperti dulu yang sampai 300-400," kata Retno.

Pada akhir pekan pertama sejak buka di masa PPKM Level 2 ini, Retno menyebut tingkat kunjungan memang mulai membaik. Hal ini ditambah dengan aturan anak usia 12 tahun ke bawah yang diperbolehkan masuk ke kawasan wisata asal dengan pendampingan orang tua. Pada akhir pekan ini, pihaknya memastikan skema pemindaian akan tetap dilakukan dengan mengecek kelengkapan serta protokol kesehatan para pengunjung.

"Semua wahana sudah buka, kecuali PAUD dan media air menari.," ujar Retno.