Cuaca Ekstrem, Ini Peringatan untuk Pelaku Wisata di Sleman

Beberapa jip Merapi dilakukan uji kelaikan di Balai Desa Umbulharjo oleh Dinas Perhubungan Sleman dan Polres Sleman pada Rabu (20/6/2018). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
02 November 2021 18:07 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pengelola tempat wisata yang berada di wilayah rawan banjir lahar dan longsor diminta untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrem.

Pengelola destinasi wisata juga diminta untuk meningkatkan koordinasi dengan Posko Unit Op PB dan Tim SAR setempat. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan mengingatkan pelaku wisata agar tidak mengambil risiko saat cuaca ekstrem datang. Operator jip, misalnya, diminta untuk tidak melakukan atraksi di sungai jika turun hujan. "Jangan coba-coba itu dilakukan meski itu membuat wisatawan senang tapi risikonya besar," katanya pada jumpa pers, Selasa (2/11/2021).

Dijelaskan Makwan, saat ini wilayah Sleman tengah menghadapi ancaman bencana multi hazard meliputi erupsi Merapi, banjir lahar hujan, bencana longsor, hingga pandemi Covid-19. Pada musim hujan, jika hujan lebat terjadi di atas Merapi dalam durasi lama maka potensi banjir lahar hujan akan semakin meningkat.

BACA JUGA: Benarkah Makan Telur Bikin Radang Sendi Makin Parah?

Dijelaskan Makwan, endapan material vulkanis di lereng sisi tenggara Merapi mencapai 2,8 juta meter kubik, sedangkan sisi barat daya 1,6 juta meter kubik. Bahkan beberapa kali sudah terjadi aliran lahar menerjang Sungai Boyong.

BPBD, lanjut Makwan, telah menempatkan 16 piranti early warning system (EWS) untuk memantau banjir lahar.

"Di masing-masing lokasi EWS ada petugas jaga yang akan segera memberi informasi jika muncul resiko bencana, termasuk kepada wisatawan," katanya.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman Aris Herlambang mengatakan Dispar sudah membekali operator destinasi wisata dengan pelatihan mitigasi bencana. "Kami sudah beberapa kali bekerjasama dengan BPBD untuk memberikannpelatihan mitigasi kepada pengelola wisata. Terutama wisata yang menawarkan kegiatan susur sungai berhulu di Merapi," katanya.

Dispar juga memberikan pelatihan mitigasi bencana kepada operator jip wisata lava tour Merapi. Pelatihan tersebut akan terus dilakukan hingga tahun depan agar pelaku wisata benar-benar siap saat bencana melanda. "Karena keterbatasan anggaran, kami baru memfasilitasi pembinaannya, belum menyentuh pada bantuan sarana prasarana pendukung mitigasi," katanya.

Meski begitu, Ia meyakini jika masing-masing pengelola wisata sudah memiliki mekanisme sendiri untuk kelengkapan sarana dan prasarana mitigasi bencana. Pengelola wisata biasanya juga mengandalkan jejaring untuk memantau perkembangan kondisi cuaca, dan aktivitas Merapi.

"Misalnya, operator jip umumnya berjejaring dengan SAR dan telah membentuk forum komunikasi melalui alat telekomunikasi HT.
Untuk menyampaikan informasi cepat kepada wisatawan, pengelola wisata juga menyediakan alat pengeras suara," ujarnya.

Sekadar diketahui, berdasar prediksi BMKG, fenomena La Nina memberikan pengaruh terhadap peningkatan curah hujan di wilayah DIY. Kondisi hujan diatas normal tersebut diperkirakan berlangsung hingga awal tahun depan.

Kepala Dispar Sleman Suparmono mengatakan Dispar sudah menyurati seluruh pengelola wisata untuk menghadapi potensi bencana sebagai langkah antisipatif bencana hidrometeorologis. Kepada wisatawan, ia meminta untuk memperhatikan arahan atau himbauan dari pengelola tempat wisata.

"Kami selalu mengingatkan teman-teman pengelola agar selalu mengutamakan keselamatan dan kenyamanan wisatawan. Bukan hanya terkait potensi bencana alam, tetapi arahan yang terkait bencana Pandemi juga harus dipatuhi," katanya.