Biennale Jogja XVI Ditutup, Hermanu dan Nunung WS Terima Lifetime Achievement Award

Pemberian penghargaan penghargaan pencapaian seumur hidup (Lifetime Achievement Award/LAA) kepada Hermanu dan Nunung Wahid Sahab (WS) saat penutupan Biennale Jogja XVI Equator 6 resmi, di Jogja National Museum (JNM), Sabtu (13/11/2021) malam. - Harian Jogja/Jumali
14 November 2021 06:57 WIB Jumali Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Biennale Jogja XVI Equator #6 ditutup di Jogja National Museum (JNM), Sabtu (13/11/2021) malam. Penutupan Biennale diiringi dengan pemberian penghargaan pencapaian seumur hidup  (Lifetime Achievement Award/LAA) kepada Hermanu dan Nunung Wahid Sahab (WS).

Direktur Yayasan Biennale Jogja, Alia Swastika, mengatakan penghargaan diberikan kepada figur-figur yang berkontribusi penting dalam pembentukan wacana seni dan pengembangan ekosistem seni di Jogja.  

“Dewan Pembina dan Pengawas Yayasan Biennale Jogja telah mempertimbangkan  dedikasi, loyalitas, integritas, dan kontribusi praktik kesenian Nunung WS dan Hermanu,” katanya saat penutupan  Biennale Jogja XVI.

Nunung WS adalah seorang perupa abstrak perempuan Indonesia. Dia lahir di Lawang, Jawa Timur, pada 9 Juli 1948. Sampai di usianya yang ke-78 tahun, Nunung masih aktif berpameran, baik di dalam maupun luar negeri. Terakhir, ia menjadi bagian dalam pameran seniman perempuan di museum bergengsi, Mori Art Museum di Tokyo, Jepang.

Ia telah menunjukkan keteguhan dalam berkarya meskipun jauh dari sorotan dan ingar-bingar ketokohan dalam seni rupa. Meski demikian, ia masih terus menjalankan panggilan hidupnya sebagai seorang seniman.

“Ia juga menunjukkan beragam cara untuk bertahan dan bernegosiasi dengan politik medan seni dan wacana seni rupa, untuk terus berkarya dan merawat pemikiran dan gagasannya,” kata Alia.

Sementara, Hermanu, telah menggerakan ekosistem seni di Indonesia mulai akhir 1980-an hingga sekarang dengan praktik kerjanya di Bentara Budaya Yogyakarta.

Kerja-kerja kuratorialnya bisa menunjuk pada semangat dekolonisasi praktik seni, yang tidak selalu berpijak pada pengetahuan Barat, tetapi mengembangkan wacana yang berbasis pada tradisi dan pengetahuan lokal.

“Selain itu, Bentara Budaya Yogyakarta juga menjadi ruang perkembangan yang penting bagi seniman-seniman Jogja baik sebagai ruang pertemuan sosial maupun sebagai ruang diskusi untuk membicarakan visi dan gagasan estetika baru,” ucap  Alia.

Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 ditutup setelah 40 hari penyelenggaraannya. Kegiatan yang panjang ini diselenggarakan di empat lokasi, yaitu Jogja National Museum (JNM), Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Museum dan Tanah Liat (MdTl), dan Indieart House. Untuk mengisi pameran, panitia membuat program dengan total 99 program, meluas dari yang semula dirancang 70 program.

“Dalam 40 hari itu, kami berupaya maksimal agar penyelenggaraan program dapat menjadi media untuk transfer pengetahuan dan gagasan, baik dari sisi kuratorial maupun dari seniman yang melakukan aktivasi karyanya,” ujar Direktur Biennale Jogja XVI Gintani Nur Apresia Swastika.

Selama 40 hari itu pula, kata Gintani, Biennale Jogja XVI telah dinikmati oleh kurang lebih 1.5 juta orang melalui media sosial, 236.210 melalui website, dan 14.590 melalui kunjungan langsung di 4 lokasi. Selain itu, kegiatan ini terpublikasi di 165 portal media daring, 25 media cetak, dan 15 media elektronik, baik lokal, nasional, maupun internasional.

Sebagaimana sepuluh tahun penyelenggaraannya, lanjutnya, pameran dua tahunan ini berfokus pada kawasan khatulistiwa dan mempertemukan Indonesia dengan negara-negara di garis khatulistiwa.

"Tahun ini, bekerja sama dengan wilayah Oseania, tim kurator membingkai pameran utama dengan judul Roots <> Routes yang diselenggarakan sejak 6 Oktober 2021. Ada 34 seniman dan kolektif yang diundang sebagai partisipan," ujarnya.

Selain penghargaan kepada seniman dan kurator berdedikasi tersebut, penutupan Biennale juga diisi dengan peluncuran buku dan beberapa pertunjukan.