Dendam Ibunya Disakiti, Pemuda di Bantul Bacok Sepupu Sendiri

Ilustrasi. - Freepik
24 November 2021 20:57 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL- Pelaku pembacokan di Sedayu Bantul pada Selasa (23/11/2021) malam berhasil ditangkap beberapa jam berselang. Bukan klithih, pembacokan terjadi karena perkara dendam keluarga.

Kapolres Bantul, AKBP Ihsan menjelaskan pelaku kasus penganiayaan dan pengroyokan di Jl. Wates, Sedayu yang terjadi sekitar 23.30 WIB telah ditangkap. Pelaku ditangkap sekitar pukul 03.30 WIB di rumah pelaku masing-masing. Pelaku terdiri dari pengendara motor berinsial EF (19) dan pembacok berinisial IS (19), keduanya warga Sedayu.

"Tidak sampai tiga jam pelaku dapat kita amankan. Kami rilis karena kejadian ini sempat viral di salah satu medsos di Sedayu dikaitkan dengan kejahatan jalanan atau klitih," terangnya pada Konferensi Pers di Polres Bantul, Rabu (24/11/2021).

BACA JUGA: Fadli Zon "Hilang", Fahri Hamzah Minta Bantuan Anies Baswedan

Disampaikan Ihsan kasus pembacokan yang terjadi merupakan kasus pengeroyokan. "Kasus pengeroyokan yang kebetulan TKP-nya di jalan, terjadi pada malam hari dan modusnya hampir sama dengan kejahatan lainnya, sehingga dianggap klitih," ujarnya.

"Padahal ini hanya pengeroyokan yang menyebabkan luka. Dan antara korban dengan pelaku, kenal. Bahkan masih saudara, masih sepupu, bapaknya korban bersaudara dengan ibunya pelaku," tandasnya.

Hasil penyelidikan ini juga membantah bahwa kejadian yang terjadi adalah klitih. "Sebenarnya kejahatan jalanan yang terjadi malam hari karena ada faktor dendam. Baik itu dendam kelompok, nah kebetulan ini dendam pribadi, dendam keluarga," tambahnya.

Secara rinci Ihsan menerangkan motif penganiayaan pelaku IS tidak suka dengan keluarga korban. Khususnya orang tuanya, termasuk korban itu sendiri. "Sehingga dendam kesumat ini lah yang berujung pengroyokan tadi malam," ungkapnya.

"Kebetulan kejadiannya di jalan, kemudian alat-alatnya hampir mirip biasanya dengan klitih. Jadi langsung disampaikan terjadi klitih-klitih, padahal seperti itu kasusnya," tambahnya.

Modus yang digunakan pelaku yakni membuntuti korban. Selanjutnya saat korban lengah langsung mengayunkan celuritnya ke arah korban.

Saat ini korban sedang dirawat di RS Mitra Sehat. Korban mengalami luka sobek di bagian jari dan badan. Barang bukti berupa celurit kini diamankan Polres Bantul. "Pelaku membacok korban, pengakuannya tiga sampai empat kali. Sehingga korban mengalami luka sobek baik di jari maupun badan," jelasnya.

Lebih lanjut kedua pelaku juga menjalani tes urin saat ini. Pasalnya berdasarkan pengakuan dari tersangka, pelaku sempat mengonsumsi obat keras, jenis aprazolam yang merupakan psikotropika. "Mungkin di sinilah timbul keberaniannya dan memang dia sudah mengincar korban," tandasnya.

Kedua pelaku bakal disangkakan kasus 170 Ayat 2 tentang pengeroyokan yang menyebabkan luka dengan ancaman tujuh tahun penjara. "Kami imbau kepada masyarakat khusus yang beraktivitas di malam hari untuk lebih waspada dan hati-hati. Kami dari Polres Bantul siap mengamankan aktivitas masyarakat baik itu siang maupum malam hari," tandasnya.

"Tidak perlu takut melintas di Bantul. Ini bukti kesigapan anggota kami. Kami juga wanti-wanti kepada pelaku-pelaku kejahatan jalanan jangan coba-coba beraksi di Bantul, akan kami tindak secara tegas," tegasnya.

Sementara itu menurut pengakuan IS dia dendam karena sang ibu pernah disakiti hatinya oleh keluarga korban. "Soalnya ibu kula pernah kasarane pernah dilarani dari orang tua korban. Sering sakiti hatinya," ujarnya.

"Itu semalam mau beli rokok, tiba-tiba berpapasan terus saya kejar. Lalu saya ngajak jongki saya, untuk nyopirin saya. Celurit pinjam teman," tuturnya.

IS mengaku mengonsumsi tiga obat keras yang ditelan pada pagi satu buah, dan siangnya dua buah. Sementara itu sang jongki EF mengaku baru tahu IS membawa sajam saat berada di tengah perjalanan. EF juga baru tahu niatan IS saat berada di jalan.