PTM Terbatas Dinilai Tingkatkan Kualitas Hasil Belajar

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran tatap muka. - Harian Jogja/Sirojul Khafid
03 Desember 2021 09:57 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Disdikpora Bantul menilai Pembelajaran Tatap Muka (PTM) berpengaruh besar terhadap kualitas pendidikan siswa. Meski masih bersifat campuran antara daring dan PTM, kualitas pendidikan siswa mengalami peningkatan.

Kepala Disdikpora Bantul, Isdarmoko menuturkan bila Pembelajaran Tatap Muka (PTM) mampu meningkatkan hasil belajar dibanding Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara penuh. "Dan riil, anak-anak kalau dibandingkan kualitas hasil belajar PJJ dengan PTM itu ya jelas jauh. Mesti lebih bagus yang PTM," tuturnya pada Kamis (2/12/2021).

Lebih lanjut sebanarnya banyak program akselerasi pendidikan yang tengah disiapkan untuk mengejar ketertinggalan pendidikan. Sayangnya banyak program yang belum bisa dioptimalkan karena pembatasan selama pandemi. "Semua mendukung agar PTM segera dilaksanakan, dikhawatirkan anak-anak loss learning bahkan loss generation, lha kita kan harus melaksanakan itu [PTM]," ujarnya.

"Ya kita programkan, tapi karena mengingat terkait hal-hal yang harus kita jaga akhirnya tidak maksimal juga. Kalau ada yang mengatakan blended itu harus dilaksanakan secara maksimal, hanya pembatasan-pembatasan itu menjadi kendala," tandasnya.

Kendati belum bisa PTM secara penuh, pembelajaran campuran antara PTM dan PJJ memiliki dampak yang baik pada kualitas pendidikan. Sayangnya adanya kasus Covid-19 terkadang dibenturkan dengan keberlangsungan PTM. "PTM jelas sangat besar manfaatnya. Tapi itu tadi kadang dibenturkan dengan adanya anak-anak PTM terbatas kemudian meledak kasus. Itu kan kita jadi waswas juga," ungkapnya.

"Kita pun juga mikir juga. Kalau yang selalu disalahkan dunia pendidikan, enggak bisa sebenarnya," tandasnya.

Menurut Isdarmoko anak-anak memiliki aktivitas yang banyak selain di luar sekolah. Sementara di lingkungan sekolah durasi dan interaksi siswa begitu dibatasi "[Penularan kasus] ini lebih luas, bukan di sekolah. Menurut saya karena juga ini terkait aktivitas anak-anak di sekolah maupun di luar sekolah. Di sekolah sendiri hanya dua jam," terangnya.

"Sehingga kalau kita membayangkan, interaksi anak itu tetap lebih banyak di keluarga. Kemudian juga ada di masyarakat. Walaupun di masyarakat dibatasi, tapi kan ini sudah di luar sekolah," tambahnya.

Isdarmoko mencontohkan, prokes ketat di sekolah terus dijalankan seperti pembatasan kapasitas siswa dalam kelas. Anak-anak di sekolah kurang lebih hanya dua jam dan memakai masker. "TK dan PAUD bahkan hanya 30 persennya. Kalau  yang SD dan SMP hanya 50 persen. Ruangnya disterilkan, pakai masker. Sebenarnya kalau di sekolah itu relatif terkendali. Hanya aktivitas anak itu, kita tidak bisa memantau lebih jauh juga. Karena itu lebih banyak juga di masyarakat," tegasnya.

"Kita oke siap untuk mengejar ketinggalan, kita siap untuk mengoptimalkan, tapi kemudian kalau nanti terjadi kasus ini salah siapa. Kita jadi repot juga seperti itu," imbuhnya.

Perihal strategi pendidikan tahun depan, Isdarmoko tetap berpaku pada kebijakan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten. "Tapi saya tetap berupaya melakukan kiat-kiat untuk meningkatkan mutu pendidikan agar tidak terjadi hal terburuk," tandasnya.