Advertisement

Santri Diberi Pendampingan Produksi Jamu

Abdul Hamied Razak
Minggu, 12 Desember 2021 - 09:37 WIB
Sunartono
Santri Diberi Pendampingan Produksi Jamu Sosialisasi Penggunaan Jamu yang Aman, Bermutu dan Bermanfaat Menjaga Kesehatan dan Kebugaran Keluarga di Pondok Pesantren Salafiah Al Qodir, Tanjung, Wukirsari, Cangkringan, Sabtu (11/12). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak.

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN--Penggunaan obat tradisional seperti jamu oleh masyarakat semakin meningkat. Hal itu dilakukan selain untuk memelihara kesehatan juga untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Ditjen Kefarmasian dan Alat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Agusdini Banun Saptaningsih mengatakan mendorong produksi jamu yang dihasilkan tetap bermutu, higienis dan aman. Selama ini, katanya, jamu diyakini bisa meningkatkan daya tahan tubuh.

Direktorat, katanya memiliki tugas untuk membina usaha jamu gendong dan usaha jamu rakyat. Hal ini penting, katanya untuk membangun ketahanan nasional yang bisa diperoleh dari kemandirian SDM farmasi. Dia setuju jika masyarakat perlu disadarkan untuk terus memelihara kesehatan dengan menggunakan jamu.

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

"Kalau masyarakat sehat dengan konsumsi jamu maka itu bisa meningkatka ketahanan tubuh. Tentu dengan mengkonsumsi jamu yang bermutu higienis dan aman," katanya di sela kegiatan Sosialisasi Penggunaan Jamu yang Aman, Bermutu dan Bermanfaat Menjaga Kesehatan dan Kebugaran Keluarga di Pondok Pesantren Salafiah Al Qodir, Tanjung, Wukirsari, Cangkringan, Sabtu (11/12).

Dalam hal ini, lanjutnya, Kemenkes melakukan pendampingan bagi santri dan pelaku usaha jamu untuk membuat jamu yang sehat. Termasuk cara bercocok tanam bahan baku jamu seperti jahe, kunyit dan kencur. "Dengan seperti ini diharapkan jamu yang diproduksi bisa higienis, aman dan berkhasiat," katanya.

Bila itu terjadi, lanjut Dini, maka produksi jamu yang banyak di masyarakat diharapkan mampu menggerakkan ekonomi rakyat. Mereka bisa bercocok tanam bahan-bahan jamu seperti jahe, kunyit, kencur dan lainnya. Termasuk bagi santri-santri di pesantren dilatih untuk melakukan itu. "Para santri misalnya dibekali dengan entrepreneurship. Saat lulus nanti, dapat ilmu membuat jamu bisa meningkatkan entrepreneurship," katanya.

Ponpes

Pengasuh PP Salafiah Al Qodir, Tanjung, Wukirsari, KH Masrur Ahmad MZ mengatakan di pondok tersebut sudah lama santri dibekali untuk menanam bahan baku jamu. "Kami peduli dengan apa yang dijalankan pemerintah untuk menanggulangi pandemi. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh tidak harus dengan obat-obatan. Menggunakan jamu juga bisa," katanya.

Kegiatan sosialisasi tersebut digelar di pesantren, katanya, karena pesantren bagian dari masyarakat. Selain itu, keterlibatan pesantren juga untuk meyakinkan masyarakat jika konsumsi jamu halal dan menyehatkan. "Di pondok juga buat jamu. Misalnya gurah atau jamu lainnya. Yang jadi masalah memang izin edar, misalnya harus izin BPOM itu masih belum mudah dilalukan," katanya.

Advertisement

Kabid Sumber Daya Kesehatan Dinkes Sleman Tunggul Biwara mengatakan masyarakat bisa mengolah obat yang ada di sekitarnya untuk dijadikan jamu. Bahkan di Dinkes setiap Jumat kami meminum jamu dengan mengundang pengusaha jamu yang menjadi binaan Dinkes. "Ini bagian promotif untuk menjaga kesehatan masyarakat. Tidak mengandalkan obat. Kami mendukung kegiatan Kemenkes dan ikut membina para pengusaha jamu agar hasilnya tetap higienis, aman dan bermanfaat," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

BPOM Tarik 41 Obat Tradisional dan 16 Kosmetik Mengandung Kimia

News
| Kamis, 06 Oktober 2022, 13:37 WIB

Advertisement

alt

Satu-satunya di Kabupaten Magelang, Wisata Arung Jeram Kali Elo Terus Dikembangkan

Wisata
| Kamis, 06 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement