Advertisement

Datang Terlunta-lunta, Suami Istri Ini Memetik Jaya di Jogja

Sunartono
Kamis, 30 Desember 2021 - 06:07 WIB
Budi Cahyana
Datang Terlunta-lunta, Suami Istri Ini Memetik Jaya di Jogja Pengusaha bidang fashion Sutardi. - Harian Jogja/Sunartono

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Medio Agustus 2015 silam, seorang pemuda 31 tahun datang ke Terminal Jombor, Sleman, setelah melewati perjalanan berjam-jam dari Jakarta. Kini ia menjadi pengusaha muda yang mampu menghidupi ratusan karyawan. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Sunartono.

Berbekal Rp480.000, satu unit ponsel dan ransel berisi pakaian, pria ini bingung harus ke mana setelah bus yang membawanya mengerem dan menurunkannya di Terminal Jombor. Pemuda ini sedang berada di titik terendah. Memiliki utang puluhan juta rupiah, dan kehilangan pekerjaannya di Jakarta. Jogja dipilih sebagai kota tempat mengadu nasib.

Setelah tengok kiri kanan dan baru sadar tak ada angkutan umum, ia berjalan menyusuri Jalan Magelang ke selatan dan berhenti di SPBU Sinduadi, Mlati, Sleman. Di tempat itulah, ia meminta izin beristirahat dan menginap seorang diri.

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

Hari kedua di Jogja, cobaan yang harus dihadapi pria ini bertambah setelah menerima panggilan telepon dari istrinya yang juga mengabarkan telah sampai di Terminal Jombor. Karena kondisi perekonomian sulit, istrinya sempat dititipkan ke mertuanya di Kebuman tetapi kemudian menyusulnya ke Jogja.

Hari itu sepasang suami istri yang masih relatif muda ini berusaha mencari rumah indekos. Namun, tingginya harga sewa rumah indekos membuatnya memutuskan bertahan di SPBU. Di Musala sempit di SPBU itulah keduanya tinggal beberapa hari atas izin para petugas pom bensin. Sepasang pasutri ini adalah Sutardi, kini berusia 37 tahun yang berasal dari Jawa Barat, dan Farah Irawan, 27, dari Kebumen, Jawa Tengah.

Meski Suta, sapaan akrab Sutardi, telah meninggalkan tempat bekerja yang bergerak di sektor penyedia jasa pemesanan kamar hotel, ia tetap menjalin hubungan baik dengan pelanggan. Saat masih menumpang di musala SPBU tersebut, Suta tiba-tiba mendapatkan panggilan dari salah satu pelanggan yang selama ini menjalin kerja sama. Pelanggan ini yang kemudian menyelamatkan Suta di tengah keterbatasan ekonomi. Malam sebelumnya ia hampir menyerah dengan keadaan, dan berniat untuk mencongkel laci tempat penyimpanan duit operator SPBU.

“Saya agak lupa namanya. Kalau tidak salah Ibu Tri atau Sri, beliau ingin bertemu, karena sudah mendapatkan cerita tentang kondisi saya, sampai akhirnya bertemu di pom bensin [Jalan Magelang]. Beliau melihat saya bersama istri tidur di musala, si ibu ini menangis dan memaksa minta nomer rekening tetapi tidak saya berikan, lalu memberikan saya uang tunai Rp15 juta dari tasnya, katanya terserah mau dibalikin atau tidak,” kata Suta mengingat keterpurukannya, Senin (27/12).

Berbekal uang tunai dari seseorang yang tidak ia kenal dekat itulah Suta bersama istrinya sedikit bisa bernapas lega. Keduanya bisa menyewa rumah indekos dan kemudian memberanikan diri mencari peluang usaha di Jogja. Saat itu datang ke Jogja City Mall (JCM) yang baru saja buka dan pengunjungnya sangat ramai. Suta memberanikan diri bertemu dengan EO pameran di JCM dan menanyakan potensi mengikuti pameran.

“Katanya bolehnya jualan baju, dan sewanya Rp300.000 sehari dan uang saya hanya cukup untuk sewa sebulan, bayarnya selesai event. Saya telepon teman saya yang dulu jualan baju ekspor, saya minta baju yang sisa-sisa seperti merek HNM, Zahra dan lainnya. Saya minta kirim barang dan dua gawangan untuk pameran,” katanya.

Advertisement

Saat itu Suta mendapatkan rezeki yang luar biasa. Hari pertama menggelar lapak dengan stan seadanya, setengah dari stok barangnya ludes terjual. Momentumnya sangat pas, karena saat itu mal tersebut baru buka sehingga pengunjung memenuhi berbagai gerai. Sebagai lulusan Manajemen Universitas Gunadarma Jakarta, ia memiliki ketertarikan dan ilmu di bidang sales. Ia kuliah dengan uang beasiswa karena berasal dari keluarga kurang mampu.

“Di sini saya merasa orang Jogja itu baik banget, saya sudah diberi tempat di pom bensin, sampai kemudian dapat tempat pameran, dan yang tidak pernah terpikirkan, ada salah satu peserta pameran yang membantu saya memberikan gawangan agar stan saya bagus,” ucapnya.

Setelah mengikuti pameran di JCM, Suta dengan bekal barang yang dikirim temannya, kemudian mengikuti pameran di Galeria Mall. Ia terkendala transportasi, karena saat itu ia tinggal indekos di Sinduadi, Mlati, Sleman yang jaraknya cukup jauh dari Galeria Mall yang berada di Sagan, Kota Jogja. Lagi-lagi karena tidak memungkinkan pindah rumah indekos karena keterbatasan uang, pria kelahiran 1984 ini kemudian memutuskan membeli sepeda ontel yang dipakai memboncengkan istrinya menuju Galeria Mall untuk menunggu stan pameran.

Advertisement

Sayangnya, sepeda itu tak bertahan lama, hanya beberapa pekan kemudian rusak karena dipakai berboncengan dua orang. Suta pun membeli lagi satu sepeda dengan menyisihkan sedikit modal hingga akhirnya bisa sama-sama membawa sepeda dari rumah indekos ke Galeria Mall.

Menggowes yang dilakukan Suta dan istrinya berlangsung selama berbulan-bulan, sembari ia mengingat jalan di area Kota Jogja. Pada awalnya, ia selalu mengikuti kendaraan roda empat karena tidak tahu arah yang lebih cepat. Bahkan beberapa kali, karena ketidaktahuan, mereka harus melewati Malioboro meski tempat tinggalnya di Sinduadi, sementara tujuannya adalah Galeria Mall.

Terus Berinovasi

Selama dua tahun berjalan, pada 2017 Suta dan Farah mulai merasakan hasil dari kerja kerasnya. Ia mampu melunasi utang sedikit demi sedikit, termasuk mengembalikan uang Rp15 juta kepada perempuan yang meminjaminya di SPBU. Ia kemudian mengikuti beragam pameran fesyen sampai akhirnya bisa membuka toko pertamanya di Kledokan yang bertahan sampai saat ini. Mereka mulai membuat merek sendiri dengan sedikit mengambil nama istrinya, Farah Button. Brand miliknya dicampur dengan sisa pakaian impor.

Advertisement

“Waktu itu setelah saya lunasi utang, nomernya tidak ter-back-up sehingga kontaknya hilang, sampai sekarang saya sebenarnya mencari beliau [orang yang meminjami uang], seandainya bisa bertemu saya mau melakukan apa saja buat beliau, karena sangat berjasa dalam hidup saya,” ucapnya.

Suta terus melebarkan sayap bisnisnya. Ia menggandeng sejumlah konveksi lokal untuk mengerjakan pakaian yang ia jual hingga mampu membuka gerai merek fesyen di semua mal di Jogja. Suta dan istrinya mampu menjual pakaian rata-rata total 10.000 potong setiap bulan dengan omzet rata-rata di atas Rp600 juta. Salah satu kunci suksesnya adalah melakukan inovasi, menyajikan produk yang berbeda dengan penjualan lain, tetapi memenuhi kebutuhan konsumen.

“Saya selalu membuat sesuatu yang beda dengan penjual lain, bahkan saat pameran stan awal sebelum saya punya brand, pernah mampu mendapatkan omzet Rp90 juta dalam sepekan. Itu karena saya inovasi,” ucapnya.

Advertisement

Kini mereka memiliki karyawan untuk semua toko dan gerai sebanyak 20 orang. Di luar itu ada sembilan konveksi yang diajak kerja sama. Di setiap konveksi ada 30 orang yang mengerjakan produk miliknya. Ada ratusan keluarga mengantungkan hidup pada usahanya.

Saat pandemi Covid-19 pada awal 2020 silam, penjualan cukup menurun, produksi konveksi sempat terhenti. Stok pakaian yang terjual hanya cukup untuk membayar gaji karyawan selama beberapa bulan. Lagi-lagi Suta berinovasi dengan memanfaatkan baju retur yang kemudian dijahit ulang lebih menarik dan dijual lewat pameran di mal. Dewi fortuna kembali berpihak kepadanya. Karena minim pelaku bisnis fashion yang buka, ia yang berani membuka justru laris dagangannya dan akhirnya meningkatkan produksi.

“Selama pandemi akhirnya terus produksi, bahkan kami sempat menambah karyawan, beberapa konveksi yang kami ajak kerja sama sempat tutup karyawan berhenti, kami minta masuk lagi mengerjakan baju pesanan kami, dan kami melihat mereka senang sekali,” ucapnya.

Kini bisnis Suta melalui brand Farah Button pun bisa bertahan dan dapat ditemukan di semua mal di Jogja. Ia mampu melewati pandemi tanpa mengurangi karyawan. Ia sendiri tak membayangkan usaha yang dibangun itu bisa sebesar saat ini dari kegigihannya melewati masa sulit. Dari terlunta-lunta kini memetik jaya.

“Kuncinya harus inovasi, maka berbisnislah meski jualan teh manis sekali pun,” ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

BPOM Tarik 41 Obat Tradisional dan 16 Kosmetik Mengandung Kimia

News
| Kamis, 06 Oktober 2022, 13:37 WIB

Advertisement

alt

Satu-satunya di Kabupaten Magelang, Wisata Arung Jeram Kali Elo Terus Dikembangkan

Wisata
| Kamis, 06 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement