Bangun Wisata di Ketinggian? Pakar UGM Usulkan Kajian Kestabilan Lereng

Logo UGM. - JIBI
30 Desember 2021 11:47 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pakar dari Pusat Studi Perencanaan Pembangunan Regional (PSPPR) UGM menyarankan pentingnya kajian penelitian kestabilan lereng pada destinasi wisata yang memanfaatkan daya tarik di ketinggian.

Kajian itu diperlukan untuk melihat kemampuan tebing atau lereng dalam menahan beban bangunan seiring bermunculannya tempat wisata ketinggian di wilayah DIY.

Peneliti Pusat Studi Perencanaan Pembangunan Regional UGM Leksono Probo Subanu menjelaskan seharusnya, sebelum melakukan pembangunan destinasi wisata dengan memanfaatkan view di ketinggian lebih dahulu dilakukan kajian kestabilan lereng maupun bentuk penelitian lain. Hal ini penting dilakukan terutama di kawasan Pantai Selatan yang memiliki karakteristik geologi yang rapuh.

“Banyak hal-hal yang tidak terduga bisa terjadi di sana, terutama saat gempa itu bisa menyebabkan yang disebut rotational sliding itu, sehingga menurut kami perlu dilakukan studi sendiri-sendiri setiap lokasi,” ungkapnya di sela-sela diskusi Kesiapan Wilayah Hadapi Percepatan Pertumbuhan Pariwisata Pesisir DIY di kawasan Jalan Timoho, Kota Jogja, Rabu (29/12/2021) malam.

Leksono menyatakan usulan kajian penelitian sebelum membangun destinasi wisata ketinggian bagi investor itu memang baru muncul di ranah diskusi akademik, ke depan akan disampaikan ke Pemda DIY. Menurutnya perlu ada regulasi khusus, misalnya terkait pembiayaan penelitian pihak mana yang akan menanggung. Jika dibebankan ke investor maka pemerintah harus memberikan petunjuk melakukan kajian.

Ia menilai regulasi terkait kajian ini sangat diperlukan seiring dengan semakin berkembangnya wisata di Gunungkidul dan sejumlah kawasan pesisir. Di sisi lain, saat ini bermunculan destinasi dengan memanfaatkan ketinggian tebing di tepian pantai. Leksono mengakui berdasarkan catatannya, hanya Heha Sky View yang melakukan kajian tersebut.

“Sampai saat ini belum ada regulasinya soal penelitian untuk membangun di destinasi ketinggian ini. Kalau misalnya Pemda DIY punya dana mau diteliti semua, di titik-titik ketinggian pesisir itu akan lebih baik, sehingga ada peta, mana yang bisa dilepas ke investor mana yang tidak. Ketika investor di titik A misalnya aturannya seperti ini dan seterusnya berdasarkan kajian. Sekarang banyak yang mulai membangun ,” ucapnya.

Dirut Heha Hendro Suwandi menyatakan sebelum membangun Heha telah mengandeng PSPPR UGM untuk melakukan kajian terkait kekuatan kestabilan tebing. Hasilnya fasilitas yang dibangun saat ini sudah sesuai dengan hasil penelitian kestabilan lereng. Ia menyarankan ke Pemda DIY perlunya kepastian hukum terhadap berbagai syarat untuk membangun usaha seperti di area pinggiran pantai.

"Kalau tidak ada merintis kajian ini tidak ada yang mengerjakan, kalau tidak mulai dari sekarang maka ini tidak bisa membuat pengembangan di kawasan pantai bertebing, seperti di Bali saat ini banyak membangun di tebing tepi pantai," ujarnya.

Anggota Komisi B DPRD DIY Ajrudin Akbar dalam kesempatan itu sepakat terkait usulan yang disampaikan pakar, kajian yang dimaksud bisa saja difasilitasi oleh Pemda DIY ke depannya. Pemetaan terhadap tebing pantai memang perlu dilakukan melalui penelitian.

"Kalau bisa memang dipetakan dari hasil kajian, mana saja yang bisa dibangun dan mana yang tidak," katanya.