Momok Inflasi dan Rendahnya Daya Beli Warga DIY

Pembeli memilih jeruk di Pasar Beringharjo, Jogja, yang dipasangi pembatas agar konsumen tetap jaga jarak beberapa waktu lalu. - Harian Jogja/Dok
31 Desember 2021 10:27 WIB Arief Junianto Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tak hanya soal UMKM sebagai penopang utama perekonomian DIY yang kembang kempis akibat pandemi, sepanjang 2021, daya konsumsi masyarakat juga benar-benar diuji.

Terbukti, berdasarkan data dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY, laju inflasi DIY tahun ini diprediksi meningkat ketimbang tahun lalu. Jika tahun lalu angka inflasi tahunan tercatat sebesar 1,4%, tahun ini diprediksi bakal meningkat menjadi 2,06%.

Pada triwulan I/2021, inflasi di DIY tercatat sebesar 1,43% (yoy). Menurut Plt Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Miyono, capaian inflasi ini naik tipis dibanding realisasi inflasi DIY akhir 2020 yakni 1,40% (yoy).

Meskipun demikian, kata dia, capaian inflasi DIY lebih tinggi dibandingkan capaian inflasi Nasional (1,37%; yoy). Rendahnya inflasi DIY ini menunjukkan tingkat konsumsi yang masih rendah.

Sementara pada triwulan II/2021, angka inflasi tercatat 1,5% (yoy), berada di atas capaian inflasi nasional (1,33%; yoy). Selain itu, inflasi juga disebabkan oleh peningkatan tarif transportasi udara seiring penghentian subsidi airport tax serta peningkatan tarif kesehatan seiring dengan kondisi pandemi yang masih terus berlanjut.

Selanjutnya, di tengah perlambatan kinerja ekonomi, inflasi DIY triwulan III/2021 mengalami peningkatan. Peningkatan inflasi di antaranya didorong oleh imported inflation seiring kenaikan harga komoditas global.

Selain itu, sejalan dengan peningkatan kasus Covid-19 triwulan III/2021, inflasi tarif kesehatan juga turut berkontribusi dalam menyumbang inflasi triwulan III. Namun peningkatan laju inflasi tertahan oleh penurunan harga komoditas hortikultura, seiring dengan panen raya dan masih rendahnya permintaan masyarakat. Adapun di penghujung tahun, kenaikan harga sejumlah komoditas seperti cabai dan telur ayam ras juga berpotensi mendongkrak angka inflasi.

“Tingkat optimisme saat ini hanya sedikit lebih rendah [141,7 poin] dibandingkan level optimisme masyarakat sebelum pandemi sebesar 145,7 poin pada 2019 lalu. Faktor utama peningkatan konsumsi, selain imbas penurunan status PPKM akhir Oktober lalu selaras dengan terkendalinya kasus Covid-19, juga ditopang peningkatan aktivitas pariwisata di DIY,” kata Miyono.