Advertisement

Ratusan Ahli Gizi Berkumpul di Jogja Demi Bahas Stunting

Lajeng Padmaratri
Jum'at, 24 Juni 2022 - 06:47 WIB
Sirojul Khafid
Ratusan Ahli Gizi Berkumpul di Jogja Demi Bahas Stunting Konferensi pers agenda Temu Ilmiah Nasional XVII Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) pada Kamis (23/6) di The Rich Hotel Jogja. - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) menyelenggarakan Temu Ilmiah Nasional XVII di Jogja selama tiga hari mulai Kamis (23/6) hingga Sabtu (25/6).

Agenda ini dilakukan untuk penguatan kompetensi profesi gizi dalam penanggulangan masalah gizi sesuai standar dan perkembangan ilmu serta teknologi di bidang gizi dan dietetik terkini.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembayun Setyaning Astutie, menjelaskan bahwa agenda temu ilmiah ini sangat penting. Apalagi, ahli gizi merupakan sumber daya manusia yang penting dalam penurunan stunting.

"Ini satu organisasi profesi yang sangat penting di DIY, karena tim percepatan penurunan stunting salah satunya teman-teman dari ahli gizi, kita akan bekerjasama. Luar biasa dari Persagi mengupdate ilmu para nutritionist. Semoga ilmu yang sudah diperoleh dari para narasumber bisa diimplementasikan," tutur Pembayun dalam jumpa media di sela-sela pelaksanaan Temu Ilmiah Nasional XVII Persagi.

BACA JUGA: Kasus PMK Terus Bertambah, Ini Langkah Masif Pemerintah

Ketua Umum DPP Persagi, Kombes Pol. Rudatin, menambahkan agenda temu ilmiah ini diikuti oleh kurang lebih 800 peserta dari seluruh Indonesia. Baik dari ahli gizi rumah sakit, puskesmas, industri, hingga akademisi.

Adapun topik temu ilmiah yang menjadi pembahasan meliputi gizi klinik, gizi masyarakat, penyelenggaraan makanan, dan teknologi pangan. Sementara isu nasional paling utama ialah penanganan stunting dan gizi lebih.

"Stunting itu sebenarnya bisa ditangani sejak dini, bahkan dari calon manten. Ibu-ibu terutama saat hamil harus diperhatikan, karena sudah masuk 1000 hari pertama kehidupan. Kalau nggak ditangani, dampaknya sangat luar biasa pada kualitas hidup manusia itu," terang Joko Susilo, Ketua DPD Persagi DIY.

Dampaknya meliputi kepintaran dan daya fisiknya yang tidak optimal hingga kesehatannya mudah terkena gangguan. Stunting ibarat gunung es yang tampaknya hanya sedikit masalah, namun ternyata penyebabnya dan dampaknya banyak.

BACA JUGA: Begini Cara Mendaftar Ulang Setelah Lulus SBMPTN 2022

Advertisement

Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan, angka prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4%, atau menurun 6,4% dari angka 30,8% pada 2018. Angka ini terus didorong untuk turun dengan target 14% pada 2024.

"Posisi stunting di DIY sebenarnya sudah berkisar di angka 12-14% anak balita, sudah rendah, tapi itu kan rata-rata. Catatan kami, Gunungkidul dan Kulonprogo stuntingnya masih yang tertinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya," ungkap Joko.

Ia menerangkan penanganan stunting bisa dilakukan dengan edukasi perilaku sejak 1000 hari pertama kehidupan anak. Selain itu, penanganan pranikah juga perlu menyasar calon pengantin, sebab tidak hanya sang ibu saja yang gizinya harus sehat.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Disdikbud Jateng Akan Kembalikan Hak Calon Peserta Didik yang Dirugikan

News
| Kamis, 07 Juli 2022, 11:07 WIB

Advertisement

alt

Girls, Ini Tips Solo Travelling untuk Anda

Wisata
| Selasa, 05 Juli 2022, 16:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement