Advertisement
Pemulihan Ekonomi DIY Dibayangi Naiknya Angka Inflasi
Andong melintas di depan Pasar Beringharjo yang kini sudah berganti wajah. - Harian Jogja/Yosef Leon
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Pemulihan ekonomi di DIY yang mulai berjalan, dibayangi naiknya angka inflasi. Sejumlah faktor menjadi pendorong.
Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan DIY Budiharto Setyawan optimis dengan pertumbuhan ekonomi di 2022 setelah melihat berbagai indikator. Pertumbuhan ekonomi DIY pada 2022 diproyeksi sebesar 4,9% - 5,7% (yoy). Namun, pemulihan ekonomi tersebut juga diikuti naiknya inflasi.
Advertisement
BACA JUGA: Dipaksa Pakai Jilbab, Murid SMAN 1 Banguntapan Bantul Depresi & Nangis di Toilet Sekolah
Terdapat beberapa tantangan yang perlu diwaspadai, seperti ketidakpastian ekonomi global di tengah ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina, yang berdampak pada negara lainnya.
“Kebijakan proteksionisme pangan oleh negara produsen. Mulai membaiknya aktivitas ekonomi dan pariwisata, serta kenaikan ekspektasi inflasi yang menyebabkan peningkatan tekanan inflasi di DIY,” kata Budiharto, Jumat (29/7/2022).
“Sementara ini masih dalam pemulihan ekonomi, apabila ada gangguan di demand, demand naik terus nilai tukar terganggu menjadi pertimbangan nanti,” ujar Budiharto.
Pariwisata DIY memang menggeliat, dan mahasiswa diperkirakan akan segera datang. Kondisi tersebut membuat kebutuhan akan barang akan mengalami peningkatan, dan dapat mengerek inflasi.
“Kami menghimbau agar kenaikan barang tidak terlalu tinggi, mengupayakan pasokan tersedia, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, komunikasi, dibantu juga agar orang-orang konsumsi tidak berlebihan,” katanya.
Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Yogyakarta, Y. Sri Susilo mengatakan harga sejumlah kebutuhan pokok naik. Hal tersebut sedikit banyak akan mempengaruhi inflasi.
“Sebenarnya fenomena wajar ekonomi, tapi kalau tembus dua digit, akan menjadi awal penyakit ekonomi. Untuk target di kisaran 3-4%, mungkin akan sedikit lebih tinggi dari itu, jika kondisi seperti ini sampai akhir tahun. Perkiraan saya 5-6% masih common sense,” ucap Susilo.
BACA JUGA: Citayam Fashion Week ala Jogja Sudah Ada Sejak Lama, Tamunya Malah Bule-bule
Dia mengatakan kenaikan inflasi memang harus diwaspadai. Namun, jika masih dalam taraf wajar, bukan menjadi masalah.
“Kalau terlalu tinggi, di dua digit, bisa terjadi pengangguran. Jangka panjangnya akan resesi,” kata dosen Prodi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Wisatawan Lumajang Tersambar Petir, Satu Tewas di Pantai Bambang
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja 29 Maret, Cek Waktu Berangkat
- Nelayan Bantul Hilang di Muara Opak, Motor Terparkir di Hutan Mangrove
- Angin Kencang di Prambanan: Belasan Rumah Rusak dan Joglo Roboh
- Volume Surat Menyurat Turun 40 Persen, Ini Strategi Kantor Pos Jogja
- HUT ke-22 Tagana Sleman: Danang Maharsa Puji Dedikasi Relawan
Advertisement
Advertisement







