Advertisement

Tanaman Diserang Patek dan Jamur, Petani Cabai di Srigading Merugi hingga Rp5 Miliar

CRA22
Senin, 14 November 2022 - 19:07 WIB
Arief Junianto
Tanaman Diserang Patek dan Jamur, Petani Cabai di Srigading Merugi hingga Rp5 Miliar Ketua Pasar Lelang Cabai Kelompok Tani Manunggal Srigading, Sunardi, berada di lahan tanaman cabai miliknya, Sabtu (12/11/2022). - Harian Jogja/Andreas Yuda Pramono

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL — Petani cabai di Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden, Kabupaten Bantul mengalami kerugian hingga Rp5 miliar lantaran tanaman cabai mereka diserang patek dan jamur.

Ketua Pasar Lelang Cabai Kelompok Tani Manunggal Srigading, Sunardi, mengatakan pihaknya telah menanam cabai sejak Juli 2022 lalu. Saat masuk musim hujan, tanaman cabai mereka mulai diserang patek dan muncul jamur yang mengakibatkan ranting patah dan cabai serta daun rontok.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

“Ada sekitar 40 hektare yang terserang patek dan jamur. Itu kalau bisa dipanen semua, keuntungan bisa sampai Rp10 miliar,” kata Sunardi ditemui di Srigading, Sabtu, (12/11/2022).

Paguyuban Kelompok Tani Manunggal Srigading, kata dia, tidak menanam di bulan lain karena lahan yang ada masih digunakan untuk menanam bawang. Sementara anggaran untuk menanam hingga perawatan sepenuhnya berasal dari paguyuban tersebut dengan petani cabai mencapai 200 orang.

BACA JUGA: Bersepada Sekaligus Promosi Wisata Bantul

Sunardi mengatakan bahwa kelompoknya mendapat bantuan benih bawang bombai sebanyak 1,5 kilogram, pupuk NPK, dan kapur untuk menyetabilkan pH tanah.

Sementara itu, Kepala Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul, Joko Waluyo, tak menampik bahwa tanaman cabai memang akan terserang patek dan jamur ketika musim hujan.

“Untuk mengantisipasi tanaman cabai yang terkena patek, kami memang sudah mengadakan [upaya] pengendalian di beberapa wilayah. Tapi memang [akibat] faktor cuaca yang mendung-hujan-mendung-hujan, akhirnya jamur tumbuh dengan subur karena didukung cuaca yang tidak menentu,” kata Joko, Senin (14/11/2022).

Advertisement

Faktor kedua yang memengaruhi munculnya patek dan jamur, katanya, adalah air yang tidak bisa mengalir dengan baik. “Jadi karena ada air yang megung itu ditambah juga mendung-panas-mendung-panas yang memengaruhi berkembangnya jamur,” katanya.

Joko juga menegaskan bahwa pihaknya telah menggalakkan Gerakan Pengendalaian (Gerdal). “Mereka juga sudah terbiasa [terhadap serangan patek dan jamur],” pungkasnya.

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Piala Dunia 2022

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Pencarian Korban Gempa Cianjur Hari Terakhir: 334 Meninggal, 8 Masih Hilang

News
| Minggu, 04 Desember 2022, 09:17 WIB

Advertisement

alt

Wisata ke Singapura via Batam, Begini Triknya

Wisata
| Minggu, 04 Desember 2022, 05:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement