Advertisement

Kulonprogo Makin Sering Dilanda Bencana

Catur Dwi Janati
Kamis, 12 Januari 2023 - 21:57 WIB
Bhekti Suryani
Kulonprogo Makin Sering Dilanda Bencana nLokasi bekas tanah longsor di Dusun Sabrang Kidul, Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Rabu (11/3/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara\\n

Advertisement

Harianjogja.com, KULONPROGO– Kejadian bencana di Kulonprogo menignkat signifikan di 2022. Cuaca ekstrem disinyalir jadi penyebab utama tingginya kejadian bencana di Kulonprogo pada tahun lalu.

Bagian administrasi Tim Reaksi Cepat BPBD, Kulonprogo, Nafingah menerangkan angka kejadian bencana di Kulonprogo meningkat di 2022. Pada 2022 Nafi mencatat ada 91 titik banjir, 357 titik angin kencang atau cuaca ekstrem, satu titik kekeringan dan 39 kebakaran. Yang paling mencolok, pada 2022 terjadi 622 titik tanah longsor. Angka ini melejit dibandingkan kejadian bencana di 2021. "Ada peningkatan bila dibandingkan dengan 2021," terangnya dikutip pada Rabu (11/1/2023).

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Pada kejadian banjir misalnya, di 2021 BPBD mencatat ada 30 titik banjir. Namun pada 2022 jumlah tersebut naik tiga kali lipat menjadi 91 titik. Hal yang serupa pada kejadian longsor, di 2021 insiden tanah longsor terjadi di 156 titik. Akan tetapi 2022 jumlahnya naik berkali-kali lipat menjadi 622 titik atau hampir empat kali lipat dari tahun 2021. Di sisi lain pada 2021 terjadi 241 titik cuaca ekstrem atau angin kencang sebanyak dan kebakaran sebanyak 36 titik.

Merujuk data yang ada, peningkatan kejadian bencana hampir terjadi di beragam jenis bencana pada 2022. Menurut Nafi, hal ini dapat terjadi lantaran faktor cuaca yang lebih ekstrem pada 2022. 

Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo, Joko Satyo Agus Nahrowi menjelaskan meningkatnya jumlah angka kejadian bencana di Kulonprogo pada 2022 tidak terlepas dari faktor cuaca di 2022. Hal ini menyebabkan perbedaan yang cukup masif pada munculnya insiden bencana di 2022. 

Joko mencontohkan pada 2021 secara akumulatif ada 156 tanah longsor yang tercatat sepanjang tahun. Namun pada 2022, dalam kurun waktu dua bulan titik longsoran di Kulonprogo telah menembus angka lebih dari 300 kejadian. 

"Ini saya kira pengaruh besarnya di cuaca. Banyak cuaca ekstrem yang memang banyak terjadi di bulan November, Oktober," katanya.

Dari rentang waktu, periode cuaca ekstrem hanya berkisar beberapa bulan pada Oktober dan November. Namun dari segi intensitasnya, hujan maupun angin yang terjadi pada periode tersebut cukup tinggi. "Saat itu hanya selang sehari paling dua hari panas langsung hujan dengan intensitas yang tinggi dan durasi yang panjang," tuturnya. 

Kondisi ini menimbulkan tanah terus menerus jenuh akan air. Akibatnya titik longsor bermunculan hampir merata di sejumlah daerah rawan longsor di Kulonprogo. 

"Sudah jenuh lagi dan fenomenanya memang pindah-pindah itu titik longsornya. Jadi merata di empat Kecamatan yang rawan longsor  Kokap, Kalibawang, Samigaluh, Girimulyo sebagian Pengasih," kata dia.

Joko melanjutkan, hujan yang terus menerus terjadi membuat sistem drainase tidak berjalan baik. Air yang masuk ke saluran air melimpah sementara tak semua salurannya mampu menerima limpahan air dengan optimal. 

Volume air yang tinggi tidak mampu terdistribusi dengan baik lewat drainase memicu titik banjir bermunculan. Tak hanya itu, limpahan air yang meluap ke tanah di sisi tebing, juga meningkatkan kejenuhan air yang juga dapat meningkatkan potensi longsor. 

"Sistem drainase kita yang kurang bagus termasuk mungkin kepedulian dari lingkungan untuk pembersihan sedimen yang tertinggal di saluran drainase belum merasa handarbeni. Belum dengan sadar mempersiapkan normalisasi drainase, temasuk sampah-sampah yang hanyut dan menyumbat gorong-gorong ini yang kami masih agak prihatin. Masih banyak masyarakat yang belum ngeh terhadap dampak sampah terutama ranting, bambudibiarkan hanyut akan menyumbat gorong-gorong," katanya.

BACA JUGA: Pakai Rompi Oranye, Lukas Enembe Tiba di KPK

Untuk mengantisipasi tingginya angka kejadian bencana, pada 2023 ini BPBD Kulonprogo menyiapkan sejumlah strategi. Salah satunya melalui surat edaran yang telah diterbitkan pada 2022 lalu untuk menghadapi cuaca ekstrem. 

Beberapa poin-poinnya yakni normalisasi saluran drainase di lingkungan masing-masing. Instruksi yang disampaikan lewat surat edaran ini disebarkan ke semua Panewu dan Lurah di Kulonprogo. 

"Harapan kami di 2023 kalau terjadi cuaca ekstrem kemudian hujan yang dengan intensitas tinggi durasi panjang, ini drainase sudah terkondisi siap untuk menampung air," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Waspada Gagal Ginjal, Begini Cara Membaca Kandungan pada Kemasan Obat Sirop

News
| Selasa, 07 Februari 2023, 21:37 WIB

Advertisement

alt

Mengenal Kampung Batik Giriloyo yang Sempat Terpuruk Karena Gempa 2006

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 13:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement