Advertisement

TIMWC Jogja dan Upaya Meresapi Kecepatan Gerak Wing Chun

Sirojul Khafid
Sabtu, 11 Februari 2023 - 16:17 WIB
Arief Junianto
TIMWC Jogja dan Upaya Meresapi Kecepatan Gerak Wing Chun TIMWC Jogjakarta berfoto seusai mengikuti kejuaraan nasional di Jakarta. - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Bagi sebagian orang, menekuni hobi adalah ekspresi kekaguman atas seseorang atau sesuatu yang identik dengan hobi tersebut. Begitu juga bela diri, termasuk salah satunya adalah wing chun. Traditional Ip Man Wing Chun (TIMWC) Jogjakarta pun menjadi wadah siapa pun yang ingin mengenal, belajar, dan meresapi spirit olahraga yang satu ini.

Suksesnya film Ip Man (2008) menjadi salah satu tonggak popularitas ilmu bela diri wing chun di Indonesia, termasuk di Jogja. Terlepas dari itu semua, TIMWC Jogjakarta dibentuk menjadi wadah pilihan beberapa orang dalam menjaga kesehatan.

Advertisement

Meski sudah rilis sejak 2008, Destyan Adiwassesa baru menonton film Ip Man edisi pertama pada pertengahan 2012.

Secara alur cerita dan koreografi, dia menganggap film itu biasa saja. Destyan lebih senang dengan film-film yang dibintangi Jet Li. Justru yang menarik perhatiannya dari film yang dibintangi Donnie Yen adalah bagian credit scene.

Ada foto dua orang, satu anak muda dan satu orang tua. Orang tua itu bernama Ip Man, dan satunya Bruce Lee. Iya, Bruce Lee yang terkenal dan identik dengan pakaian kuning itu. “Baru tahu kalau Bruce Lee origin bela dirinya dari wing chun. Kalau Bruce Lee-nya aja jago, apalagi gurunya,” kata Destyan saat ditemui di Jago Martial Art Center (Jamace), Depok, Sleman, Jumat (27/1/2023).

Selepas menonton film itu, Destyan mencari segala hal tentang Ip Man dan wing chung. Sampailah dia pada Sifu Martin Kusuma, satu dari sedikit instruktur wing chun di Indonesia, khususnya yang bernasab ajaran Ip Man.

Martin belajar langsung di Hongkong. Sifunya bernama Siu Yuk Men, salah satu murid Ip Man Angkatan 1955.

Destyan meminta izin berlatih dengan Martin di Jakarta. Padahal dia tinggal dan bekerja di Jogja. Setiap Jumat sore, dia berangkat ke Jogja. Sabtu sampai Minggu berlatih wing chun dengan durasi 10 jam sehari. Itu dia lakukan selama tiga bulan.

BACA JUGA: Yogyakarta Food Truck, Lebih dari Sekadar Komunitas Pedagang

Setelah dianggap mampu, Martin meminta Destyan membuka tempat pelatihan Traditional Ip Man Wing Chun (TIMWC) Jogjakarta, sekitar akhir 2012.

Namun, Destyan masih level II. Perlu masuk ke level III agar bisa mendapat Surat Keterangan (SK) resmi sebagai cabang wing chun di Jogja dari Indonesia Wing Chun Federation. Barulah pertengahan 2013, TIMWC Jogjakarta mendapat legalitas.

Sebelum mendapat SK, sudah ada sekitar 15 peserta yang bergabung. Saat sudah mendapat SK dan bisa promosi, peserta semakin banyak.

“Tahun pertama masa paling indah dalam sejarah wing chun Jogja. Rekor dalam 2013 yang daftar 40 orang, Jamace sebagai tempat latihan full sampai luar,” kata Destyan, laki-laki berusia 37 tahun asal Jogja ini. “Kebanyakan tertarik karena tahu wing chun dari film.”

Suasana saat TIMWC berlatih di Jamace./Istimewa

Lantaran jumlah peserta yang banyak, latihan dipecah sampai lima kali dalam seminggu. Namun dengan adanya berbagai dinamika, jumlah peserta fluktuatif. Termasuk karena pandemi Covid-19, saat ini latihan hanya sekali sepekan di hari Jumat. Saat ini, peserta yang masih konsisten berlatih sekitar 15 orang.

Pengurangan peserta biasanya karena ekspektasi dan realitas berbeda. Di film mungkin terlihat menarik, tetapi latihan bela diri tradisional seperti wing chun cenderung membosankan.

Belum lagi mayoritas peserta yang merupakan mahasiswa. Setelah lulus, dia akan meninggalkan Jogja. “Seiring berjalan, pesertanya juga tersaring, yang tetap tinggal sampai sekarang yang memang ingin belajar bela diri,” katanya. 

Simpel dan Efisien

Destyan belajar bela diri sejak kelas III SD. Banyak jenis bela diri yang dia coba, mulai dari karate, tae kwon do, sampai wushu. Tetapi yang paling lama ia geluti adalah wing chun.

Baginya, wing chun bela diri yang simpel, direct, tetapi sangat efisien. Gerakannya tidak bertele-tele, tidak ada akrobatik, tetapi to the point.

Untuk peserta latihan awal, dia akan mengajarkan basic gerakan, seperti umumnya bela diri lain. Meski sesekali melatih fisik, tetapi yang lebih difokuskan dalam wing chun berupa mekanisme bodi.

Sembari berjalan, Destyan juga berbagai filosofi gerakan beserta kegunaannya. Dalam membersamai muridnya, Destyan akan menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Ada yang belajar wing chun untuk kesehatan, self-defense, sampai prestasi. Semua akan dia dukung. 

Kejuaraan

Sejak awal terbentuk, TIMWC Jogjakarta juga sudah rutin mengikuti kejuaraan baik nasional maupun internasional. TIMWC Jogjakarta beberapa kali menjadi juara umum kompetisi wing chun nasional. Beberapa anggota TIMWC Jogjakarta juga peraih medali dalam ajang internasional di Hong Kong.

Beberapa yang belajar wing chun untuk self-defense juga acap bercerita pengalamannya. “Ada juga cerita kalau ilmu wing chun berfungsi di jalan, seperti pernah ada yang dibegal [tapi berhasil melawan] dan sebagainya. Ya, saya senang aja mendengarnya,” kata lulusan Akademi Seni Rupa dan Desain Modern School of Design Jogja, dan kini bekerja sebagai grafis desainer ini.

Namun, bagi Destyan, dia belajar bela diri untuk kesehatan. Bukan untuk berkelahi di jalan atau sebagainya. Ini satu-satunya hobi. Misal pun bertanding hanya untuk sesama pegiat bela diri dalam konteks latihan.

“Saya pribadi, sampai kapan pun akan belajar wing chun terus, pengen semakin mengembangkan dan menyosialisasikan wing chun di Jogja,” katanya.

Konsistensi belajar bela diri mungkin bukan tanpa alasan. Sejak kecil, Destyan tidak pernah sakit berat, hanya sesekali flu. “Untuk kesehatan aja, bisa berantem atau apapun itu hanya bonus. Zaman sekarang [berantem] enggak penting,” katanya.

“Sejauh ini belum pernah ke rumah sakit, belum pernah pingsan sama sekali seumur hidup.”

TENTANG KOMUNITAS

Nama:

Traditional Ip Man Wing Chun (TIMWC) Jogjakarta

Tahun berdiri:

2012

Bidang:

Bela diri

Instagram:

wingchunjogjakarta

Tempat Latihan:

Jago Martial Art Center (Jamace), Depok, Sleman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Ada Mantan Politisi Jadi Mata-mata Asing

News
| Jum'at, 01 Maret 2024, 10:17 WIB

Advertisement

alt

Kegiatan Spiritual dan Keagamaan Jadi Daya Tarik Wisata di Candi Prambanan

Wisata
| Kamis, 29 Februari 2024, 11:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement