JBBA 2026: Usung Konsep Penghargaan Berbasis Hamemayu Hayuning Bawana
JBBA 2026 mengusung filosofi Hamemayu Hayuning Bawana dengan penilaian berbasis pendidikan, budaya, dan ekonomi berkelanjutan.
Gunung Merapi terlihat pada Minggu (12/3/2023)./Harian Jogja-Gigih M Hanafi
Harianjogja.com, SLEMAN—Panas terik terasa dalam beberapa hari terakhir di Jogja dan sekitarnya di DIY. Sebagian menyebut cuaca ini berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Merapi. Benarkah demikian?
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY mengatakan panas menyengar beberapa hari ini tidak ada kaitannya dengan erupsi Gunung Merapi. Hal tersebut disampaikan Kepala Kelompok Foreskater BMKG YIA, Romadi.
"Cuaca terik dipengaruhi oleh kelembaban perlapisan 700 milibar sampai dengan 500 milibar. Ini sangat kering hingga mencapai 30 persen, sehingga sinar Matahari langsung menembus permukaan Bumi. Sampai di permukaan Bumi, sinar Matahari kembali dipantulkan kembali ke atmosfer," ucapnya kepada harianjogja.com, Senin (13/3/2023).
Milibar atau mb adalah satuan tekanan udara. Dia menjelaskan berkurangnya intensitas hujan beberapa hari ke belakang di Jogja dan sekitarnya di DIY salah satunya karena adanya pola tekanan rendah di utara Papua. Ini menyebabkan pola konvergensi bergeser ke perairan utara Jawa, sehingga mengurangi massa uap air hujan di wilayah DIY.
BACA JUGA: Abu Merapi Tidak Turun di Jogja dan Malah Menyebar ke Magelang Hingga Wonosobo, Ini Penyebabnya
"Untuk wilayah DIY potensi hujan akan kembali terjadi setelah tanggal 15 [Maret] dengan intensitas ringan hingga sedang," paparnya.
Potensi hujan terjadi pada siang hingga sore, serta menjelang malam hari, khusus di Sleman, Kulonprogo bagian utara, dan Gunungkidul bagian utara. Menurutnya peningkatan curah hujan pada 15 Maret 2023 akan merata di seluruh wilayah DIY.
Dia menyampaikan masyarakat perlu waspada pada Maret hingga Mei 2023 karena di wilayah Jawa, khususnya Jogja dan sekitarnya akan memasuki masa pancaroba atau peralihan. Di masa pancaroba ini, potensi cuaca ekstrim cukup besar.
"BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta memperkirakan potensi terjadinya cuaca ekstrem seperti hujan sedang-lebat disertai kilat atau petir, angin kencang, hujan es, dan angin puting beliung dapat terjadi pada masa peralihan ini," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
JBBA 2026 mengusung filosofi Hamemayu Hayuning Bawana dengan penilaian berbasis pendidikan, budaya, dan ekonomi berkelanjutan.
Pertamina Patra Niaga mengoperasikan terminal dan SPBU 24 jam serta menambah 30 mobil tangki untuk mempercepat normalisasi distribusi BBM di Sumatera Utara.
Prabowo menyebut investasi PSN LNG Abadi Masela senilai US$20,9 miliar akan memperkuat hilirisasi, industrialisasi, dan ketahanan energi Indonesia.
Polisi mengungkap motif ancaman bom di SDN Srengseng Sawah dipicu persoalan seragam sekolah. Pelaku terancam hukuman hingga penjara seumur hidup.
Haier akan meluncurkan produk rumah pintar berbasis AI di Indonesia secara bertahap untuk memperkuat pasar dan memenuhi kebutuhan konsumen.
Kemenhut mendorong hilirisasi 10 komoditas perhutanan sosial melalui pembentukan klaster untuk memperkuat pasar hingga ekspor.