53 Jabatan Kepsek di Gunungkidul Masih Kosong, Ini Penyebabnya
Puluhan jabatan kepala sekolah di Gunungkidul masih kosong meski sudah ada pelantikan. Ini penyebab dan solusi Disdik.
Ilustrasi warga sedang melintas di crossway di aliran Kali Oya di Kalurahan Pundungsari, Semin, Jumat (16/6/2023)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Jejak purba di Daerah Aliran Sungai Oya di Gunungkidul masih membutuhkan penelitian yang mendalam. Meski demikian, berdasarkan kajian awal diketahui keberadannya masuk budaya Pacitanian.
Arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indah Asikin Nurani mengatakan sudah melakukan beberapa kali penelitian tentang jejak purba di Kali Oya. Sejumlah artefak telah ditemukan mulai dari kapak perimbas, kapak penetak hingga alat serut yang terbuat dari batu.
“Ada juga bahan-bahan batu yang membuat kapak ini yang ditemukan di aliran Kali Oya,” kata Indah, Jumat (23/6/2023).
Indah menekankan, temuan-temuan yang berhasil didapatkan belum bisa mengungkap secara menyeluruh berkaitan dengan jejak purba di Kali Oya Gunungkidul. Hal ini dikarenakan belum ada temuan fosil yang in situ seperti manusia maupun fauna yang sama sekali tidak ditemukan.
“Temuan alat-alat batu sangat banyak. Tapi, tinggalan organik dalam hal ini fosil-fosil manusia maupn fauna sama sekali tidak ditemukan. Jadi, untuk mengungkapnya butuh penelitian yang lebih tajam [mendalam],” katanya.
Baca juga: Ujian SIM Dipermasalahkan, Korlantas Akan Studi Banding ke Luar Negeri
Berdasarkan temuan ini, Indah berkesimpulan bahwa jejak purba di Kali Oya masuk budaya Pacitanian atau Pacitan. Secara garis besar, Pulau Jawa di zaman Pleistosen terbagi tiga bagian. Zona selatan dikenal dengan budaya Pacitan, peninggalanya berupa kapak perimbas dan penetak.
Zona tengah di Sangiran yang terkenal dengan peninggalan manusia purba dan zona utara di kawasan Patiayam, Kudus dengan peninggalan stegodon atau gajah purba.
Indah menambahkan, Arkeolog Belanda, Von Koenigswald melakukan penelitian di daerah Sangiran, Sragen, Jawa Tengah menduga keberadaan bahan baku alat pembuatan kapak perimbas dan penetak berada di daerah ketinggian. Identifikasi ini mengarah ke pegunungan-pegunungan di daerah selatan.
Setelah melakukan penelitian secara mendalam, Koenigswald akhirnya menemukan peralatan ini di Sungai Baksoka di Pacitan, Jawa Timur. Menurut Indah, Sungai Baksoka dengan Kali Oya masih ada keterkaitan dalam satu kebudayaan yang dikenal dengan Budaya Pacitanian.
“Peninggalannya sama berupa teknologi pembuatan kapak,” katanya.
Penelitian Berlangsung Lama
Arkeolog Agus Tri Hascaryo seperti dikutip dalam akun Youtube milik Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY dengan judul Jejak Manusia Purba di Sungai Oyo mengatakan, penelitian di Kali Oya sudah berlangsung sejak lama dikarenakan di era 60an, peneliti Belanda melakukannya.
Meski demikian, saat itu belum ada yang ditemukan karena temuan baru ada di era 1990an. “Penelitian lanjutan ini akhirnya menemukan artefak berupa alat batu di Sungai Oyo bagian tengah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Puluhan jabatan kepala sekolah di Gunungkidul masih kosong meski sudah ada pelantikan. Ini penyebab dan solusi Disdik.
Pria di Bantul ditangkap setelah mencuri ponsel tetangga dan memakai WhatsApp korban untuk menipu rekan hingga meraup Rp20 juta.
Jadwal KRL Jogja–Solo Kamis 25 Juni 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif Rp8.000 dengan keberangkatan sejak pagi hingga malam.
Pendaki gunung perlu waspada hipotermia. Pakar UMY mengingatkan bahaya baju katun dan membagikan cara menjaga suhu tubuh saat mendaki.
Daya saing Indonesia turun ke peringkat 48 dunia pada 2026. Infrastruktur dan efisiensi bisnis menjadi faktor utama yang menekan posisi RI.
Dugaan uang Rp20 juta ke oknum BEM UBK memicu kecaman alumni. IKA UBK mendesak sanksi tegas dan klarifikasi terbuka kepada publik.