Jelang Jatuh Tempo, PBB Gunungkidul Baru Terkumpul Rp21,7 Miliar
PBB-P2 Gunungkidul mencapai Rp21,7 miliar menjelang jatuh tempo 30 September 2026. Wajib pajak diminta segera membayar agar terhindar denda.
Ilustrasi warga sedang melintas di crossway di aliran Kali Oya di Kalurahan Pundungsari, Semin, Jumat (16/6/2023)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Jejak purba di Daerah Aliran Sungai Oya di Gunungkidul masih membutuhkan penelitian yang mendalam. Meski demikian, berdasarkan kajian awal diketahui keberadannya masuk budaya Pacitanian.
Arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indah Asikin Nurani mengatakan sudah melakukan beberapa kali penelitian tentang jejak purba di Kali Oya. Sejumlah artefak telah ditemukan mulai dari kapak perimbas, kapak penetak hingga alat serut yang terbuat dari batu.
“Ada juga bahan-bahan batu yang membuat kapak ini yang ditemukan di aliran Kali Oya,” kata Indah, Jumat (23/6/2023).
Indah menekankan, temuan-temuan yang berhasil didapatkan belum bisa mengungkap secara menyeluruh berkaitan dengan jejak purba di Kali Oya Gunungkidul. Hal ini dikarenakan belum ada temuan fosil yang in situ seperti manusia maupun fauna yang sama sekali tidak ditemukan.
“Temuan alat-alat batu sangat banyak. Tapi, tinggalan organik dalam hal ini fosil-fosil manusia maupn fauna sama sekali tidak ditemukan. Jadi, untuk mengungkapnya butuh penelitian yang lebih tajam [mendalam],” katanya.
Baca juga: Ujian SIM Dipermasalahkan, Korlantas Akan Studi Banding ke Luar Negeri
Berdasarkan temuan ini, Indah berkesimpulan bahwa jejak purba di Kali Oya masuk budaya Pacitanian atau Pacitan. Secara garis besar, Pulau Jawa di zaman Pleistosen terbagi tiga bagian. Zona selatan dikenal dengan budaya Pacitan, peninggalanya berupa kapak perimbas dan penetak.
Zona tengah di Sangiran yang terkenal dengan peninggalan manusia purba dan zona utara di kawasan Patiayam, Kudus dengan peninggalan stegodon atau gajah purba.
Indah menambahkan, Arkeolog Belanda, Von Koenigswald melakukan penelitian di daerah Sangiran, Sragen, Jawa Tengah menduga keberadaan bahan baku alat pembuatan kapak perimbas dan penetak berada di daerah ketinggian. Identifikasi ini mengarah ke pegunungan-pegunungan di daerah selatan.
Setelah melakukan penelitian secara mendalam, Koenigswald akhirnya menemukan peralatan ini di Sungai Baksoka di Pacitan, Jawa Timur. Menurut Indah, Sungai Baksoka dengan Kali Oya masih ada keterkaitan dalam satu kebudayaan yang dikenal dengan Budaya Pacitanian.
“Peninggalannya sama berupa teknologi pembuatan kapak,” katanya.
Penelitian Berlangsung Lama
Arkeolog Agus Tri Hascaryo seperti dikutip dalam akun Youtube milik Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY dengan judul Jejak Manusia Purba di Sungai Oyo mengatakan, penelitian di Kali Oya sudah berlangsung sejak lama dikarenakan di era 60an, peneliti Belanda melakukannya.
Meski demikian, saat itu belum ada yang ditemukan karena temuan baru ada di era 1990an. “Penelitian lanjutan ini akhirnya menemukan artefak berupa alat batu di Sungai Oyo bagian tengah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PBB-P2 Gunungkidul mencapai Rp21,7 miliar menjelang jatuh tempo 30 September 2026. Wajib pajak diminta segera membayar agar terhindar denda.
Kemensos mendorong transformasi Puskesos Sleman menjadi pusat layanan dan pemberdayaan sosial. Sumberejo dipilih sebagai lokasi percontohan.
Pemerintah menyiapkan SPP TDLN untuk memungut PPN transaksi digital luar negeri. Sistem tersebut kini memasuki tahap akhir sebelum beroperasi.
KPK menduga sejumlah Kantah di Jatim menyetor uang ke oknum Kanwil BPN Jatim setelah penyidik menemukan uang ratusan juta rupiah.
Blue fire muncul di Kawah Gunung Papandayan. Badan Geologi turun ke lapangan dan mengimbau warga tak beraktivitas dalam radius 500 meter.
Warga Sentolo, Kulonprogo, meninggal setelah masuk gorong-gorong untuk membersihkan sampah yang diduga menyumbat aliran air.