Kasus Daycare Jogja, Sultan HB X: Harapannya Ini Pertama dan Terakhir
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Panewu Imogiri, Slamet Santosa (Kelima dari kiri) bersama Forkompinkap Imogiri membentangkan spanduk penutupan di Selopamioro Adventure Park, Rabu (30/8/2023)/ist Polres Bantul
Harianjogja.com, BANTUL—Tiga destinasi wisata sungai Oya di wilayah Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul ditutup sementara. Penutupan ini merupakan imbas dari tenggelamnya dua remaja hingga meninggal dunia di sungai Oya saat sedang bermain air. Dua peristiwa nahas tersebut terjadi dalam sepekan terakhir.
Ketiga destinasi wisata air yang ditutup sementara tersebut adalah Selopamioro Adventure Park di Kalurahan Selopamioro. Kemudian Srikeminut di Kalurahan Sriharjo dan Kedung Parangan di Kalurahan Selopamioro.
Panewu Imogiri, Slamet Santosa, mengatakan berdasarkan kesepakatan yang melibatkan pengelola, pemangku wilayah, Polsek Imogiri, SAR Bantul, Dinas Pariwisata Bantul dan sejumlah pihak lainnya, telah disepakati penutupan ketiga tempat wisata yang terletak di kali Oya tersebut.
“Itu menyikapi kejadian laka sungai dalam waktu ga ada satu minggu ini. Senin kemaren sudah kami beri pembinaan ke sana untuk antisipasi supaya tidak terjadi lagi. Tapi malah terjadi lagi. Maka disepakati kita tutup dulu untuk wisata airnya,” katanya, Rabu (30/8/2023).
BACA JUGA: Kembali Makan Korban Jiwa, Wisata Sungai Oya di Imogiri Ditutup
Walau hanya terjadi di Selopamioro Adveture Park, dua lokasi wisata air lainnya juga ditutup karena sama-sama berada di kali Oya yang memiliki kedung di beberapa titik. Kondisi ini yang membahayakan wisatawan jika tidak dilengkapi dengan SOP keamanan yang memadahi.
“Sifat kali Oya banyak kedungnya. Walau airnya sedikit kalau kemarau, tapia ada tempat-tempat yang merupakan kedung, di situ ada pusaran, orang bisa kesedot. Kalau panik orang cenderung ingin naik, energi terkuras. Kali Oya secara umum dangkal, tapi di kedungnya ada kalau 11-15 meter,” kata dia.
Menyikapi kondisi itu, pengelola wisata sungai harus benar-benar memperhatikan SOP keamanan seperti menyediakan pelampung, ban bekas dengan tali, petugas yang bisa melakukan penyelamatan air dan sebagainya untuk memastikan keselamatan pengunjung.
Wisata-wisata sungai tersebut menurutnya dikelola oleh kelompok wisata masyarakat setempat. Namun, pengelolaan itu masih belum jelas strukturnya dan beberapa belum terdaftar di Dinas Pariwisata Bantul. “Maka kami minta didaftarkan, dilengkapi pengurusnya, sarana-prasarana dan personel yang mampu water rescue,” paparnya.
Ia menegaskan yang ditutup adalah wisata airnya. Adapun aktivitas ekonomi yang berlangsung di sekitar lokasi tersebut masih bisa dilakukan. “Untuk kuliner, camping, outbond, senam dan kegiatan lain masih bisa asal tidak turun ke air,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Setelah Maulid Nabi 25 Agustus 2026, libur berikutnya baru Natal. Simak jadwal cuti bersama dan peluang libur empat hari.
Baterai iPhone cepat habis? Simak 15 cara menghemat daya mulai dari Mode Daya Rendah hingga mengatur aplikasi dan jaringan.
Tukang becak di Kulonprogo jadi desil 9, anaknya kuliah di UNY dan kesulitan mengakses bantuan pendidikan karena perubahan data.
Thailand wajib menang minimal tiga gol atas Vietnam pada final leg kedua Piala AFF 2026 untuk membalikkan agregat dan merebut gelar.
Ghost in the Cell karya Joko Anwar dikaitkan warganet dengan karhutla Kalimantan yang mencapai 750 hotspot pada 17–19 Agustus 2026.