Lurah se-DIY Diperkuat, Sultan Minta Dana Desa Bebas Korupsi
Sultan HB X tekankan transparansi dan akuntabilitas dana kalurahan di Jogja. Lurah diminta cegah korupsi dan tingkatkan kesejahteraan.
Kedelai - Antara
Harianjogja.com, BANTUL—Produksi kedelai di Bantul selama ini belum maksimal. Hanya sebagian kecil petani yang masih mau menanam kedelai. Merespon hal ini, saat ini di Bantul sedang dikembangkan varietas kedelai Kinclong.
Pengembangan kedelai Kinclong dilakukan di lahan tadah hujan di kapanewon Imogiri dan Dlingo. “Sekarang sudah menanam, di Dlingo setengah hektare, di Imogiri setengah hektare. Harapan kami nanti produksinya untuk tanam menyediakan bibit lahan bawah,” ujarnya Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul, Joko Waluyo, Sabtu (16/12/2023).
Dengan penanaman November-Desember, diperkirakan para petani akan mulai panen pada Maret-April 2024. “Nah nanti untuk menanam Mei, karena kedelai tidak bisa tahan lama. Setelah panen paling lama empat bulan harus untuk benih,” katanya.
Ia mengakui memang minat para petani untuk menanam kedelai menurun karena produksi yang belum maksimal. Meski demikian, ia mengklaim produksi kedelai Bantul sebenarnya masih lebih besar dari rata-rata nasional.
“Kedelai Bantul sudah sampai 2,4-2,6 ton per hektare. Kalau rata-rata nasional 1,6 ton per hektare. Namun di kita itu jaminan harga panen yang belum stabil. Padahal kedelai impor dibanding kedelai kita, menang kedelai kita kualitasnya,” paparnya.
BACA JUGA: Hujan Deras Berhari-hari, Produktivitas Kedelai di Bantul Drop hingga 450 Ton
Bantul saat ini sudah menggandeng PT. JAP yang berafiliasi dengan Nestle, untuk menyerap hasil produksi kedelai Bantul. “Kita kedepan menggerakkan daerah-daerah yang sering menanam kedelai seperti Imogiti, Jetis, Pandak, Bambanglipuro dan Dlingo,” ungkapnya.
Kedelai Kinclong diharapkan bisa menjadi ciri khas kedelai Bantul, dengan ciri-ciri yang mirip seperti kedelai produksi Grobokan. “Bantul dulu punya kedelai asli yang rasanya lebih gurih. Itu tahun 80-an, kita kan pernah swasembada kedelai 1982. Dulu untuk tempe yang pakai daun,” kata dia.
Persoalan lain dalam produksi kedelai yakni sulitnya pertumbuhan benih. Maka kualitas benih perlu sangat diperhatikan. “Kadangkala petani menenam, tidak tumbuh terus kapok. Mau menanam bibitnya tidak ada,” katanya.
Maka penanaman setengah hectare di dua lokasi saat ini benar-benar disiapkan untuk perbenihan. Menurutnya, permintaan kedelai di Bantul cukup besar. “Permintaan kedelai cukup besar untuk industri UMKM tahu maupun tempe,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sultan HB X tekankan transparansi dan akuntabilitas dana kalurahan di Jogja. Lurah diminta cegah korupsi dan tingkatkan kesejahteraan.
Gempa M7,1 di Jepang diduga berkaitan dengan sesar yang belum retak sejak gempa besar 2016. Ahli ungkap potensi gempa susulan.
KPK menahan anggota DPRD Jatim Moch Mahrus terkait dugaan suap dana hibah pokmas kepada Anwar Sadad.
PSIM Jogja masih mengevaluasi masa depan Nermin Haljeta jelang Super League 2026/2027, sementara Franco Ramos dipastikan bertahan.
BBPOM Yogyakarta mempercepat penerbitan NIE bagi UMKM pangan olahan agar produk lokal Jogja aman, bermutu, dan mampu bersaing.
Wapres Gibran bertemu Hun Many membahas reformasi birokrasi, olahraga, serta penanganan TPPO terkait penipuan daring.