Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Kedelai - Antara
Harianjogja.com, BANTUL—Produksi kedelai di Bantul selama ini belum maksimal. Hanya sebagian kecil petani yang masih mau menanam kedelai. Merespon hal ini, saat ini di Bantul sedang dikembangkan varietas kedelai Kinclong.
Pengembangan kedelai Kinclong dilakukan di lahan tadah hujan di kapanewon Imogiri dan Dlingo. “Sekarang sudah menanam, di Dlingo setengah hektare, di Imogiri setengah hektare. Harapan kami nanti produksinya untuk tanam menyediakan bibit lahan bawah,” ujarnya Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul, Joko Waluyo, Sabtu (16/12/2023).
Dengan penanaman November-Desember, diperkirakan para petani akan mulai panen pada Maret-April 2024. “Nah nanti untuk menanam Mei, karena kedelai tidak bisa tahan lama. Setelah panen paling lama empat bulan harus untuk benih,” katanya.
Ia mengakui memang minat para petani untuk menanam kedelai menurun karena produksi yang belum maksimal. Meski demikian, ia mengklaim produksi kedelai Bantul sebenarnya masih lebih besar dari rata-rata nasional.
“Kedelai Bantul sudah sampai 2,4-2,6 ton per hektare. Kalau rata-rata nasional 1,6 ton per hektare. Namun di kita itu jaminan harga panen yang belum stabil. Padahal kedelai impor dibanding kedelai kita, menang kedelai kita kualitasnya,” paparnya.
BACA JUGA: Hujan Deras Berhari-hari, Produktivitas Kedelai di Bantul Drop hingga 450 Ton
Bantul saat ini sudah menggandeng PT. JAP yang berafiliasi dengan Nestle, untuk menyerap hasil produksi kedelai Bantul. “Kita kedepan menggerakkan daerah-daerah yang sering menanam kedelai seperti Imogiti, Jetis, Pandak, Bambanglipuro dan Dlingo,” ungkapnya.
Kedelai Kinclong diharapkan bisa menjadi ciri khas kedelai Bantul, dengan ciri-ciri yang mirip seperti kedelai produksi Grobokan. “Bantul dulu punya kedelai asli yang rasanya lebih gurih. Itu tahun 80-an, kita kan pernah swasembada kedelai 1982. Dulu untuk tempe yang pakai daun,” kata dia.
Persoalan lain dalam produksi kedelai yakni sulitnya pertumbuhan benih. Maka kualitas benih perlu sangat diperhatikan. “Kadangkala petani menenam, tidak tumbuh terus kapok. Mau menanam bibitnya tidak ada,” katanya.
Maka penanaman setengah hectare di dua lokasi saat ini benar-benar disiapkan untuk perbenihan. Menurutnya, permintaan kedelai di Bantul cukup besar. “Permintaan kedelai cukup besar untuk industri UMKM tahu maupun tempe,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Pelindo menargetkan penataan 17 entitas melalui merger, konsolidasi, divestasi dan likuidasi hingga jumlah entitas menjadi 21
KAI merespons penetapan tersangka masinis Argo Bromo Anggrek dan menindaklanjuti enam rekomendasi keselamatan dari KNKT.
Bulog mengubah pola pengelolaan stok beras SPHP dari FIFO menjadi formula mixing 2-3-4 untuk menjaga mutu beras yang disalurkan.
Bus wisata Taman Pintar tak lagi parkir di TKP Senopati. Pemkot Jogja menyiapkan drop zone di Sriwedani untuk memudahkan rombongan.
Kemenkop mengakui ada manajer Kopdes yang mundur karena penempatan jauh. Sekitar 1.900 manajer ditempatkan lintas provinsi.