Profil Guruh Soekarnoputra dan Perjalanan Kariernya, Wafat di Usia 73 Tahun
Guruh Soekarnoputra wafat di usia 73 tahun. Simak profil, pendidikan, perjalanan seni, penghargaan, hingga kiprahnya di DPR.
Penanaman sorgum sebagai pengganti beras terus diperluas di wilayah lereng Merapi, Sleman. Penanaman dilakukan di Ngemplak dilakukan pada Kamis (2/5/2024). /Istimewa.
Harianjogja.com, SLEMAN—Penanaman sorgum sebagai pengganti beras terus diperluas di wilayah lereng Merapi, Sleman. Penanaman dilakukan di Ngemplak dilakukan pada Kamis (2/5/2024).
Ketua Forum Adat dan Tradisi Budaya Kapanewon Cangkringan mengatakan perluasan budidaya sorgum di Kecamatan Ngemplak melalui koordinasi dengan dinas terkait. Perluasan penanaman itu murni karena banyak petani yang memiliki minat untuk melakukan budidaya di lahan masing-masing.
"Awalnya kami menanam di Cangkringan, kemudian ada beberapa permintaan kami menambah di Ngemplak, selain itu masih ada kelompok tani yang berminat, salah satunya di Boyolali, tetapi kami masih fokus sekitar sini," katanya Kamis.
BACA JUGA : Prevalensi Diabetes di Flores Turun, BRIN Teliti Sorgum yang Jadi Pangan Utamanya
Ia berharap para petani secara perlahan menyadari bahwa sorgum memiliki nilai yang lebih dibandingkan komoditas serupa lainnya seperti padi. Selain bergizi tinggi, sorgum juga mudah dijual karena tingginya permintaan sebagai pengganti beras.
"Tentu kami berharap agar sorgum ini menjadi harapan baru bagi petani di lereng merapi dan DIY pada umumnya," katanya.
Meski demikian Sukapdi mengatakan khusus untuk penanaman awal di Cangkringan dan Ngemplak untuk sementara bukan untuk kebutuhan konsumsi, melainkan untuk pasokan bibit. Mengingat tingginya permintaan masyarakat untuk menanam sorgum namun jumlah bibit masih minim.
"Jadi yang ditanam ini label putih untuk pembibitan, sebenarnya bisa saja dikonsumsi. Tetapi kalau label putih ini kita kemas dijual untuk konsumsi, pasokan bibit berkurang. Saat ini kami belum bisa memenuhi stok bibit karena tingginya permintaan," katanya.
Penjabat Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY mengapresiasi komunitas masyarakat yang menanam sorgum. Menurutnya sorgum menjadi salah satu alternatif pengganti beras yang memiliki nutrisi baik dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang harus mengurangi konsumsi karbohidrat.
Selain itu sorgum mudah ditanam, seperti cukup ditanam di lahan marjinal yang selama ini kurang dimaksimalkan untuk budidaya. "Potensinya cukup besar untuk DIY, karena banyak lahan yang bisa dimanfaatkan, mungkin Kulonprogo dan Gunungkidul atau dataran tinggi lainnya bisa juga dilakukan penanaman, karena realtif mudah," katanya.
Ketua Sorgum Sejahtera Foundation Moh Rifai mengatakan tidak hanya dari panen sorgum saja bisa menghasilkan dari sisi ekonomi. Di wilayah Sleman, ia melakukan pengolahan sampah dari sorgum menjadi potensi pupuk organik yang sangat menyuburkan. Dari sisi harga, sorgum per kilogramnya jauh lebih mahal dibandingkan beras.
"Sorgum ini di platform online bisa tembus senilai Rp80.000 per kilogram, untuk organik. Ke depan kami mendorong kepada dinas atau BUMN terkait untuk bisa bekerja sama agar panen ini bisa dibeli," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Guruh Soekarnoputra wafat di usia 73 tahun. Simak profil, pendidikan, perjalanan seni, penghargaan, hingga kiprahnya di DPR.
DPRD Jateng menerima informasi 19 titik pengeboran geotermal dan meminta ESDM serta PLN menemui warga di sekitar Gunung Ungaran.
Polda Banten membongkar sindikat penyalahgunaan solar subsidi di Serang. Polisi menyita 1.000 liter solar dan menetapkan dua tersangka.
Pura Jagat Natha resmi berdiri di kawasan Alun-alun Kota Magelang. Kehadirannya melengkapi rumah ibadah lintas agama di kawasan tersebut.
ASDP menjelaskan antrean panjang di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk dipicu aksi pengemudi truk. Antrean di sisi Jawa mencapai 8 km.
Hasil Pilur PAW Sleman 2026 di lima kalurahan. Andi Suwarno hingga Totok Jaka Suwarta meraih suara terbanyak.