Serapan Pupuk Bersubsidi di DIY Tembus 90 Persen
Realisasi penebusan pupuk bersubsidi di DIY disebut mencapai 90% dari total alokasi tahun ini sebesar 75.049 ton.
Ilustrasi petasan./JIBI
Harianjogja.com, JOGJA—Jogja Police Watch (JPW) mendesak kepolisian untuk segera mengungkap pelaku teror yang terjadi di SMKN 3 Jetis. Pasalnya teror ini bukan kali pertama karena tahun sebelumnya peristiwa serupa juga pernah terjadi.
Sebagaimana diketahui teror pelemparan diduga petasan dan botol minuman keras terjadi di SMKN 3 Jetis pada kamis (16/5/2024) siang. Menurut JPW teros itu sangat meresahkan karena terus terulang.
Kepala Divisi Humas JPW, Baharuddin Kamba mencatat teror itu bukan pertama kalinya. Pada pertengahan bulan Mei tahun 2013 silam sekelompok remaja melakukan teror di pos jaga milik SMKN 3 Jogja dengan melemparkan bom molotov. Atas peristiwa tersebut seorang polisi dari Polsek Jetis Kota Jogja Bripka Sudarmaji mengalami luka bakar di tangan kiri karena terkena percikan api dalam peristiwa itu.
Penjaga sekolah juga turut mengalami luka. Sementara ada empat orang ditetapkan sebagai tersangka. Motif dari peristiwa pelemparan bom molotov diduga karena dendam lama antar geng motor.
Sementara pada pertengahan September 2015 dua orang tak dikenal melakukan aksi pelemparan bom molotov kembali terjadi di pos jaga di SMK N 3 Jogja . Akibat aksi tersebut pintu bangunan sekolah yang berada dilokasi sempat hangus. Saat itu Polresta Yogyakarta menangkap puluhan remaja yang diduga terlibat aksi pelemparan bom molotov di SMKN 3 Jogja.
Pada pertengahan bulan Mei 2024 ini aksi teror kembali menimpa SMKN 3 Jogja. Kali ini halaman SMKN 3 Jogja diduga dilempari petasan oleh sejumlah orang tidak dikenal yang menggunakan sejumlah sepeda motor.
"Peristiwa ini menambah daftar aksi teror terhadap pihak SMKN 3 Yogyakarta. JPW mendesak pihak kepolisian untuk segera menangkap pelaku dan mengungkap motif dari aksi pelemparan yang diduga petasan tersebut," kata kamba, dalam keterangan resminya, Jumat (17/5/2024)
Aksi-aksi semacam ini jelas merugikan pihak sekolah, merusak citra Jogja sebagai Kota Pelajar dan membuat resah masyarakat Yogyakakarta saat melakukan aktivitas.
Pihak terkait seperti Disdikpora DIY, pihak sekolah, pihak kepolisian serta pemangku kebijakan segera bertemu untuk mencari akar masalah dan mencari solusi bersama agar peristiwa serupa tidak terjadi kembali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Rumor kerja sama Apple dan Intel untuk produksi chip di AS memicu lonjakan saham Intel hingga 10 persen.
Ferrari Luce EV menuai kontroversi global namun laris di Thailand meski desainnya dikritik keras.
Beiranvand tampil heroik saat Iran tahan Belgia di Piala Dunia 2026, catat tujuh penyelamatan dan rekor lemparan terjauh dunia.
Psikolog ungkap 10 tanda ketidakmatangan emosional, mulai dari mudah marah hingga sulit mengakui kesalahan.
Pendekatan dalam menanamkan nilai-nilai ideologi bangsa kepada generasi muda memerlukan terobosan baru