TN Kutai Prioritaskan Perlindungan 6 Flora Langka Khas Kalimantan
Taman Nasional Kutai menjaga enam flora penting Kalimantan, mulai ulin, pasak bumi, meranti hingga anggrek hitam demi kelestarian ekosistem.
Pemandangan pesawat terbang dari spot objek wisata Glagah, Senin (11/4/2022)./Harian Jogja-Hafit Yudi Suprobo
Harianjogja.com, KUNLONPROGO— Pemerintah Kabupaten Kulonprogo tengah mengidentifikasi sejumlah bangunan liar semi permanen di jalur sabuk hijau dari Pantai Glagah-Congot atau di selatan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) supaya tidak menimbulkan konflik sosial di kemudian hari.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kulonprogo Triyono di Kulonprogo, Kamis (5/6/2024), mengatakan dirinya sudah meminta Dinas Pariwisata setempat melakukan identifikasi pemilik bangunan.
"Kami sudah mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membangun bangunan baru, begitu juga pemerintah kalurahan sudah mengingatkan warganya, tapi ada yang tetap membangun," kata Triyono.
Ia mengatakan Pemkab Kulon Progo telah menyediakan Kawasan Plaza Kuliner Glagah dan suvenir. Lokasi tersebut diperuntukkan bagi pedagang yang ada di kawasan pemecah ombak dan laguna di Glagah.
Selain itu, Pemkab Kulon Progo melalui Dinas Pariwisata sudah mengidentifikasi pedagang yang ada di kawasan pemecah ombak dan laguna di Glagah.
Ketika mereka akan dipindah, justru pindah di jalan baru Pantai Glagah-Congot.
"Kemungkinan besar mereka yang membangun bangunan liar adalah mereka yang berjualan di kawasan pemecah ombak dan laguna," kata Triyono.
BACA JUGA: Pantai Glagah dan Congot Perlu Dihias Agar Terlihat Indah dari Atas Bandara YIA
Ia mengatakan Plaza Kuliner Glagah dan suvenir belum bisa menampung semua pedagang di kawasan pemecah ombak dan laguna yang mencapai lebih dari 300 pedagang.
"Kalau pemilik bangunan liar sama dengan pemilik kios di kawasan pemecah ombak dan laguna tetap dipindah, tapi tidak bisa memiliki dua lokasi," katanya.
Sebelumnya, Wakil Ketua I DPRD Kulon Progo Muhtarom Asrori meminta Dinas Pariwisata setempat menyulap Pantai Congot dan Glagah menjadi wisata yang mercusuar, sejalan dengan adanya rencana wisata kuliner malam di Plasa Kuliner Glagah.
Muhtarom mengatakan keberadaan YIA di Temon dan telah berdirinya banyaknya hotel, tidak hanya Dinas Pariwisata untuk menyulap Glagah dan Congot .
Untuk menyulap agar kelihatan mencolok maka bisa meniru Kota Madiun yang menyulap Kota Madiun menjadi wisata malam dengan lampu warna warni yang terang benderang.
"Ini juga bisa ditiru di area Plasa Kuliner Glagah sampai Congot, sepanjang tidak mengganggu penerbangan," kata Muhtarom.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Taman Nasional Kutai menjaga enam flora penting Kalimantan, mulai ulin, pasak bumi, meranti hingga anggrek hitam demi kelestarian ekosistem.
Menteri Ekraf menyebut Jogja jadi panutan ekonomi kreatif nasional berkat kekuatan budaya, inovasi, dan SDM unggul.
Muhammadiyah dorong transformasi layanan sosial berbasis komunitas untuk menjawab masalah kesejahteraan yang makin kompleks.
Timnas U19 Indonesia finis peringkat ketiga AFF U19 2026 usai kalahkan Kamboja 1-0. Ini evaluasi dan susunan pemainnya.
UGM memastikan api misterius di Seyegan bukan dari gas alam, melainkan terkait resin PVC yang mudah terbakar.
Kebiasaan mengetik dan main gadget berlebihan bisa picu cedera tangan. Kenali gejala dan cara mencegahnya sejak dini.