Advertisement

Ribuan Akademisi Dunia Berkumpul di UGM, Bahas Isu Lingkungan Hidup Hingga Inklusivitas

Catur Dwi Janati
Selasa, 09 Juli 2024 - 15:57 WIB
Abdul Hamied Razak
Ribuan Akademisi Dunia Berkumpul di UGM, Bahas Isu Lingkungan Hidup Hingga Inklusivitas Suasana pembukaan konferensi Association for Asian Studies (AAS)-in-Asia di UGM pada Selasa (9/7/2024). - Istimewa // UGM

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Ribuan peneliti dan akademisi dunia berkumpul di UGM untuk menghadiri konferensi konferensi international Association for Asian Studies (AAS)-in-Asia, Selasa (9/7/2024).

Konferensi yang digelar 9-11 Juli tersebut mengangkat tajuk Global Asias : Latent Histories, Manifest Impacts inj akan membahas isu keimigrasian, lingkungan hidup dan berbagai isu lainnya.

Advertisement

President of the Association for Asian Studies (AAS), Hyaeweol Choi dari University of Iowa Amerika Serikat mengungkapkan dipilihnya UGM sebagai tuan rumah karena Indonesia secara umum adalah lokasi yang sangat strategis untuk studi di Asia.

BACA JUGA: Sultan Berharap ITF Bawuran Pleret Bantul Kelola Sampah Menjadi Bahan Baku Industri di DIY

Ditambah Jogja dinilai Choi merupakan kota pendidikan yang menjadi tempat produksi dan distribusi ilmu pengetahuan baru. "Bagi saya sangat masuk akal untuk menyelenggarakan konferensi di sini, di pusat komunitas intelektual yang dinamis, jadi menurut saya ini adalah pilihan yang tepat," ujar Choi pada Selasa (9/7/2024). 

Choi menegaskan konferensi AAS in Asia merupakan wadah yang penting bagi para sarjana di Asia dan negara lain untuk bergabung dalam berbagi pengetahuan terbaru dan mutakhir. Forum ini menjadi wadah untuk memikirkan masa depan dunia yang harmonis dan hidup berdampingan secara lebih berkelanjutan.

"Jadi kita semua yang terpelajar di sini, kita semua membahas semua permasalahan kontemporer berdasarkan agenda sejarah dan kontemporer," tegasnya.

Sebelum konferensi, proposal para panelis dan pembicara menjalani seleksi yang ketat. Choi terkesan dengan hasil penelitian mutakhir dari sejumlah proposal yang dikirimkan.

Dalam banyak hal, struktur akademis yang berpusat di Amerika Utara disebut Choi akan berubah karena Asia telah menjadi komunitas intelektual yang sedang berkembang namun juga sangat dinamis.

"Menurut saya, konferensi ini akan menjadi salah satu contoh mengapa kami mengadakan konferensi ini di Asia, agar konferensi lebih mudah diakses oleh para sarjana di Asia," lanjutnya.

BACA JUGA: Masalah Sampah Bisa Berdampak ke Sektor Wisata, Ini Penjelasan GIPI DIY

Sementra itu Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro selaku ketua penyelenggara menuturkan bahwa selama tiga hari para peneliti dan akademisi yang terlibat dalam konferensi ini akan berbicara tentang isu keimigrasian, lingkungan hidup, mobilitas dan perbatasan yang merupakan isu-isu terkini di bidang sosial humaniora.

"Termasuk isu-isu soal disabilitas dan inklusivitas yang sebenarnya relevan dengan apa yang dilakukan UGM sekarang ini," ujarnya. 

Total sebanyak lebih dari 1.500 akademisi, mahasiswa, seniman, dan praktisi dari 43 negara akan mengikuti konferensi internasional ini. Peserta dari 43 negara tersebut di antaranya berasal dari Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Kanada, Jerman, Belanda, Inggris, Korea Selatan, dan Australia.

Rektor UGM Prof, Ova Emilia menyebut UGM menjadi institusi Indonesia pertama yang menjadi tuan rumah Konferensi AAS di Asia. Menurut Ova, keberadaan UGM berlokasi di bagian strategis Asia sangat diuntungkan karena Asia adalah rumah bagi peradaban paling awal di dunia.

Budaya yang ada di Asia dinilai Ova merupakan sumber dari banyak praktik yang telah menjadi bagian integral masyarakat selama berabad-abad, seperti pertanian, perencanaan kota, dan agama. Bahkan aspek beografi sosial dan politik benua Asia juga disebut Ova terus mempengaruhi seluruh dunia.

Sebagai salah satu kawasan paling dinamis di dunia, sejarah mencatat bahwa Asia telah menjadi tempat persaingan strategis yang ketat antar negara-negara besar. "Saat ini, persoalan kolonialisme mungkin sudah jauh tertinggal dari kita. Namun, abad kedua puluh satu telah membawa permasalahan kontemporer yang tidak pernah dibayangkan oleh nenek moyang kita. Eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran demi pertumbuhan ekonomi telah membahayakan bumi" kata Ova.

Sementara itu dari sudut pandang yang lain, perubahan iklim semakin nyata terjadi dalam beragam bentuk. Mulai dari suhu global dan kenaikan permukaan air laut, belum lagi erosi pantai, gelombang badai yang lebih tinggi, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Ketidakseimbangan alam tersebut kata Ova dapat memicu efek bola salju pada seluruh aspek kehidupan, kesehatan, pendidikan, kemiskinan, dan seluruh aspek lain yang dinyatakan sebagai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Dari beragam kondisi yang ada, konferensi AAS di Asia disebut Ova memainkan peran penting dalam menghubungkan para sarjana dengan keprihatinan bersama. Meskipun semua akademisi tidak diragukan lagi adalah tokoh terkemuka di bidangnya, namun konferensi ini menyediakan platform untuk menyatukan berbagai disiplin ilmu dan sudut pandang untuk mencapai pendekatan komprehensif guna mencapai kemajuan umat manusia. 

"Kami berharap suasana budaya Yogyakarta menginspirasi para peserta konferensi untuk memperkuat komitmen mereka untuk bergandengan tangan, memperkuat dampak kerja kami menuju kehidupan berkelanjutan," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Momen Haru di Bandara Saat Presiden Tenangkan Keluarga Prajurit

Momen Haru di Bandara Saat Presiden Tenangkan Keluarga Prajurit

News
| Sabtu, 04 April 2026, 20:57 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement