Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Sejumlah pengendara melewati simpang empat jalan Mangkuyudan, Mantrijeron, yang sudah dipasang speedbump alias polisi tidur, Jumat (14/2/2025)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Kecelakaan lalu lintas masih sering terjadi di simpang empat Jalan Mangkuyudan-Jalan Mantrijeron, Kelurahan Mantrijeron, Kemantren Mantrijeron, Kota Jogja. Warga pun memasang speedbump atau polisi tidur untuk meminimalkan kecelakaan.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Mantrijeron, Eko Teguh Bagiyono, menjelaskan pemasangan polisi tidur tersebut dilatarbelakangi banyaknya kecelakaan di simpang empat tersebut, meski sudah diberi water barrier oleh Dinas Perhubungan Kota Jogja.
“Latar belakang pemasangan speedbumd karena sebelumnya dalam satu minggu sudah terjadi tiga kali kecelakaan. Atas arahan pak Mantri Pamong Praja Mantrijeron, diserahkan ke LPMK untuk pasang speedbumd dengan dana bantuan CSR [Corporate Social Responsibility],” ujarnya, Jumat (14/2/2025).
BACA JUGA: Menteri Keuangan Tegaskan Tidak Ada Kenaikan Biaya Kuliah Dampak Efisiensi Anggaran
Polisi tidur diperlukan karena banyak kecelakaan yang terjadi disebabkan oleh perilaku pengguna jalan yang melaju dengan kecepatan tinggi saat melewati simpang tersebut. “Karena jalannya mulus. Waktu pemasangan speedbump juga masih banyak yang ngebut,” ungkapnya.
Polisi tidur yang sudah terpasang saat ini baru dua saf dari tiga saf yang ditargetkan. Adapun CSR yang dilibatkan dalam pemasangannya yakni hotel yang ada di sekitar Kelurahan Mantrijeron , Percetakan 4K Jokem dan lainnya, termasuk Masjid Jogokaryan.
Simpang empat tersebut menurutnya memang sudah rawan kecelakaan dari dulu. Sebelum pemasangan polisi tidur dan water barrier, kecelakaan sudah sering terjadi. “Sering kecelakaan, makanya trus kita hubungi Dinas Perhubungan, lalu dipasang water barrier. Itupun masih banyak kecelakaan,” ungkapnya.
Sebelumnya, Kepala Bidang Angkutan Jalan dan Keselamatan Lalu Lintas Dishub Kota Jogja, Harry Purwanto, menuturkan water barrier dipasang atas usulan warga, karena sebelumnya sering terjadi kecelakaan lalu lintas.
“Awalnya dipasang rambu dan markah, kemudian ditambah lampu jalan dan CCTV. Tapi ternyata meski ada rambu dan markah, kecelakaan masih sering terjadi,” katanya.
Water barrier yang dipasang berfungsi untuk menghindari terjadinya crossing langsung dari pengendara di sisi Jalan Mantrijeron yang hendak menyeberangi Jalan Mangkuyudan. Namun setelah dipasang water barrier, ternyata masih tetap ada kecelakaan. Bedanya, kecelakaan terjadi kebanyakan karena pengendara menabrak water barrier, bukan kendaraan dengan kendaraan.
Pemasangan APPIL tidak bisa diterapkan di lokasi tersebut karena jarak antar simpang terlalu dekat sehingga justru menimbulkan kemacetan. Maka solusi dari Dinas Perhubungan Kota Jogja waktu itu memberi reflector pada water barrier. Kini kecelakaan diharapkan bisa diminalkan dengan adanya polisi tidur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
MK menggelar sidang lanjutan uji materi KUHP Baru. Pasal penghinaan presiden hingga pidana zina menjadi sorotan.
Wisatawan di Jogja masih terpusat di Malioboro. Dinpar Kota Jogja dorong kunjungan kampung wisata lewat Program Bule Mengajar.
Atletico Madrid menang 1-0 atas Girona di Liga Spanyol 2025/2026. Ademola Lookman mencetak gol kemenangan Los Colchoneros.
Prabowo menyerahkan alutsista TNI di Halim Perdanakusuma. Enam jet tempur Rafale jadi sorotan modernisasi TNI AU.
Alex Marquez mengalami patah tulang selangka dan retak leher usai kecelakaan hebat di MotoGP Catalunya 2026.