Pemuda Mabuk Bawa Celurit di Jalan Palagan Sleman Diamankan Polisi
Pemuda mabuk bawa celurit di Palagan Sleman diamankan polisi. Aksi tersebut sempat meresahkan warga Ngaglik.
Siswa Kelas 2 SDN Sinduadi Timur, Dhamar dan Bilal, sedang sedang menikmati makanan program Makan Bergizi Gratis yang digelar di Kalurahan Sinduadi, Depok, Sleman, Senin (13/1/2025). - Harian Jogja/Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, SLEMAN—Pakar Gizi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Toto Sudargo menyatakan program MBG layak didukung. Alasannya, MBG berpotensi untuk mengatasi masalah stunting, dengan catatan dilaksanakan dengan tepat sasaran dan profesional.
Meski tak menampik masih memiliki sejumlah kekurangan dalam penyelenggaraannya, Toto menjelaskan bahwa salah satu kunci efektivitas MBG adalah penargetan yang spesifik, utamanya kepada kelompok yang paling membutuhkan. Beberapa kelompok itu seperti ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, dan remaja putri.
BACA JUGA: SMKN 4 Jogja Bantah Tolak MBG
Bagi Toto penting juga memberikan gizi yang cukup bagi remaja putri agar kelak menjadi ibu yang sehat dan tidak anemia.
"Kalau remaja putri bisa ditargetkan di sekolah, sedangkan untuk kelompok ibu hamil dan menyusui bisa melalui kerja sama dengan posyandu," kata Toto dalam rilis tertulis pada Selasa (6/5/2025).
Tak sampai di situ, Toto berpandangan bila MBG harus menyumbang minimal sepertiga dari kebutuhan gizi harian. Terutama menyumbang kebutuhan protein sebagai faktor pertumbuhan utama.
"Protein adalah growth factor. Itu yang paling utama karena selama ini yang tercukupi hanya karbohidrat," tegasnya.
Toto mengatakan keberhasilan program ini tidak hanya tergantung pada jumlah makanan yang diberikan, tetapi juga kualitas dan daya terima anak-anak terhadap makanan tersebut. "MBG itu jangan melihat volumenya, tapi kualitasnya. Sedikit tapi habis lebih baik daripada banyak tapi sisa," tandasnya.
Karena itu untuk menyiasati kebiasaan makan anak-anak yang cenderung pemilih, Toto menyarankan agar menu MBG dibuat menarik dan sesuai tren. Caranya kata Toto bisa dilakukan membuat porsi yang kecil-kecil tapi enak, misalnya bola-bola daging atau makanan kekinian lainnya yang disukai anak-anak.
Selain itu yang tak kalah pentingnya jika ingin program MBG ini efektif, Toto menekankan pentingnya pelibatan ahli gizi dalam setiap lini perencanaan dan pelaksanaan. Toto juga mendorong pendekatan desentralisasi hingga ke tingkat desa agar pengawasan dan pelaksanaan lebih optimal.
"Jangan menggunakan orang yang bukan ahli gizi karena tidak tahu bagaimana menyusun menu dari bahan mentah sampai ke mulut konsumen," lanjut Toto.
Di akhir Toto menyampaikan harapan besarnya terhadap masa depan program MBG. "Mimpi saya, insyaAllah ini bisa terus dievaluasi dan disempurnakan. Jangan langsung dicaci, tapi beri waktu setahun, dua tahun. Jika konsisten, kita bisa menyiapkan generasi yang sehat," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemuda mabuk bawa celurit di Palagan Sleman diamankan polisi. Aksi tersebut sempat meresahkan warga Ngaglik.
BYD Atto 3 generasi ketiga resmi meluncur dengan RWD, cas 5 menit hingga 70 persen, dan jarak tempuh sampai 630 km.
Pemerintah memastikan pemulangan sembilan WNI relawan Gaza usai dibebaskan dari penahanan Israel dan tiba di Turkiye.
Alex Marquez resmi absen di MotoGP Italia dan Hungaria 2026 usai mengalami cedera patah tulang selangka dan vertebra saat balapan di Catalunya.
Cristiano Ronaldo membawa Al Nassr juara Liga Arab Saudi usai mencetak dua gol saat menang 4-1 atas Damac.
Sultan HB X ingin RTH eks Parkir ABA Jogja jadi taman bunga nyaman, bukan hutan kota. Penataan dimulai dengan anggaran 2026.